Solok Kota, Klikpositif – Kisah hidup Yeni Silvia yang harus ditinggal suami yang menjadi korban penganiayaan seakan menyayat hati. Suami tercintanya, Meldianto yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga harus pergi selamanya.
Yeni Silvia dengan tabah menerima kenyataan. Wanita berhijab itu tak membayangkan, harus membesarkan 6 orang anak, ditambah satu orang yang saat ini masih dalam kandungan, tanpa keberadaan suaminya. Kisah hidup Yeni Silvia seakan mengetuk hati siapa saja yang mendengarnya.
Terlebih, ketika dirinya harus melunasi hutang pengobatan suaminya yangl mencapai Rp53 juta di RSUP M. Djamil Padang. Beruntung, kisah itu mencuat setelah salah satu organisasi sosial Rufaidah Humanity Care (RHC) mengangkat kisahnya.
Meldianto sendiri dikenal sebagai sosok yang baik. Ia merupakan imam dan muadzin masjid Dinul Haq, Koto Panjang, Kota Solok. Tak jauh dari kediamannya. Sehari-hari, almarhum berjualan sayuran untuk menghidupi keluarganya.
Mendengar kisah itu, ketua DPP PAN, H. Epyardi Asda bersama bersama istri, Ny. Emiko dan anggota DPR-RI, Athari Gauthi Ardi datang langsung ke rumah almarhum di Kelurahan Koto Panjang, Sabtu (30/4/2022) sore.
Bupati Solok itu, juga didampingi pengurus DPC PAN Kota Solok, Angry Nursya, Rusdi Saleh, Efriyon Coneng serta mantan ketua DPRD Kota Solok, Yutris Can.
Di kediaman sederhana tersebut, rombongan disambut istri dan ke enam anak almarhum. Anak sulung almarhum sekolah di SMA, sementara ada yang masih SD dan ada yang belum sekolah.
Epyardi Asda tak bisa banyak berkata, seolah ia bisa merasakan duka yang dihadapi Yeni dan anaknya pasca kejadian pada Maret 2022 lalu. Motivasi dan dukungan diberikan agar keluarga tetap tabah dan ikhlas.
Dalam kesempatan itu, Epyardi dan keluarga memberikan bantuan untuk biaya hidup bagi istri dan anak almarhum sebesar Rp10 juta serta beras. Mantan anggota DPR-RI itu juga memerintahkan anggota DPRD Kota Solok dari partai PAN untuk mengawal dan membantu penuh keluarga tersebut.
“Mungkin bantuan ini tidak seberapa, kami harap bisa membantu. Saya minta anggota DPRD dari PAN dan pengurus follow up ke depannya. Kita siap membantu, dan kewajiban kita membantu. Perhatikan nasib anak-anak kita ini” sebut Epyardi dengan suara sayu.
Sementara itu, Wakil ketua DPRD Kota Solok, Efriyon Coneng mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah mendorong pemerintah daerah untuk membantu membayar hutang almarhum dengan dana pendamping.
“Alhamdulillah, itu sudah terealisasi. Kemudian soal kasus ini, kita sudah sampaikan ke Polres untuk minta segera ditindaklanjuti. Pelaku sudah masuk DPO kepolisian. Kemudian kita upayakan untuk mengawal pendidikan dari anak-anak ini ke depannya,” terang Efriyon Coneng.
Athari dan Kader PAN Bantu Biaya Sekolah dan Rumah Keluarga Almarhum
Anggota DPR-RI dari PAN, Athari Gauthi Ardi secara spontan memberikan bantuan biaya sekolah bagi anak sulung almarhum, Annisa yang saat ini tengah bersekolah di tingkat SLTA.
Selain peduli dengan nasib yang dialami keluarga itu, Athari merasa sangat senang lantaran anak sulung almarhum juga hafizh Al-Qur’an. Athari terkesan saat pertama bertemu dengan gadis yang juga atlet Kempo tersebut.
“InsyaAllah saya bantu Rp1 juta setiap bulannya. Nanti biar melalui pak Efriyon saja menyerahkannya. Semoga ini bisa membantu Annisa dalam sekolah, tetap semangat ya nak” kata Athari.
Selain bantuan dari Athari, anggota DPRD Kota Solok, Rusdi Saleh juga memberikan bantuan. Dirinya bakal membantu perbaikan rumah bagi keluarga almarhum agar lebih baik. Sementara waktu, pindah ke kontrakan.
“Nanti kita usahakan membuat mini market sehingga bisa menjadi usaha bagi Yeni dan keluarga agar bisa mandiri, kita siap bantu,” kata Rusdi Saleh diamini pengurus PAN lainnya.
Epyardi Minta Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan
Kakak istri korban, Afrizal menyampaikan ucapan terimakasih terhadap semua pihak yang peduli dengan kondisi keluarga adiknya.
Termasuk dukungan dari anggota DPRD, Pemko Solok juga membayarkan hutang pengobatan almarhum di RSUP M. Djamil Padang. Biaya tersebut dibayarkan dari dana pendamping pemerintah daerah.
Ia mengaku, sampai saat ini keluarga korban masih sangat trauma. Apalagi, pelaku masih belum tertangkap. Pihaknya hanya berharap hukum berjalan seadil-adilnya.
“Ya, istri almarhum dan anak-anak masih trauma dengan kejadian itu. Kami berharap hukum bisa berjalan dengan baik dan seadil-adilnya,” sebut Afrizal.
Menanggapi hal itu, Bupati Solok meminta pihak kepolisian untuk menangkap pelaku yang kini masih buron. Menurutnya, hukum harus ditegakkan bagi semuanya. Apalagi, pelaku masih bebas di luar.
“Kita minta pihak kepolisian untuk menangkap pelaku, agar kondisi mental keluarga almarhum dan masyarakat kondusif. Apalagi, anak-anaknya masih kecil,” sebut Epyardi.






