Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:12 WIB
Klikpositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
KlikPositif.com - Media Generasi Positif
Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara
Home News Nasional

Semangat Sumpah Pemuda, Yenny Wahid Singgung Buzzer: Akhiri Polarisasi Kadrun-Cebong

Teknologi sosial media memang menjadi faktor besar menyebabkan polarisasi kadrun dan cebong. Karena bisa mengakomodasi pesan dan gerakan secara cepat.

redaksi
Kamis, 28 Okt 2021 | 13:29 WIB
Yenny Wahid

Yenny Wahid (Net)

Share on FacebookShare on Twitter

KLIKPOSITIF – Dengan semangat Sumpah Pemuda, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) meminta masyarakat Indonesia tidak lagi terpolarisasi dan mengakhiri istilah kadrun dan cebong.

Hal ini, kata Yenny, untuk mencegah perpecahan di antara masyarakat Indonesia. Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia lebih penting dari pada tujuan politik jangka pendek. Fenomena kadrun dan cebong mulai muncul ketika pemilihan presiden RI era Joko Widodo dan Prabowo. Meskipun kedua calon sudah berada dalam satu barisan, istilah kadrun dan cebong masih eksis. Melebar ke mana-mana.

“Negara kita, buat saya harus hati-hati menyikapi fenomena ini dan kita semua tidak terjebak dalam arus berpikir seperti ini, kadrun dan cebong. Karena apa kasih label sesama kita. Julukan yang jelek itu buat apa?” katanya saat wawancara di akun Youtube Karni Ilyas Club, Rabu (27/10/2021).

Alumni Trisakti ini mengatakan polarisasi dan pembelahan dalam bentuk kadrun dan cebong hanya menyebabkan luka yang mendalam. Luka menimbulkan kebencian dan semakin mendalam karena dampak media sosial.

Teknologi sosial media memang menjadi faktor besar menyebabkan polarisasi kadrun dan cebong. Karena bisa mengakomodasi pesan dan gerakan secara cepat.

“Salah satu penyebabnya algoritma sosial media yang membuat orang itu dibanjiri informasi yang sangat menyudutkan kelompok yang tidak disukainya,” imbuh Yenny.

Dikatakan, cara kerja algoritma media sosial cukup sederhana. Apabila seorang percaya sesuatu, biasanya ada tandingannya. Maka mesin media sosial otomatis akan menampilkan lawan dari yang ia sukai juga. Semisal seseorang menyukai Chelsea, maka mesin media sosial akan menampilkan konten tentang Chelsea dan yang menjelekkan Chelsea juga. Begitu juga untuk kasus lainnya.

Baca Juga

Peringatan Sumpah Pemuda ke-97 Momentum Refleksi Generasi Muda Kota Solok

Selasa, 28 Okt 2025 | 14:13 WIB
Bank Nagari

Kabar Gembira! Bank Nagari Beri Promo Khusus Peringati Sumpah Pemuda

Selasa, 28 Okt 2025 | 13:21 WIB

Seseorang yang suka membuka konten tentang kadrun di youtube, facebook dan instagram maka secara otomatis akan direkomendasikan oleh mesin berbagai konten yang membenci cebong. Karena setiap hari disuguhi konten kebencian singga semakin mengentalkannya kepercayaannya atas suatu hal dan kebencian pada hal lain.

“Kita juga berhadapan dengan dunia, di mana identitas politik sangat kuat berupa identitas agama, ras, sama keyakinan politik. Maka kecenderungan media sosial akan membelah. Jika milih A, maka B sebagai musuh,” kata perempuan kelahiran Jombang ini.

Yenny menambahkan, fenomena ini tidak hanya hanya terjadi di Indonesia saja. Negara super power seperti Amerika Serikat juga mengalami hal yang sama. Kebencian antar ras kulit hitam dan putih menguat saat pertarungan antara Biden dan Trump pada pemilihan presiden kemarin.

“Ini fenomena terjadi juga di Amerika Serikat. Pembelahan identitas ras. Kulit hitam pro kulit hitam. Putih ya pro putih,” tegasnya.

Pembelahan antara kadrun dan cebong semakin lebar jaraknya ketika munculnya buzzer dan influezer. Adanya buzzer malah memperkeruh suasana. Baik buzzerRp ataupun buzzer lain yang punya agenda politik sempit. Umumnya para buzzer ini pakai jargon dangkal seperti kadrun dan cebong. Hal tersebut bertujuan untuk membuat provokasi. Sebenarnya masalah ini tidak boleh dan harus ditertibkan.

“Fenomena ini jadi kewajiban kita semua terutama publik figur untuk meredam masyarakat agar tidak terjebak dalam polarisasi seperti ini. Penggunaan label kadrun dan cebong harus itu dicegah,” tandasnya.

Tags: Kadrun-CebongNasionalSemangat sumpah pemudaSumpah PemudaYenny Wahid

Berita Lainnya

Peringatan Sumpah Pemuda ke-97 Momentum Refleksi Generasi Muda Kota Solok

Selasa, 28 Okt 2025 | 14:13 WIB
Bank Nagari

Kabar Gembira! Bank Nagari Beri Promo Khusus Peringati Sumpah Pemuda

Selasa, 28 Okt 2025 | 13:21 WIB

Pjs Bupati Solok : Pemuda Kunci Indonesia Emas 2045

Senin, 28 Okt 2024 | 17:27 WIB

Peringatan Sumpah Pemuda Ke-96, Wako Zul Elfian : Momentum Bangkitkan Potensi Generasi Muda

Senin, 28 Okt 2024 | 15:38 WIB
Selanjutnya
Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar saat memimpin upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 93 di Painan

Peringati Hari Sumpah Pemuda, Bupati Pessel: Pemuda Harus Terus Berkarya

Tinggalkan komentar
Classy FM

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Kategori

  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara

Networks

  • 🌎 KlikPositif
  • 🌎 KataSumbar
  • 🌎 Classy FM
  • 🌎 Classy Production
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Iklan
  • Terms Of Use
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

© 2022 Klikpositif - Media Generasi Positif by Classy Corp.

Tidak ada hasil
Tampilkan semua hasil
  • 🏠
  • News
  • Ekonomi
  • Life
  • Cek Fakta
  • Cerpen Kato
  • Pariwisata
  • Semen Padang
  • Bola
  • Tekno
  • Olahraga
  • Pariwara