KLIKPOSITIF — Kelompok Seni dan Sastra Teater (KSST) Noktah memukau penonton dalam Parade Teater Sumatera Barat 2025 dengan pementasan naskah “Pagi Bening” karya Serafin-Joaquin Alvares Quintaro yang diadaptasi ke konteks kekinian oleh sutradara Syuhendri. Penampilan tersebut berlangsung pada Sabtu (9/8/2025) di Gedung Kebudayaan Sumbar.
Syuhendri mengungkapkan, naskah aslinya bercerita tentang dua sejoli—Sultan Salman dan Incim—yang cintanya terhalang restu orang tua. Incim dijodohkan dengan seorang saudagar, sementara Salman menolak dan memilih berkonfrontasi hingga akhirnya kabur. Dalam pelariannya, Salman mengirim surat kepada Incim, namun tak pernah dibalas. Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu kembali di sebuah taman. Meski saling mengingat masa lalu, pertemuan itu diwarnai kebohongan.
Dalam adaptasinya, Syuhendri menjadikan Salman sebagai sosok seniman, sementara Incim mewakili penikmat seni. Latar cerita pun dipindahkan ke Taman Budaya, yang pada akhir kisah digambarkan hancur sebagai simbol kegagalan pemerintah mengelola kesenian.
“Kesenian hari ini jatuh ke wilayah formalitas. Ia tidak lagi menjadi basis pengetahuan atau renungan. Yang diuntungkan justru vendor, bukan seniman,” ujar Syuhendri. Ia menegaskan bahwa teater membutuhkan penonton yang benar-benar mengapresiasi, bukan sekadar datang untuk kemeriahan.
Pementasan ini tampil memikat dengan tata panggung sederhana namun penuh simbol—bangku taman, pohon kering, dan latar gedung yang seolah merepresentasikan Taman Budaya itu sendiri. Kostum para pemain memadukan nuansa klasik dan kontemporer, memberi kesan lintas zaman yang menguatkan pesan cerita. Musik pengiring dimainkan secara live, menambah kedalaman suasana, mulai dari lirih saat adegan perpisahan hingga menggelegar di akhir ketika taman digambarkan runtuh.
Dialog dalam pementasan ini juga memuat sindiran tajam terhadap ruang kebudayaan yang semakin kehilangan fungsinya. Salah satunya, “Apa murung-murung itu? Ini ruang kebudayaan Nyonya, ruang umum. Dulu, di situ ruang teater tertutup. Sekarang tak ada lagi.”
Penonton terlihat terhanyut—sesekali tertawa getir mendengar dialog satire, lalu terdiam ketika adegan klimaks menghantam. Usai pertunjukan, tepuk tangan panjang menggema, menandakan apresiasi sekaligus renungan yang tertinggal di benak mereka.
Melalui “Pagi Bening”, KSST Noktah mengajak publik kembali ke khitah kesenian: membangun nilai, menggugah kesadaran, dan menjadi ruang refleksi, bukan sekadar tontonan.






