Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:53 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News

Pencegahan Kekerasan Remaja: Mengapa Sekolah Dasar Membutuhkan Guru BK?

Oleh: Mella Juwita Sari, S.Psi, Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Negeri Padang dan Praktisi Shadow Teacher Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Padang

Muhammad Haikal
Jumat, 25 Sep 2026 | 10:56 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF — Maraknya kasus kekerasan dan fenomena memprihatinkan di lingkungan sekolah yang menghiasi pemberitaan di Kota Padang belakangan ini sangat menyita perhatian publik. Dinamikanya bergerak dari perkelahian fisik antar-siswa Sekolah Dasar (SD) hingga kasus ekstrem di tingkat menengah seperti yang terjadi di MAN 3 Kota Padang, di mana kekecewaan dan rasa tertekan meruncing menjadi aksi yang membahayakan. Peristiwa ini menjadi alarm darurat: isu kekerasan dan gangguan kesehatan mental di sekolah bukan lagi masalah sesaat, melainkan puncak gunung es dari benih konflik yang dibiarkan berlarut-larut.

Seseorang tidak tiba-tiba menjadi sangat agresif atau nekat dalam semalam. Dalam perspektif psikologi pendidikan, ketidakmampuan mengelola emosi di usia remaja merupakan akumulasi luka emosional, penolakan sosial, serta ketiadaan saluran ventilisasi emosi yang sehat sejak masa anak-anak.

Merespons maraknya kasus ini, berbagai aksi sosialisasi yang gencar dilakukan saat kasus sudah meledak memang positif, namun itu hanyalah aksi “pemadam kebakaran”. Kita lupa bertanya: mengapa kita tidak mencegah benih apinya sejak jenjang pendidikan dasar?

Dinamika Sosioemosional, Moral, dan Bukti Ilmiah Intervensi Dini

Rentang usia SD (6–12 tahun) merupakan masa keemasan sekaligus fase rawan dalam pembentukan karakter. Berdasarkan teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak usia SD berada pada tahap Industry vs. Inferiority (Ketekunan vs. Rasa Rendah Diri). Pada fase ini, anak belajar membangun rasa kompeten dan penerimaan dari lingkungan sebaya. Jika pada masa ini anak mengalami perundungan, diejek, atau dikucilkan tanpa ada pendampingan, mereka akan menginternalisasi rasa inferioritas, keterasingan, dan dendam terpendam.

Kondisi ini diperparah oleh tahap perkembangan moral Lawrence Kohlberg, di mana anak usia SD umumnya masih berada pada tingkat Pra-Konvensional. Pemahaman mereka mengenai keadilan cenderung kaku (tit-for-tat): “jika disakiti, maka boleh membalas.” Tanpa bimbingan empati, mereka belum paham dampak jangka panjang dari tindakan agresi tersebut.

Oleh karena itu, sebagaimana ditekankan Daniel Goleman dalam konsep Emotional Intelligence, kemampuan regulasi emosi dan resiliensi diri tidak muncul secara otomatis, melainkan harus dibiasakan secara terstruktur melalui pendekatan Social-Emotional Learning (SEL) sejak dini.

Urgensi ini didukung kuat oleh temuan ilmiah. Meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Educational Psychology menunjukkan bahwa program intervensi sosial-emosional berbasis sekolah (whole-school SEL intervention) yang diterapkan sejak jenjang dasar terbukti secara signifikan menurunkan angka perilaku agresif, penolakan teman sebaya, serta perundungan hingga 18-20%, sekaligus meningkatkan iklim sekolah yang positif secara berkelanjutan. Riset empiris tersebut menegaskan bahwa jika pembekalan regulasi emosi ini baru diberikan saat jenjang SMP atau SMA, kita sebenarnya sudah terlambat.

Sintesis Rumah, Sekolah, dan Urgennya Guru BK di SD

Membimbing emosi anak memerlukan sinergi antara rumah dan sekolah. Orang tua menjadi fondasi awal pengenalan emosi (emotion labeling), sementara sekolah bertugas memperkuatnya melalui iklim belajar yang aman.

Baca Juga

PKM-MUB Unand Ubah Perca Songket Silungkang Jadi Produk Fesyen, Tembus Pasar Nasional

Sabtu, 26 Sep 2026 | 17:14 WIB

Etika Pemerintahan: Sumbar Memberi Teladan, Kapan Indonesia Memiliki UU Etika?

Selasa, 15 Sep 2026 | 12:23 WIB

Namun, sebagai seorang shadow teacher yang mendampingi anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah di Padang, saya menyaksikan langsung betapa kompleksnya dinamika sosial anak di kelas. Guru kelas di SD sudah dibebani oleh target kurikulum yang padat dan administrasi. Harus diakui secara jujur, tidak semua guru SD dibekali latar belakang ilmu psikologi untuk melakukan screening dinamika relasi siswa atau memberikan psikoedukasi emosional secara mendalam.

Di sinilah peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di SD menjadi sangat krusial. Guru BK tidak hadir sebagai “polisi sekolah” yang menghukum anak, melainkan sebagai pilar kesehatan mental yang berperan:

Psikoedukasi Terstruktur: Mengajar rutin di kelas mengenai regulasi emosi, empati, resiliensi diri, dan penyelesaian konflik secara damai.

Deteksi Dini (Screening): Mengenali lebih awal tanda-tanda anak yang menarik diri akibat di-bully atau anak dengan kecenderungan agresif sebelum berujung pada depresi atau aksi nekat di usia remaja.

Ruang Aman & Fasilitator: Menjadi tempat cerita yang aman bagi anak serta jembatan komunikasi yang netral antara guru kelas, siswa, dan orang tua.

Saatnya Mengubah Paradigma

Rentetan kasus kekerasan di Kota Padang dari jenjang dasar hingga menengah harus menjadi titik balik bersama. Kita tidak boleh lagi memaklumi ketidakmampuan anak mengelola emosi di tingkat SD sekadar sebagai “bercandaan khas anak-anak”.

Pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, serta pengelola sekolah sudah saatnya membuka ruang bagi hadirnya tenaga bimbingan konseling profesional di jenjang Sekolah Dasar. Menghadirkan Guru BK di SD bukanlah beban struktur, melainkan investasi pencegahan paling mendasar untuk membekali anak-anak kita dengan mental yang tangguh, berempati, dan berkarakter di masa depan

Tags: Opini

Berita Lainnya

PKM-MUB Unand Ubah Perca Songket Silungkang Jadi Produk Fesyen, Tembus Pasar Nasional

Sabtu, 26 Sep 2026 | 17:14 WIB

Etika Pemerintahan: Sumbar Memberi Teladan, Kapan Indonesia Memiliki UU Etika?

Selasa, 15 Sep 2026 | 12:23 WIB

Teguran Terhadap 12 Daerah: Cermin Lemahnya Sistem Pembentukan Produk Hukum Daerah

Kamis, 23 Jul 2026 | 16:39 WIB
Jam Gadang

Perkiraan: Jam Gadang Menghabiskan 20 Ton Semen, Besi 3,5 Ton dan 90 Ribu Keping Bata

Senin, 8 Jun 2026 | 15:39 WIB
Selanjutnya

KAI Divre II Sumbar Terapkan 'Safety at Scale' Seiring Meningkatnya Mobilitas Masyarakat

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara