PADANG, KLIKPOSITIF — Pengembangan desa wisata di Sumatera Barat (Sumbar) terus menunjukkan perkembangan. Sejumlah desa dan nagari mulai membenahi potensi wisata, meningkatkan kualitas pelayanan, hingga mengembangkan destinasi yang sebelumnya belum banyak dikenal wisatawan.
Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Moch. Abdi, S.E., M.M., mengatakan perkembangan tersebut salah satunya didorong oleh keikutsertaan desa wisata dalam program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Menurut Abdi, sejak masuk dalam program anugerah desa wisata, sejumlah desa wisata mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Berbagai indikator yang menjadi acuan dalam program tersebut mendorong pemerintah nagari dan masyarakat untuk membenahi potensi wisata yang dimiliki.
“Sejak masuk dalam Anugerah Desa Wisata, desa wisata mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada faktor-faktor yang dijadikan acuan, sehingga nagari bisa mengembangkan desa wisatanya dengan baik,” katanya di Padang pada kegiatan Seminar Nasional Pariwisata 2026 di kampus UMSB Padang.
Ia menyebut, perkembangan desa wisata juga terlihat dari perubahan pola perjalanan wisatawan. Agen perjalanan atau travel agent kini tidak hanya membawa wisatawan ke destinasi yang sudah dikenal atau ikonik, tetapi mulai memasukkan sejumlah destinasi yang belum banyak diketahui atau hidden gem di Sumbar ke dalam paket perjalanan.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi desa wisata untuk terus meningkatkan kualitas, mulai dari daya tarik wisata, fasilitas, pelayanan hingga keterlibatan masyarakat.
Abdi juga menyampaikan bahwa pada 2026 terdapat dua desa wisata asal Sumbar yang berhasil masuk dalam 30 besar ADWI dan kemudian melaju hingga 15 besar. Keduanya menjadi perwakilan dari Pulau Sumatera dalam tahapan tersebut.
“Ketika desa wisata sudah di-upgrade, tentu berdampak pada kedatangan wisatawan. Desa wisata dan nagari bisa membenahi apa yang memang perlu dibenahi, sehingga masyarakat juga semakin menghargai kehadiran wisatawan,” ujarnya.
Pokdarwis Masih Hadapi Kendala
Meski berkembang, pengelolaan desa wisata masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan pemerintah nagari dalam mengelola potensi yang tersedia.
Abdi mengatakan, tidak semua pemerintah nagari memiliki pengalaman yang sama dalam mengembangkan potensi wisata. Kondisi tersebut terkadang membuat Pokdarwis maupun perangkat nagari membutuhkan pendampingan.
“Walinagari memahami dalam konteks mengembangkan desa wisata. Kita banyak Pokdarwis, tetapi terkadang agak kewalahan karena perangkat nagari bingung bagaimana mengembangkan potensi yang ada,” katanya.
Karena itu, ia menilai pengembangan desa wisata membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah nagari, pelaku usaha pariwisata, perguruan tinggi hingga dunia usaha.
Menurutnya, perusahaan yang memiliki program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) juga dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan desa wisata.
Dukungan tersebut tidak hanya berupa pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga dapat menyasar aspek promosi dan pemasaran, termasuk pengembangan paket wisata yang menarik bagi wisatawan.
“Dalam kegiatan ini kita juga mengajak perusahaan yang memiliki TJSL sampai ke titik yang bermanfaat di desa wisata itu sendiri, misalnya menggiatkan paket wisata dengan promo yang menarik,” tuturnya.
Infrastruktur Jalan Jadi Persoalan
Sementara itu, Ketua Forum Wali Nagari (Forwana) Sumatera Barat, Zul Arifin Datuak Parpatiah, mengatakan perkembangan desa wisata di Sumbar saat ini cukup baik. Namun, menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait infrastruktur.
Salah satu kendala yang dihadapi sejumlah nagari adalah kondisi akses jalan menuju destinasi wisata. Ia mencontohkan kondisi di nagarinya, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, yang memiliki potensi wisata air terjun.
Menurut Zul, potensi tersebut belum dapat dikembangkan secara maksimal karena akses menuju lokasi belum mendukung kendaraan berukuran besar, termasuk bus pariwisata.
“Misalnya di nagari saya ada wisata air terjun, namun bus pariwisata tidak bisa sampai ke lokasi karena kondisi jalan yang tidak bisa dilalui. Jadi, kami butuh dukungan untuk ini,” paparnya.
Ia berharap pengembangan desa wisata tidak hanya berfokus pada promosi dan peningkatan kapasitas pengelola, tetapi juga diikuti dengan pembenahan infrastruktur pendukung.
Menurutnya, aksesibilitas menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata karena berkaitan langsung dengan kemudahan wisatawan mencapai lokasi.
Dengan potensi alam dan budaya yang dimiliki berbagai nagari, penguatan infrastruktur, kapasitas pengelola, promosi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam pengembangan desa wisata di Sumatera Barat.






