Kamis, 10 Sep 2026 - 18:51 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Life Health

Diagnosis Kanker Mengubah Cara Perempuan Ini Memahami Tubuhnya

Fitria Marlina
Kamis, 10 Sep 2026 | 08:19 WIB
Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF — Selama bertahun-tahun, olahraga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang perempuan. Berlari, latihan beban hingga CrossFit dijalaninya secara rutin. Namun, diagnosis kanker membuat hubungan dengan tubuh yang selama ini dianggap kuat dan dapat diandalkan berubah secara drastis.

Sehari setelah menerima diagnosis kanker, ia bahkan berdiri di ruang gym di garasi rumahnya dan memandangi barbel yang selama bertahun-tahun biasa diangkat. Kali itu, ia tidak sanggup mengambilnya.

Bukan karena rasa sakit atau tubuh yang kehilangan kekuatan. Ia hanya merasa tubuhnya tidak lagi memberikan respons seperti sebelumnya.

Bertahun-tahun Aktif Berolahraga

Aktivitas fisik telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak muda. Pada usia 20-an, 30-an hingga 40-an, ia rutin berlari, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di jalur lari dan maraton.

Berlari menjadi cara baginya untuk menjernihkan pikiran. Selama bertahun-tahun, tubuhnya terasa stabil dan dapat diandalkan. Setiap usaha yang diberikan seolah selalu menghasilkan kemajuan.

Dilansir dari laman youmbody, memasuki akhir usia 40-an, ia mulai berlatih di pusat kebugaran. Latihan kekuatan kemudian memperkenalkannya pada bentuk olahraga baru yang membuatnya menikmati pencapaian-pencapaian kecil.

Ia kemudian mengenal CrossFit dan menjadikannya aktivitas utama selama lebih dari satu dekade. Barbel, kapur untuk latihan, serta suasana komunitas menjadi bagian yang ia sukai dari olahraga tersebut.

Ketika pandemi terjadi, latihan berpindah ke garasi rumah. Meski tidak lagi memiliki suasana komunitas CrossFit, ia tetap berusaha berolahraga secara rutin.

Menopause Mengubah Segalanya

Perubahan mulai terasa ketika memasuki masa perimenopause dan menopause. Pada awalnya, perubahan tersebut muncul secara perlahan, seperti gangguan tidur dan rasa panas yang datang sesekali.

Namun, olahraga yang sebelumnya membuat tubuh terasa lebih berenergi mulai terasa lebih berat. Proses pemulihan menjadi lebih lambat dan peningkatan kekuatan yang sebelumnya mudah dicapai mulai terhenti.

Untuk pertama kalinya, bekerja lebih keras tidak selalu menghasilkan perkembangan seperti yang diharapkan.

Alih-alih menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh, ia justru terus memaksakan diri. Hingga kemudian diagnosis kanker mengubah cara pandangnya terhadap tubuh dan olahraga secara keseluruhan.

Diagnosis Kanker Membawa Ketidakpastian

Menurut pengalamannya, kanker bukan hanya persoalan diagnosis medis, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian yang terus mengikuti kehidupan sehari-hari.

Pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai jadwal pengobatan, hasil pemeriksaan, perkembangan penyakit hingga efek samping. Rutinitasnya kemudian dipenuhi dengan janji temu medis, pemindaian, pemeriksaan laboratorium dan menunggu hasil yang dapat kembali mengubah rencana hidup.

Dalam kondisi tersebut, target kebugaran yang sebelumnya penting mulai terasa tidak relevan.

Ia masih beberapa kali mencoba masuk ke ruang gym di rumah. Ia mengambil dumbbell, kemudian meletakkannya kembali. Pada kesempatan lain, ia memulai pemanasan tetapi berhenti di tengah jalan.

Ada hari ketika satu-satunya aktivitas yang mampu dilakukan hanyalah berjalan-jalan bersama anjingnya.

Yang paling sulit justru bukan kehilangan kemampuan berolahraga, melainkan menerima kenyataan bahwa tubuhnya kini membutuhkan perlakuan yang lebih lembut.

Ia juga merasakan kesedihan karena kehilangan gambaran tentang dirinya yang selama ini dikenal sebagai seseorang yang kuat dan selalu percaya bahwa kerja keras akan membawa hasil.

Belajar Mendengarkan Tubuh

Seiring waktu, pandangannya mulai berubah. Ia kembali merindukan aktivitas fisik dan secara perlahan mulai berolahraga lagi.

Latihan yang dilakukan tidak lagi berorientasi pada pencapaian rekor pribadi. Kadang ia hanya melakukan latihan menggunakan berat badan selama 10 menit atau latihan sederhana dengan dumbbell.

Ia juga berhenti menuntut tubuhnya untuk bekerja seperti ketika masih lebih muda, sebelum menopause dan sebelum kanker.

Sebaliknya, ia mulai belajar mendengarkan tubuh.

Kini, ia telah menjalani sekitar empat tahun masa menopause dan dua tahun hidup dengan kanker yang tidak dapat disembuhkan. Baginya, arti kekuatan pun berubah.

Baca Juga

Memasuki Usia 50 Tahun, Ini Pemeriksaan dan Vaksin yang Penting Dilakukan

Kamis, 10 Sep 2026 | 08:54 WIB

Apakah Asupan Protein Harian Anda Sudah Cukup?

Kamis, 10 Sep 2026 | 07:45 WIB

Pada suatu hari, kekuatan berarti mampu berolahraga. Namun pada hari lainnya, kekuatan justru berarti memberikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat.

Ia menyadari bahwa olahraga tidak lagi harus menjadi sarana untuk membuktikan sesuatu. Aktivitas fisik kini menjadi cara untuk tetap terhubung dengan tubuh yang telah menemaninya melewati berbagai tahap kehidupan.

Mulai dari berlari, latihan beban, CrossFit, menopause hingga menghadapi kanker, tubuhnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Ia memang belum mengetahui seperti apa kehidupan kebugarannya di masa depan. Namun, satu hal yang diyakininya adalah gerakan tetap memiliki arti.

Kini, ia tidak lagi berusaha membuktikan seberapa kuat dirinya. Ia hanya ingin tetap terhubung dengan tubuh yang telah membawanya sejauh ini.

Tags: Diagnosis KankerHealth

Berita Lainnya

Memasuki Usia 50 Tahun, Ini Pemeriksaan dan Vaksin yang Penting Dilakukan

Kamis, 10 Sep 2026 | 08:54 WIB

Apakah Asupan Protein Harian Anda Sudah Cukup?

Kamis, 10 Sep 2026 | 07:45 WIB

Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Meninggal, dari Wasiat hingga Urusan Pemakaman

Kamis, 10 Sep 2026 | 06:37 WIB

Mengapa Bar di Singapura Impor 900 Kg Es dari Jepang Setiap Tahun?

Kamis, 10 Sep 2026 | 06:00 WIB
Selanjutnya

Motor Curian Dimodifikasi Jadi Becak, Polres Pariaman Tangkap 4 Tersangka

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara