AGAM, KLIKPOSITIF – Komunitas Seni Sarueh menggelar dua lokakarya sebagai upaya penyaluran pengetahuan tentang sulaman Nagari Balai Gurah Kabupaten Agam. Pelajar SMP dan SMA diajak mengenal sulaman, mulai dari dasar-dasar desain hingga praktik menyulam Suji Cayia dan Tarawang, dua sulaman khas nagari tersebut.
Ketua Komunitas Seni Sarueh Fandi Pratama mengatakan kedua lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian Matakain Kultural Ekspo II. Program ini dirancang sebagai wadah transfer pengetahuan sulaman dari generasi lama kepada generasi baru.
“Lokakarya pertama bertajuk “Pesta Designer Muda” telah dilaksanakan pada Minggu 26 April lalu. Lokakarya ini menghadirkan dua mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Suci Arma Wahyu Nasution dan Rihaadatul Aisy, sebagai pemateri. Pesertanya adalah pelajar SMP dan SMA berusia di bawah 20 tahun. Dalam lokakarya ini, peserta dibekali pengetahuan dasar tentang desain dan berbagai penerapannya,” ujarnya Minggu, 10/5.
Pengetahuan tersebut kemudian dikaitkan dengan sulaman, dengan harapan peserta mampu mengembangkan sulaman ke dalam bentuk dan motif yang lebih dekat dengan pengalaman mereka sebagai anak muda.
“Kami ingin teman-teman pelajar melihat bahwa sulaman bukan hal yang kuno. Kalau mereka paham dasar desain, motif sulaman bisa dikembangkan sesuai dunia mereka sendiri, tanpa meninggalkan akarnya,” kata Suci.
Rihaadatul Aisy menambahkan, anak muda justru memiliki peluang besar untuk membawa sulaman ke ruang-ruang baru. “Mereka tumbuh dengan banyak referensi visual. Itu modal penting. Tinggal bagaimana referensi itu dipertemukan dengan sulaman yang sudah ada di kampung mereka,” ujarnya.
Dua pekan berselang, hari ini Minggu 10/5 peserta yang sama kembali mengikuti lokakarya kedua, yakni lokakarya menyulam Suji Cayia dan Tarawang. Kali ini, materi disampaikan langsung oleh dua penyulam senior Balai Gurah, Essy Hariya dan Lukluul Jannah. Peserta diajak belajar dari hal paling dasar, mulai dari mengenal jenis benang, kain, hingga alat-alat pendukung menyulam, sebelum mempraktikkan tusukan secara langsung.
“Menyulam itu butuh sabar dan teliti. Kami dulu belajar dari orang tua dengan melihat dan mencoba setiap hari. Sekarang kami senang bisa mengajarkannya kepada anak-anak, supaya Suji Cayia dan Tarawang tidak hilang,” tutur Essy.
Dia berharap lokakarya ini menjadi awal, bukan akhir. “Yang penting mereka tahu dulu bahwa nagari ini punya sulaman sendiri. Kalau sudah tahu dan mulai suka, mereka akan terus belajar,” katanya.
Antusiasme tampak dari para peserta. Asnah, salah seorang peserta, mengaku baru menyadari bahwa sulaman di kampungnya memiliki nama dan teknik yang khas. “Selama ini saya sering melihat kain bersulam, tapi tidak tahu namanya Suji Cayia atau Tarawang. Ternyata membuatnya tidak mudah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Safira. Ia mengaku tertarik menggabungkan apa yang ia pelajari di dua lokakarya tersebut. “Di lokakarya pertama kami belajar desain, di lokakarya kedua kami belajar menyulam. Saya jadi ingin mencoba membuat motif sendiri yang tetap memakai teknik sulaman Balai Gurah,” katanya.
Kedua lokakarya ini sekaligus menjadi ruang apresiasi bagi perempuan dari tiga kalangan. Dari kalangan tradisi, para penyulam senior seperti Essy Hariya dan Lukluul Jannah tampil sebagai guru dan pemilik pengetahuan, bukan sekadar perajin. Dari kalangan akademis, Suci Arma Wahyu Nasution dan Rihaadatul Aisy membawa pendekatan desain dari bangku kuliah seni untuk membuka kemungkinan baru bagi sulaman. Sementara dari generasi muda, para pelajar perempuan seperti Asnah dan Safira menjadi penerima sekaligus calon penerus pengetahuan tersebut.
Pertemuan ketiga kalangan ini menunjukkan bahwa pewarisan sulaman tidak harus berlangsung satu arah. Pengetahuan tradisi, pengetahuan akademis, dan cara pandang anak muda dapat saling mengisi. Melalui ruang seperti ini, Komunitas Seni Sarueh berharap peran perempuan sebagai pewaris pengetahuan sulaman semakin diakui, dan sulaman Balai Gurah terus hidup serta berkembang di tangan generasi berikutnya.







