SOLSEL, KLIKPOSITIF- Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar Fatmawati mengatakan Stunting lebih baik dicegah dari pada diobati.
Fatmawati menjelaskan Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak seusianya.
Sederhananya, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak.
“Stunting ini lebih baik dicegah dari pada diobati”, kata Fatmawati dalam kegiatan pertemuan intensifikasi pendampingan ibu hamil dan ibu pasca bersalin di Kantor DP2KB&PPA Padang aro, 2 Mei 2023.
Fatmawati berharap masyarakat bisa merubah mindset bahwa ketika orang tuanya pendek makanya anaknya juga pendek, karena hal tersebut tidak benar.
“Negeri Jepang telah membuktikan dengan penanganan yang tepat, mereka bisa mencegah Stunting, meskipun orang tuanya pendek tetapi anak mereka tinggi”, katanya
Fatmawati melanjutkan upaya pencegahan Stunting dimulai dari pemeriksaan kesehatan calon pengantin.
Hasil pemeriksaan kesehatan tersebut dimasukkan data Base yang akan dijadikan pedoman team pendamping keluarga (TPK) atau bidan untuk penanganan selama masa kehamilan dan pasca melahirkan.
“Selama masa kehamilan harus diperhatikan betul jangan sampai ibu hamil anemia atau kekurangan darah, serta kurang gizi, untuk itu ibu hamil diharapkan sering datang ke posyandu untuk memeriksa kesehatan rutin”, katanya.
Setelah melahirkan imbuhnya, berikan anak hanya asi eksklusif pada enam bulan pertama dan lebih baik jika sampai dua tahun, datang ke Posyandu agar faktor kesehatan dapat diawasi TPK seperti gejala anemia serta gizi ibu menyusui tersebut.
“Intinya untuk pencegahan Stunting faktor kebersihan, kesehatan dan gizi harus mendapatkan perhatian intensif selama masa kehamilan dan 1000 hari pertama kehidupan Bayi”, katanya.
Dia mengungkapkan di propinsi sumatera barat saat ini angka Stunting masih cukup tinggi yaitu setiap empat orang anak satu orang diantaranya mengalami gejala Stunting.
“Stunting di Sumatera Barat berada di angka 25,2 persen berdasarkan survey status gizi Indonesia tahun 2022 naik 1,9 persen dari tahun sebelumnya”, katanya.
Fatmawati mengajak semua pihak sesuai peran masing-masing secara bersama-sama mencegah Stunting.
“Dengan adanya perhatian intensif dari mulai catin,serta penanganan maksimal sejak ibu hamil hingga anak umur dua tahun. Insya Allah, Stunting bisa dicegah dan angkanya bisa turun”, katanya
Kepala Dinas DP2KB&PPA Solok Selatan Erawati menyebutkan angka Stunting di daerah itu masih cukup tinggi yaitu 31,7 persen.
“Kita berharap kepada masyarakat, agar Stunting benar-benar di perhatikan, jangan malas datang ke posyandu, berikan anak asi eksklusif karena menyusui juga mengurangi resiko seorang ibu mengalami kanker payudara”, katanya






