KLIKPOSITIF – Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sumbar H. Edison menyatakan angka percerai di Sumatera Barat (Sumbar) pada tahun lalu cukup tinggi.
“Tahun 2021 lebihkurang 8.000 kasus perceraian terjadi di Sumatra Barat,” katanya.
Ia menambahkan, dari kasus tersebut 70 persen antaranya cerai gugat, istri yang banyak melakukan gugatan terhadap suaminya.
Buat Prokes
Berkaca dari kasus tersebut, Kanwil Kemenag Sumbar membuat Program Revitalisasi Khazanah Surau (Prokes).
Prokes ini bertujuan bagaimana merevitalisasi dan mengembalikan khazanah masjid.
Mengembalikan nilai-nilai surau pada masa lampau dan menyesuaikan dengan konteks hari ini.
“Kita ingin bagaimana mesjid juga memperhatikan kondisi ini, bagaimana anak kemenakan kita dilingkungan mesjid diberi pembinaan,” ujarnya.
Edison melanjutkan, tidak mau tidak niniak mamak dan bundo kanduang memberikan ilmu, bekal kepada catin. Supaya hidup mereka faham dengan adat.
“Tingginya angka perceraian di Sumatra Barat dan segala hal hal yang terkait dengan itu, perselingkuhan kekerasan seksual pada anak dan rumahtangga yang tidak terwarnai dengan nilai Islam maka harus didekatkan dengan mesjid,” tukas Edison.
Pusat Ketahanan Keluarga
Bukan hanya itu ungkap Edison, bagaimana masjid menjadi pusat ketahanan keluarga.
“Dalam program ini kita ingin mesjid berperan dalam membekali calon pengantin pra nikah,”
“Termasuk nanti juga pada pasca nikah atau konsultasi keluarga. Dalam bentuk konsultasi hukum dan persoalan keluarga,” imbuhnya.
Lalu kata Edison ada beberapa alasan kenapa mesjid djadikan sentral penguatan keluarga.
Yakni mesjid punya potensi tokoh, potensi finansial, potensi sarana prasarana dan sebagainya.
Sejalan dengan Pemerintah Daerah
Prokes ini lahir oleh program gubernur Sumatera Barat yang menjadikan Mesjid Raya sebagai pusat pembelajaran ABS SBK (Adat Basandi Syaraโ-Syaraโ Basandi Kitabullah).
โPemerintah daerah ingin menjadikan mesjid sebagai pusat atau central bukan hanya pada pembinaan yang bersifat spiritual”
“Lebih jauh dari itu sebagai pusat pembelajaran ABS SBK sebagai jati diri dan ciri khas masyarakat Minangkabau,โ ungkap Edison.






