KLIKPOSITIF – Setiap memasuki bulan Ramadan, aneka gorengan kembali menjadi primadona di meja berbuka puasa. Mulai dari bakwan, risoles, tahu isi, hingga pisang goreng, jajanan ini hampir selalu hadir sebagai takjil favorit masyarakat.
Di berbagai sudut kota, pedagang gorengan musiman mulai bermunculan sejak sore hari. Aroma minyak panas dan adonan yang digoreng menarik perhatian warga yang berburu hidangan berbuka. Selain untuk konsumsi keluarga, banyak juga yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibagikan di masjid atau musala.
Tradisi berbuka dengan gorengan sudah mengakar di tengah masyarakat. Tekstur renyah dan rasa gurih dianggap cocok untuk membatalkan puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Harganya yang relatif terjangkau juga menjadi alasan gorengan tetap diminati berbagai kalangan.
Namun, ahli gizi mengingatkan agar masyarakat tidak berlebihan mengonsumsi gorengan saat berbuka. Makanan yang digoreng dengan minyak banyak mengandung lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan dan meningkatkan risiko kolesterol.
Selain faktor kesehatan, kebersihan dan kualitas minyak goreng juga menjadi perhatian. Konsumen disarankan memilih pedagang yang menjaga kebersihan serta tidak menggunakan minyak yang sudah terlalu gelap atau dipakai berulang kali.
Meski demikian, gorengan tampaknya sulit dipisahkan dari suasana Ramadan. Bagi sebagian warga, menikmati gorengan hangat saat azan magrib berkumandang bukan sekadar soal rasa, melainkan bagian dari tradisi dan kebersamaan keluarga di bulan suci.






