Sabtu, 17 Jan 2026 - 12:17 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home Cerpen Kato

Arisan Kematian

Cerpen: Ariyanti

Andika
Minggu, 4 Jan 2026 | 08:00 WIB
Ilustrasi/de passo

Ilustrasi/de passo

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah tiga bulan Mundo tidak membayar arisan kematian di kampungnya. Kampung kecil bernama Tawan Ilir yang penduduknya barangkali tak sampai seratus orang itu mensyaratkan (hampir) seluruh kepala keluarga menyumbang 12 butir telur itik tiap bulannya.

Telur yang terkumpul itu dibagikan layaknya arisan bergilir kecuali jika ada yang mati duluan; keluarga inti dari mendiang sontak jadi penerima arisan. Jika ia seorang anak yang ditinggalkan bapaknya, barangkali itu cukup untuk modal melanjutkan hidup sepekan.

Tak ada yang boleh meninggalkan keluarganya dengan kondisi tak “berpegangan,” jika ada anak yang ditinggalkan orangtuanya tanpa sepeser apapun, telur itik ini akan jadi penopang mereka. Begitu Darsum menjelaskan bagaimana arisan kematian ini menghubungkan semua yang hidup dengan kehidupan, yang kata Darsum lebih kekal setelahnya.

Sosoknya yang relijius menjadikan Darsum “orang penting” di Tawan Ilir, ketika ia mengusulkan arisan kematian tak ada yang membantahnya. Pun ketika ia mengambil setidaknya sepuluh persen dari pembagian juga tak ada yang menyadarinya.

Kecuali Mundo.

“Nanti kalau anduang saya mati dan pembagiannya kurang, saya tidak ikhlas!” Ketus salah seorang warga. Ia baru saja mendengar dari anggota lain yang baru seminggu lalu berduka, jumlah telur yang diterima kurang dari seharusnya.

Rumor bergulir hingga warga khawatir, jika saja anggota keluarga mereka meninggal, makin sedikit pula jumlah arisan yang diterima.

“Kurangnya tidak banyak, cuma Mundo yang belum menyumbang, mungkin dia lupa,” tungkas Darsum menenangkan.

***

Saat ini hanya Mundo warga Tawan Ilir yang tidak lagi beternak itik. Ia tinggal berdua dengan Rindang anak perempuannya, sementara sang istri sudah dua tahun ini tak ada kabarnya.

Kadang dalam senyap malam di lapau Darsum, dua atau tiga lelaki terdengar setengah berbisik, “Istrinya kabur mencari laki baru, yang kerja dan bergaji tetap,” bisik salah seorang.

“Iya, kudengar dia pula yang jual semua itik Mundo, dipakai untuk ongkos.” Lawan bicaranya ikut menimpali,

Sambil menyesap kopi, para lelaki itu tak pernah terang-terangan membuka cerita ini pada Mundo, ia meyakini istrinya hilang dan mungkin tersesat saat menggiring itik pulang. Banyak yang menyarankan Mundo kembali pulang ke kampungnya (yang entah dimana) sejak setahun istrinya menghilang. Meski telah lama menetap di Tawan Ilir, ia masih disebut “orang datang” oleh warga kampung karena hanya istrinya lah yang merupakan orang asli Tawan Ilir.

Tapi kareh angkang adalah gelarnya, sikap Mundo yang keras kepala dan mudah tersulut amarahnya membuat warga berhenti membicarakan apapun terkait dirinya, tujuan hidup, dan juga istrinya. Saban hari ia menjadi buruh tani, dari dulu hanya ini yang bisa dilakukannya.

“Badanku ini memang badan ke sawah,” ujarnya satu hari membanggakan diri sekaligus menyindir warga kampung lain yang berbondong-bondong mendaftar PNS. Ia memang cekatan membantu pemilik sawah, baik itu untuk panen, memupuk, bahkan sekadar mengecek pengairan tiap pagi dan sore hari.  Upahnya beragam, kadang uang namun lebih sering ia diupah dengan beberapa butir telur itik.

Di kampung ini, telur itik sudah menjadi pertukaran umum, selain untuk makanan, seminggu sekali ada bos besar (begitu warga kampung memanggilnya) yang datang dengan mobil pikap membeli telur itik warga, banyak di antara mereka menerima barter berupa ponsel seken dan mereka senang sekali.

Tak ayal, selain PNS, ponsel seken juga adalah perlombaan bagi warga Tawan Ilir. Setiap rumah berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya telur itik agar dapat ditukarkan dengan benda bergengsi itu, meski kadang tak banyak di antaranya yang berfungsi sebagaimana mestinya. Agar ponsel itu dapat digunakan untuk komunikasi mereka harus berjalan setidaknya satu jam ke arah balik bukit, namun tak banyak yang mau repot-repot melakukan itu. Selain tak tahu siapa yang akan mereka hubungi, biasanya ponsel seken itu juga tak dilengkapi kartu sim yang aktif.

Pak Darsum punya satu ponsel seken. Setiap malam warga sering melihatnya khidmat bermain ular-ularan di ponselnya. Siangnya, ponsel itu berfungsi sebagai kalkulator, meski Darsum telah memiliki mesin kalkulator tapi ia senang saja memakai ponsel itu sembari dikalungkan dengan tali panjang di lehernya,

“Ini lebih ringan dari kalkulator,” katanya satu hari.

Tak banyak yang tahu, ponsel seken itu dibeli dari hasil pembagian arisan yang kian hari terus berkurang. Tepat ketika Darsum membeli ponsel seken itu, Mundo menjual semua itiknya

“Jika Rindang mati, ia akan kutinggalkan dengan uang, bukan telur itik.” Ujarnya.

***

“Lagi pula mau kau apakan uang itu, hah? Lebih baik telur itik ini ke mana-mana, tak usah kau belagak menawar upah!” Suara pemilik sawah terdengar hingga ke lapau-lapau di sekitar sawah tempat Mundo bekerja.

Hari itu ia menolak pemberian pemilik sawah yang membayar hasil keringatnya dengan lima butir telur. Mundo berkilah itu tidak sepadan, ia telah bekerja dari pagi hingga sore. Pemilik sawah geram karena Mundo bersikeras meminta uang.

“Mau kuapakan pun terserah! Pokoknya kau bayar dengan uang, aku tidak mau tahu!” Balasan Mundo tak kalah hebohnya sore itu.

Meski suara dua orang paruh baya ini melengking hingga pintu rumah warga, kebanyakan dari mereka memilih diam, menguping, sembari melanjutkan kehidupan seolah tak terjadi apa-apa.

Pulang ke rumah dengan babak belur dan badan penuh lumpur, Mundo mendapati Rindang menatapnya sedih di depan pintu.

“Abak sudah janji,” ujar gadis kecil itu sembari mengusap air matanya. “Kenapa bertengkar lagi?”  Rindang berlari menuju kamar meninggalkan Mundo yang bahkan tak sempat membuka mulut.

Sejak awal Mundo memang tidak begitu acuh dengan arisan kematian. Ia pun tak mau repot-repot menghasut warga lain meski mengetahui Darsum mengambil jatah dari arisan itu, hanya sekali ia terpeleset lidah saat maota dengan Sutan Palala.

Ia berjumpa dengan Sutan Palala tak sengaja saat musafir ini singgah di lapau Darsum. Ia mengaku telah mengunjungi lebih dari 1.001 kampung. Beragam makanan aneh telah dicicipinya. Beragam pula cerita kekasih yang ia tinggalkan begitu saja setelah dua atau (paling lama) tiga malam dikenalnya. Berkenalan dengan Sutan Palala memantapkan pikiran Mundo menabung uang dan mengunjungi dunia luar. Barangkali ada kehidupan lebih baik di luar Tawan Ilir. Barangkali Rindang akan bertemu kembali dengan ibunya. Maka dengan demikian uang lebih berharga ketimbang telur itik.

“Lalu bagaimana kalau kau kehabisan minum di jalan dan tak ada uang?” tanya Mundo pada Sutan Palala malam itu. Jam di dinding lapau Darsum masih menunjukkan pukul setengah sembilan tapi tak seperti biasanya lapau itu lengang, hanya Mundo dan Sutan Palala yang sibuk membahas rencana-rencana musafir.

“Kalau di sekitarmu banyak batang pisang atau bambu maka kau aman,” kata Sutan Palala. Meski tak dijelaskan, Sutan Palala mafhum bahwa niat perjalanan Mundo hanya satu: mencari jejak istrinya.

Di tengah obrolan, Darsum menghampiri Mundo. Ia hendak menanyakan arisan kematian yang belum dibayar.

“Ndo, anggota lain mengeluh, kalau begini terus sampai bulan depan, bisa-bisa berhenti total arisan kita,” Suara Darsum tenang dan pelan. Ia kenal Mundo, cepat sekali terbakar emosinya.

Mundo diam saja sambil menoleh ke arah toples roti.

“Ini kau anggap saja kuambil dari yang sepuluh persen itu,” katanya sembari mengambil roti rasa coklat dan beranjak pergi dari lapau.

Sesampainya di rumah, Mundo mendapati pintu terbuka. Perasaannya mulai tak karuan, tak biasanya Rindang lupa mengunci pintu. Ia cari ke kamar, dapur, hingga halaman belakang. Meskipun mustahil anaknya bermain di sana ketika malam, tak ada penerangan melainkan remang cahaya bulan.

Kaki Mundo gemetar, keringatnya bercucuran hingga bajunya basah. Kalap ia, bak kembali pada waktu di mana istrinya tiba-tiba menghilang.

“Ini jam dan hari yang sama, ini hari dan jam yang sama,” getar bibir Mundo mengucapkan bahwa Rindang hilang pada hari yang sama dengan istrinya.

Hari Minggu, pukul sembilan malam.

Mundo berlari seperti tengah kesurupan, tanpa alas kaki, tanpa arah dan tujuan. Orang-orang yang masih bertahan di lapau Darsum melihat kejadian tersebut dengan tatapan sinis,

“Sudah kumat lagi si Mundo,” ujar mereka.

***

Sambil menangis, gadis berusia tujuh tahun itu melahap roti dan susu coklat. Ia melaju bersama seorang laki-laki paruh baya yang baru saja memberikannya makanan kesukaannya itu. Tangan kanannya menggenggam satu bungkus roti dan satu kotak susu coklat di tangan kiri. Air matanya terus menitik, kepalanya tertunduk, sementara mulutnya sibuk melahap roti, tak sedikitpun ia berani menoleh ke belakang,

“Nanti kalau sudah di atas motor, Rindang tidak boleh menengok ke rumah ini lagi ya?” ujar laki-laki yang membawanya malam itu.

Sudah menjadi kebiasaan di Tawan Ilir, selepas maghrib, satu-persatu lelaki meninggalkan rumahnya, menyebarlah mereka di antara lapau-lapau. Tak ada yang lebih melegakan bagi mereka selain saling mengolok-olok nasib di atas cawan kopi dan godok pisang yang sering diantarkan warga ke lapau Darsum.

Malam itu Rindang masih sendirian dan murung. Ia mengingat wajah abaknya yang pulang dengan babak belur, lebih sedih lagi dia, karena tak kunjung menikmati roti dan susu coklat yang dijanjikan abaknya sejak sepekan lalu. Sambil merengut-rengut dilihatnya koin lusuh dalam saku celananya, bisa saja ia membeli sendiri tapi abaknya tak pernah mengijinkannya. Tak boleh lebih lima meter dari pintu rumah, itulah jarak terjauh Rindang diijinkan bermain.

Ia mulai membayangkan betapa nikmatnya menikmati susu coklat sebelum tidur, dulu pernah didengarnya anak-anak lain yang lewat di depan rumah, bahwa meminum susu itu akan membuatnya lebih tinggi dan kuat. Di tengah lamunan itu, samar-samar Rindang mendengar suara jejak kaki mendekat. Segera ia pura-pura tidur agar abaknya tak mendapatinya masih terjaga saat ia pulang dari lapau. Namun suara asing terdengar memanggil namanya.

Hampir saja ia teriak tapi laki-laki itu seperti dikenalnya. Meski ketakutan, Rindang menatap laki-laki itu dengan seksama.

“Ibumu, menunggu di rumah baru, ada TV di sana, Rindang bisa menonton kartun,” laki-laki tersenyum dan mendekat, tangannya menawarkan sebungkus roti dan susu coklat.

Meski dengan cemas dan terbata-bata, gadis bermata bulat itu bertanya pada laki-laki misterius di hadapannya.

“Bagaimana paras ibuku?” lalu tangan kecilnya dengan kilat meraih roti. Dengan tenang laki-laki tersebut menjelaskan segala hal yang melekat dengan ciri-ciri Dailani.

Di seberang kampung itu, Dailani dengan was-was menunggu anak gadisnya. Sejak tadi pagi telah ia siapkan segalanya termasuk tas berisi roti dan susu. “Kau katakan pada Rindang, ini dariku, ibumu telah menunggu di rumah baru,” ujar perempuan itu pada saudara laki-lakinya.

“Bagaimana kalau dia tak mau ikut?”

“Aku pernah berjanji padanya akan kembali dengan roti dan susu coklat kesukaannya,” kata Dailani pagi itu.

***

Sebenarnya sudah lama warga Tawan Ilir mengkhawatirkan kondisi Mundo. Jauh sebelum istrinya hilang, rumor menyebar bahwa ia sering menceracau dan tidur saat tengah malam di bawah pohon dekat rumahnya. Kondisi ini semakin parah semenjak Rindang menghilang. Warga kampung kecil itu harus berkumpul dan mencarikan solusi untuk mengobati Mundo yang disangka telah hilang akalnya.

“Pengorbanan besar,” kata Darsum di hadapan puluhan warga kampung. Malam itu ia memutuskan akan menjual ponsel seken kesayangannya untuk memberikan Mundo beberapa ekor itik.

“Sekiranya cukup untuk penghidupannya,” kata Darsum menimpali. Malam itu warga sepakat, itik akan memberikan Mundo arah dan tujuan hidup. Memelihara itik, bagi warga Tawan Ilir, bukan hanya perkara ekonomi. Tetapi juga status dan hubungan sosial, semua warga terikat dengannya.

“Tak ada yang boleh meninggalkan saudaranya dengan kondisi tak berpegangan, jika ada anak yang ditinggalkan orang tuanya tanpa sepeser apapun, maka Dailani adalah contoh,” ujar Darsum ketika ia membawa ide arisan kematian ini di tengah warga.

Baca Juga

Ilustrasi/den passo

Kucing yang Menggunggung Ikan ke Mana-mana

Minggu, 21 Des 2025 | 07:12 WIB

KUPU-KUPU DI PUNGGUNG AYAH

Minggu, 7 Des 2025 | 07:46 WIB

Ibu-bapaknya dahulu tak mau mengikuti arisan kematian, abang laki-lakinya menjual rumah milik mereka dan kabur ke kota, Dailani disisakan pondok kecil dan menikah dengan Mundo di usianya yang masih begitu muda. Tak ada yang tahu dari mana asal Mundo. Satu hari ia datang bersama rombongan truk besar dan ditinggalkan di lapau Darsum. Salah seorang warga mengasuhnya, namun ketika Mundo beranjak remaja, kedua orang tua asuhnya itu meninggal dunia. Rumah dan segala hartanya diambil oleh sanak saudara mereka. Meski tak memiliki apa-apa, tak sekali pun Mundo ingin meninggalkan Tawan Ilir. Ia bisa bekerja di sini meski hanya buruh tani.

Barangkali karena kesamaan nasib, Dailani dan Mundo dipertemukan, warga pun tenang ketika mengetahui Mundo mau bekerja keras menghidupi Dailani yang selama ini hidup bak pinang sebatang.

***

“Ndo, kau peliharalah itik-itik ini, untuk hidupmu, tak baik kau larut dalam kehilangan,” ujar Darsum satu pagi.

Sebelum meninggalkan rumah Mundo, Darsum menyampaikan pesan Sutan Palala padanya. “Dia akan berjalan ke Selatan besok pagi, malam ini kau temuilah karibmu itu sudah lama ia menanyakan kabarmu,” kata Darsum sembari menutup pintu rumah Mundo.

Lima ekor itik yang ditinggalkan di pekarangan rumahnya mulai berbisik karena kelaparan.

Mundo berjalan ke arah suara berisik itu. “Untuk hidupku katanya,” ujar Mundo sembari menatap itik.

Warga Tawan Ilir mulai tenang menyadari Mundo telah memiliki itik, pikir mereka, tentu arisan kematian akan kembali utuh jumlahnya. Memang sedari awal hanya ini yang mereka khawatirkan.

Namun malam itu juga, Mundo berulah di lapau Darsum. Ia lepaskan itik-itik kelaparan itu di lapau, suasana berubah heboh, pengunjung lapau lain saling teriak, kepada Mundo, kepada Darsum, kepada itik-itik.

“Oi, ini lepas!”

Ada pula suara gelak tawa paling kencang malam itu, konon itulah karib Mundo si Sutan Palala yang tertawa geli melihat itik-itik terbang di lapau Darsum.

Sutan Palala menepuk pundak Mundo, “Sudah betul yang kau lakukan itu, keluarlah dari kampung ini, besok akan kujemput kau di rumah, kita pergi ke Selatan,” ujar Sutan Palala.

Mundo bergeming. Ia diam saja menatap kehebohan yang masih berlanjut hingga tengah malam, Pak Darsum kesal sekali nasib ponsel sekennya (pengorbanan besarnya) tak dihargai oleh Mundo. Sebelum kembali ke rumahnya, Mundo berdiri di atas meja, mereka yang dari tadi heboh seketika diam dan menatap heran ke arah Mundo.

“Kalaupun saya mati, lalu siapa yang akan menerima arisan kematian itu?” Mundo berteriak sambil menepuk-nepuk dadanya. “Kau Darsum, datang memberiku peliharan untuk mempersiapkan kematianku, lalu kau bilang apa? Untuk hidupku?”

“Hahaha.”

“Untuk hidupku.”

“Hahaha.”

“Apa yang tak kau katakan Darsum?”

“Hah?”

“O, Mundo, Jangan lupa kau bayar arisan kematianmu!”

“O, Mundo!  Agar anggota arisan lain tidak khawatir!”

“Agar jumlah telur itik mereka tak kurang!”

Mundo turun dari meja dan berjalan tenang ke rumahnya. Meninggalkan warga kampung yang masih ternganga dan itik-itik yang sibuk menyicip sisa-sisa godok pisang.

***

“Kau ikut Mundo?” tanya Sutan Palala. Berdiri subuh buta di depan pintu Mundo yang masih terkunci. “Aku tahu kau tak tidur, ada kehidupan lain di ujung kampung ini, keluarlah melihat kenyataan,” teriak Sutan Palala.

Mundo masih bergeming.

“Orang-orang di sini menganggap kau gila Mundo!” Sutan Palala berteriak sekencang-kencangnya.

“Aku tak pernah menceraikan istriku, tak pernah meninggalkan anak ku,” bisik Mundo di hadapan pintu.

“Siapa yang gila? Laki-laki yang pergi ke Selatan? Ia tinggalkan rumahnya? Sementara suatu hari nanti anak dan istrinya akan kembali.”

“Istri dan anakku pasti akan kembali, kau pergilah Palala,”

Itulah kalimat terakhir yang didengar dari mulut Mundo.

Tak lagi ia bicara sepatah katapun setelah itu, yang ia tahu hanyalah menunggu anak dan istrinya kembali ke rumah. Istri yang tak pernah diceraikannya, anak yang tak pernah ditinggalkannya. []

 

Ariyanti. Penulis lepas dan ibu rumah tangga berdomisili di Kota Padang. Menjadi wartawan untuk media partner Kumparan wilayah Sumbar (Langkan.id) pada tahun 2022-2023. Sebelumnya ia berprofesi sebagai penulis konten untuk organisasi nirlaba di Jakarta periode 2016 s/d 2022. Ia juga pernah berperan sebagai volunteer pemutaran film alternatif Kineforum, di Cikini, Jakarta pada tahun 2016. Semasa kuliah di Universitas Negeri Padang, Ariyanti bergabung dengan Surat Kabar Kampus Ganto dan bertanggung jawab sebagai Redaktur Tulisan kemudian Redaktur Bahasa dan Sastra Budaya (2011-2013).
Tags: cerpencerpen kato

Berita Lainnya

Ilustrasi/den passo

Kucing yang Menggunggung Ikan ke Mana-mana

Minggu, 21 Des 2025 | 07:12 WIB

KUPU-KUPU DI PUNGGUNG AYAH

Minggu, 7 Des 2025 | 07:46 WIB
Ilustrasi/de passo

Damai

Minggu, 23 Nov 2025 | 09:15 WIB

Rumah Murah

Minggu, 9 Nov 2025 | 09:03 WIB
Selanjutnya

Yota Balad Pimpin Upacara HAB Ke-80 Kemenag RI

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara