Sabtu, 07 Nov 2026 - 15:19 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News Nasional

Andi Akmal: Banjir di Kalimantan, Teguran Keras Bagi Pengelola Negara

Pada tahun 2000 luas hutan Kalimantan adalah 33.234.711 Ha, lalu menurun menjadi 26.886.772 Ha pada tahun 2013, dan hutan Kalimantan yang tersisa pada tahun 2017 adalah seluas 24.834.752 Ha

redaksi
Jumat, 19 Nov 2021 | 08:16 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin

Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin (Net)

Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF – Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengatakan, musibah banjir besar di Kalimantan yang terjadi selama berhari-hari menjadi teguran keras bagi pengelola Negara Indonesia.

Ia menyatakan, kerusakan daerah tangkapan hujan sudah terjadi bertahun-tahun. Hal ini akibat regulasi yang ada tidak terlalu mendukung pada pengamanan dan penjagaan lingkungan yang semestinya.

“Pada tahun 2000 luas hutan Kalimantan adalah 33.234.711 Ha, lalu menurun menjadi 26.886.772 Ha pada tahun 2013, dan hutan Kalimantan yang tersisa pada tahun 2017 adalah seluas 24.834.752 Ha,” urai Akmal dalam berita rilisnya, dilansir dari laman Parlementaria, Jumat (19/11/2021).

Legislator dapil Sulawesi Selatan II ini menjabarkan, secara nasional proporsi tutupan lahan hutan dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Laju deforestasi terjadi akibat penebangan ilegal (illegal logging), kebakaran hutan ataupun konversi dari hutan menjadi perkebunan. Proporsi tutupan hutan nasional pada tahun 2019 adalah 50,10 persen dari total luas lahan secara keseluruhan atau sama dengan 94.114.000 hektar

Akmal juga menjelaskan, selama periode 2015-2020, paling tidak terjadi kabakaran hutan dan lahan seluas 5.645.022 Hektar. Berdasarkan perhitungan, kebakaran hutan di Indonesia mencapai luas 940.837 hektar per tahun atau sama dengan 2578 hektar per hari, telah menghancurkan kehidupan satwa, menghilangkan biomass, merusak ekosistem, melepaskan karbon, dan asap kebakaran hutan telah mengggangu kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat

Wakil rakyat kelahiran Bone ini juga mengingatkan bahwa pada tahun 2020 kala terjadi pandemi Covid-19, saat yang bersamaan hutan dan lahan kita yang terbakar mencapai 269.942 hektar. Hampir 150.000 hektar kebakaran hutan dan lahan terjadi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Papua.

“Jadi ini saat ini telah tampak kerusakan yang terjadi di darat dan udara akibat ulah manusia yang mengakibatkan perubahan iklim, dan menurunnya kemampuan dataran untuk menerima kondisi alam, termasul meluasnya lahan kritis, yang ujungnya timbul bencana alam seperti banjir besar,” tandas politisi Fraksi PKS itu.

Baca Juga

Banjir Berulang Terjang Wahana 2 Sungai Lareh, Warga Trauma Setiap Hujan Turun

Senin, 12 Okt 2026 | 17:15 WIB
Banjir di Kampung Bukit Kaciak, Nagari Amping Parak Timur, Kecamatan Sutera, masih merendam, Jumat (9/10/2026), malam.

Hujan Guyur Pessel, Banjir Rendam Permukiman dan Hambat Akses Jalan

Jumat, 9 Okt 2026 | 21:19 WIB

Ia memaparkan, total luas lahan kritis nasional mencapai 14 Juta hektar. Proporsinya terhadap total luas lahan adalah sebesar 7,46 persen. Luas lahan kritis tertinggi pada tingkat provinsi ada di Provinsi Sumatera Utara yaitu seluas 1.338.810 hektar, berikutnya adalah Kalimantan Barat seluas 1.015.631 hektar, dan Provinsi Jawa Barat luas lahan kritisnya hampir mencapai 1 juta hektar yaitu seluas 911.192 hektar.

“Sudah saatnya pemerintah saat ini berbenah total tanpa menyalahkan masa keadaan masa lalu. Yang paling penting bagaimana di masa depan lingkungan kita menjadi membaik sehingga meningkatkan kualitas hidup makhluk hidup di dalamnya termasuk ummat manusia,” tutup Andi Akmal Pasludddin.

Tags: Banjirbanjir kalimantanBencana AlamdprHutanKalimantan

Berita Lainnya

Banjir Berulang Terjang Wahana 2 Sungai Lareh, Warga Trauma Setiap Hujan Turun

Senin, 12 Okt 2026 | 17:15 WIB
Banjir di Kampung Bukit Kaciak, Nagari Amping Parak Timur, Kecamatan Sutera, masih merendam, Jumat (9/10/2026), malam.

Hujan Guyur Pessel, Banjir Rendam Permukiman dan Hambat Akses Jalan

Jumat, 9 Okt 2026 | 21:19 WIB

Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Kota Padang, BPBD dan Pemerintah Kecamatan Evakuasi Warga Terdampak

Senin, 3 Agu 2026 | 18:13 WIB
Padang Kebanjiran, Senin (3/8/2026)

Diguyur Hujan, Banjir Kepung Sejumlah Wilayah di Kota Padang

Senin, 3 Agu 2026 | 16:42 WIB
Selanjutnya
.

Komisi II DPR Berharap Pemilu 2024 Tidak di Bulan Ramadhan, Ini Alasannya

Tinggalkan komentar

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Sumatera Pulih
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara