MANINJAU, KLIKPOSITIF – Kuliner dari Danau Maninjau sungguh menggoda untuk dicicipi, salah satunya gulai asam rinuak. Tak lengkap rasanya kalau tidak mencoba kuliner campuran asam durian dan ikan endemik Danau Maninjau ini.
Berbeda dengan gulai kebanyakan, gulai asam rinuak berkuah agak kental dan berwarna kemerahan. Kental tersebut karena pengaruh asam durian atau yang biasa disebut tempoyak bercampur cabai merah.
Aroma durian sangat terasa saat hidangan ini dicicipi di meja makan. Rasa khas manis keasaman membuat selera makan semakin bertambah. Kadang, gulai asam rinuak dicampur dengan kacang panjang.
Gulai asam rinuak ini seringkali dihidangkan saat santap makan keluarga, warga Maninjau akan menjamu tamu yang lama di rantau.
Rinuak merupakan ikan endemik di Danau Maninjau dengan nama ilmiah Psilopsis sp yang diklasifikasikan ke dalam kelas Pisces (ikan). Bentuk ikan rinuak sekilas mirip teri medan.
Rinuak biasanya diolah menjadi berbagai macam dan makanan kudapan, seperti palai, kripik dan pargede. Ukurannya sangat mini berkisar 2-3 cm dan memiliki warna badan pucat kekuning-kuningan dan relatif transparan.
Tekstur dagingnya lunak dan tidak berserat. Jika dikukus akan menjadikan ikan rinuak berwarna putih, sementara jika diblender akan berubah warna menjadi kehitaman.
Sedangkan tempoyak merupakan bumbu asli Indonesia. Dibuat dari durian yang difermentasi sehingga aromanya menyengat dengan cita rasa khas.
Bahan utama tempoyak adalah durian masak pohon atau durian yang agak berair. Daging buah durian perlu dihaluskan dan diberi garam agar proses fermentasinya lebih cepat. Adonan lalu dimasukkan dalam stoples rapat dan didiamkan selama 3-5 hari.







