Rabu, 21 Okt 2026 - 18:13 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Dari Suji ke Design Modern: Perempuan Lintas Generasi Rawat Sulaman Lewat 2 Lokakarya

redaksi
Senin, 11 Mei 2026 | 09:58 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

AGAM, KLIKPOSITIF – Komunitas Seni Sarueh menggelar dua lokakarya sebagai upaya penyaluran pengetahuan tentang sulaman Nagari Balai Gurah Kabupaten Agam. Pelajar SMP dan SMA diajak mengenal sulaman, mulai dari dasar-dasar desain hingga praktik menyulam Suji Cayia dan Tarawang, dua sulaman khas nagari tersebut.

Ketua Komunitas Seni Sarueh Fandi Pratama mengatakan kedua lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian Matakain Kultural Ekspo II. Program ini dirancang sebagai wadah transfer pengetahuan sulaman dari generasi lama kepada generasi baru.

“Lokakarya pertama bertajuk “Pesta Designer Muda” telah dilaksanakan pada Minggu 26 April lalu. Lokakarya ini menghadirkan dua mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Suci Arma Wahyu Nasution dan Rihaadatul Aisy, sebagai pemateri. Pesertanya adalah pelajar SMP dan SMA berusia di bawah 20 tahun. Dalam lokakarya ini, peserta dibekali pengetahuan dasar tentang desain dan berbagai penerapannya,” ujarnya Minggu, 10/5.

Pengetahuan tersebut kemudian dikaitkan dengan sulaman, dengan harapan peserta mampu mengembangkan sulaman ke dalam bentuk dan motif yang lebih dekat dengan pengalaman mereka sebagai anak muda.

“Kami ingin teman-teman pelajar melihat bahwa sulaman bukan hal yang kuno. Kalau mereka paham dasar desain, motif sulaman bisa dikembangkan sesuai dunia mereka sendiri, tanpa meninggalkan akarnya,” kata Suci.

Rihaadatul Aisy menambahkan, anak muda justru memiliki peluang besar untuk membawa sulaman ke ruang-ruang baru. “Mereka tumbuh dengan banyak referensi visual. Itu modal penting. Tinggal bagaimana referensi itu dipertemukan dengan sulaman yang sudah ada di kampung mereka,” ujarnya.

Dua pekan berselang, hari ini Minggu 10/5 peserta yang sama kembali mengikuti lokakarya kedua, yakni lokakarya menyulam Suji Cayia dan Tarawang. Kali ini, materi disampaikan langsung oleh dua penyulam senior Balai Gurah, Essy Hariya dan Lukluul Jannah. Peserta diajak belajar dari hal paling dasar, mulai dari mengenal jenis benang, kain, hingga alat-alat pendukung menyulam, sebelum mempraktikkan tusukan secara langsung.

“Menyulam itu butuh sabar dan teliti. Kami dulu belajar dari orang tua dengan melihat dan mencoba setiap hari. Sekarang kami senang bisa mengajarkannya kepada anak-anak, supaya Suji Cayia dan Tarawang tidak hilang,” tutur Essy.

Baca Juga

Jembatan Bukik Batabuah Agam diperlebar menjadi 8 meter, yang mencakup lebar badan jalan enam meter dan bahu jalan di kiri-kanan masing-masing satu meter pascabencana (Dok.Tim Media Satgas PRR)

Jembatan Bukik Batabuah Agam Diperlebar Jadi 8 Meter

Rabu, 21 Okt 2026 | 15:32 WIB
Lima Jembatan di Agam Sedang Dibangun hingga akhir tahun 2026 ini (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)

Lima Jembatan di Agam Sedang Dibangun, Ini Daftarnya

Selasa, 20 Okt 2026 | 12:20 WIB

Dia berharap lokakarya ini menjadi awal, bukan akhir. “Yang penting mereka tahu dulu bahwa nagari ini punya sulaman sendiri. Kalau sudah tahu dan mulai suka, mereka akan terus belajar,” katanya.

Antusiasme tampak dari para peserta. Asnah, salah seorang peserta, mengaku baru menyadari bahwa sulaman di kampungnya memiliki nama dan teknik yang khas. “Selama ini saya sering melihat kain bersulam, tapi tidak tahu namanya Suji Cayia atau Tarawang. Ternyata membuatnya tidak mudah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Safira. Ia mengaku tertarik menggabungkan apa yang ia pelajari di dua lokakarya tersebut. “Di lokakarya pertama kami belajar desain, di lokakarya kedua kami belajar menyulam. Saya jadi ingin mencoba membuat motif sendiri yang tetap memakai teknik sulaman Balai Gurah,” katanya.

Kedua lokakarya ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi perempuan dari tiga kalangan. Dari kalangan tradisi, para penyulam senior seperti Essy Hariya dan Lukluul Jannah tampil sebagai guru dan pemilik pengetahuan, bukan sekadar perajin. Dari kalangan akademis, Suci Arma Wahyu Nasution dan Rihaadatul Aisy membawa pendekatan desain dari bangku kuliah seni untuk membuka kemungkinan baru bagi sulaman. Sementara dari generasi muda, para pelajar perempuan seperti Asnah dan Safira menjadi penerima sekaligus calon penerus pengetahuan tersebut.

Pertemuan ketiga kalangan ini menunjukkan bahwa pewarisan sulaman tidak harus berlangsung satu arah. Pengetahuan tradisi, pengetahuan akademis, dan cara pandang anak muda dapat saling mengisi. Melalui ruang seperti ini, Komunitas Seni Sarueh berharap peran perempuan sebagai pewaris pengetahuan sulaman semakin diakui, dan sulaman Balai Gurah terus hidup serta berkembang di tangan generasi berikutnya.

Tags: Agambalai gurahKebudayaanKeseniansulaman

Berita Lainnya

Jembatan Bukik Batabuah Agam diperlebar menjadi 8 meter, yang mencakup lebar badan jalan enam meter dan bahu jalan di kiri-kanan masing-masing satu meter pascabencana (Dok.Tim Media Satgas PRR)

Jembatan Bukik Batabuah Agam Diperlebar Jadi 8 Meter

Rabu, 21 Okt 2026 | 15:32 WIB
Lima Jembatan di Agam Sedang Dibangun hingga akhir tahun 2026 ini (DOK. TIM MEDIA SATGAS PRR)

Lima Jembatan di Agam Sedang Dibangun, Ini Daftarnya

Selasa, 20 Okt 2026 | 12:20 WIB
Pembangunan Jembatan Bukik Batabuah Agam sudah mencapai 55 Persen (Tim Media Satgas PRR)

Kucurkan Anggaran Rp 3,53 Miliar dari TKD Tambahan, Pembangunan Jembatan Bukik Batabuah Agam Capai 55 Persen

Jumat, 16 Okt 2026 | 20:50 WIB

Agam Percepat Pembangunan Huntap bagi Masyarakat Terdampak Bencana

Rabu, 14 Okt 2026 | 19:31 WIB
Selanjutnya
Truk Gagal Nanjak di Bukit Biawak Painan

Gagal Menanjak, Truk Bermuatan Rebah Kuda ddi Bukit Biawak Painan

Tinggalkan komentar
Sumatera Pulih

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara