KLIKPOSITIF — Belajar sering kali dipahami sebagai aktivitas yang serius: duduk di kelas, mendengarkan guru atau dosen, membaca buku, mengerjakan tugas, menghadapi ujian, lalu memperoleh nilai. Padahal, dari perspektif psikologi pendidikan, belajar bukan hanya persoalan seberapa banyak informasi yang dapat diingat, tetapi juga bagaimana seseorang merasakan proses belajar tersebut.
Seorang siswa atau mahasiswa dapat memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi jika ia selalu merasa takut, tertekan, bosan, atau tidak memiliki hubungan yang positif dengan lingkungan belajarnya, proses belajar dapat menjadi pengalaman yang berat. Sebaliknya, ketika seseorang merasa aman, dihargai, memiliki kesempatan untuk berkembang, dan menemukan makna dalam apa yang dipelajarinya, belajar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna. Inilah yang dapat disebut sebagai belajar dengan bahagia.
Bahagia dalam belajar bukan berarti belajar tanpa kesulitan
Istilah “belajar dengan bahagia” tidak berarti bahwa peserta didik harus selalu merasa senang dan tidak pernah mengalami stres, kecewa, atau kegagalan. Dalam proses pendidikan, emosi negatif seperti cemas, frustrasi, dan kecewa merupakan bagian yang mungkin muncul ketika seseorang menghadapi tantangan.
Psikolog pendidikan Reinhard Pekrun menjelaskan melalui Control-Value Theory bahwa emosi dalam situasi akademik berkaitan erat dengan bagaimana siswa memandang kendali terhadap tugas dan nilai atau makna yang diberikan terhadap tugas tersebut. Emosi akademik dapat berupa rasa senang, bangga, harapan, tetapi juga kecemasan, rasa malu, marah, bosan, dan putus asa.
Artinya, ketika seorang mahasiswa merasa, “Saya mampu mengerjakan tugas ini dan tugas ini penting bagi masa depan saya,” pengalaman belajarnya cenderung berbeda dibandingkan ketika ia berpikir, “Saya tidak mungkin bisa mengerjakannya dan tugas ini tidak ada gunanya.”
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya bertanya “Apa yang sudah dipelajari?”, tetapi juga perlu bertanya “Bagaimana perasaan peserta didik ketika belajar?”
Emosi ternyata memiliki hubungan dengan prestasi belajar
Selama ini, emosi terkadang dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dari proses akademik. Seolah-olah belajar adalah pekerjaan otak, sedangkan perasaan adalah urusan pribadi.
Penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa pemisahan tersebut tidak sesederhana itu.
Penelitian longitudinal Pekrun dan kolega terhadap 3.425 siswa selama lima tahun menemukan hubungan timbal balik antara emosi akademik dan prestasi. Emosi positif seperti enjoyment dan kebanggaan memprediksi pencapaian akademik berikutnya, sementara emosi negatif seperti kecemasan, kemarahan, rasa malu, kebosanan, dan keputusasaan berkaitan dengan pencapaian yang lebih rendah. Pada saat yang sama, keberhasilan akademik juga dapat memengaruhi emosi siswa pada periode berikutnya.
Temuan tersebut memberikan pesan penting: prestasi dan emosi tidak berjalan dalam dua dunia yang terpisah. Keduanya dapat saling memengaruhi.
Siswa yang berhasil memahami materi mungkin menjadi lebih percaya diri dan menikmati pembelajaran. Sebaliknya, siswa yang terus-menerus mengalami kegagalan dapat semakin cemas dan kehilangan motivasi. Jika siklus tersebut tidak ditangani, belajar dapat berubah menjadi pengalaman yang penuh tekanan.
Belajar yang menyenangkan membutuhkan motivasi
Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang membuat seseorang mau belajar?
Salah satu teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan motivasi adalah Self-Determination Theory (SDT) yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menjelaskan tiga kebutuhan psikologis dasar manusia, yaitu autonomy, competence, dan relatedness—kemandirian, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain.
Dalam konteks pendidikan, autonomy berarti peserta didik memiliki kesempatan untuk memiliki pilihan dan merasa bahwa ia terlibat dalam proses belajar, bukan sekadar diperintah. Competence berkaitan dengan perasaan bahwa dirinya mampu berkembang dan menguasai sesuatu. Sementara relatedness berkaitan dengan perasaan diterima, dihargai, dan memiliki hubungan positif dengan guru, dosen, maupun teman.
Meta-analisis yang mencakup 144 penelitian dan lebih dari 79.000 siswa menemukan bahwa motivasi yang lebih autodeterminated berkaitan dengan kesejahteraan akademik, ketekunan, dan pencapaian. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dukungan terhadap kebutuhan psikologis siswa merupakan faktor penting dalam membangun motivasi belajar. (PubMed Central (PMC))
Dengan kata lain, anak tidak selalu membutuhkan lebih banyak tekanan agar mau belajar. Dalam banyak situasi, mereka justru membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa mampu, memiliki pilihan, dan merasa diterima.
Guru dan dosen bukan hanya penyampai materi
Perspektif psikologi pendidikan juga mengubah cara kita melihat peran pendidik. Guru dan dosen bukan hanya orang yang bertugas menyampaikan materi dan memberikan nilai. Mereka juga berperan dalam menciptakan iklim psikologis dalam pembelajaran.
Cara seorang guru memberikan umpan balik, merespons kesalahan, memberikan kesempatan memilih, mendengarkan pendapat siswa, serta menunjukkan penghargaan terhadap usaha dapat memengaruhi pengalaman psikologis peserta didik.
Sebuah meta-analisis terhadap penelitian motivasi siswa menunjukkan bahwa dukungan otonomi dari guru memiliki hubungan yang kuat dengan kepuasan kebutuhan psikologis dan motivasi yang lebih mandiri. Bayangkan dua situasi.
Pada situasi pertama, seorang siswa menjawab pertanyaan dengan salah dan langsung mendengar, “Kamu saja tidak mengerti hal sederhana seperti ini.”
Pada situasi kedua, guru mengatakan, “Jawabanmu belum tepat. Mari kita lihat kembali bagian mana yang perlu diperbaiki.”
Materi pelajarannya mungkin sama. Namun pengalaman psikologis yang diterima siswa sangat berbeda.
Kesalahan pada situasi kedua tidak diposisikan sebagai bukti bahwa siswa “tidak pintar”, tetapi sebagai bagian dari proses belajar. Sekolah dan kampus juga harus menjadi tempat yang aman secara psikologis.
Kebahagiaan dalam belajar tidak hanya bergantung pada karakter individu. Lingkungan pendidikan memiliki peran penting.
OECD memandang kesejahteraan siswa sebagai sesuatu yang multidimensional, mencakup aspek kognitif, psikologis, sosial, fisik, dan material. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat hanya dari nilai akademik. (OECD)
OECD juga menekankan bahwa hubungan siswa dengan orang tua, kehidupan di sekolah, kesehatan, teman, guru, dan pengalaman belajar berkaitan dengan kepuasan hidup siswa. (OECD)
Hal ini menunjukkan bahwa sekolah dan kampus bukan sekadar tempat transfer pengetahuan. Ia juga merupakan lingkungan sosial tempat peserta didik membangun identitas, hubungan interpersonal, kepercayaan diri, dan kesejahteraan psikologis. Karena itu, menciptakan pendidikan yang sehat berarti menciptakan lingkungan yang memungkinkan peserta didik merasa aman untuk bertanya, aman untuk melakukan kesalahan, aman untuk menyampaikan pendapat, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
Belajar bahagia bukan berarti mengejar kesenangan
Ada hal penting yang perlu diluruskan. Belajar dengan bahagia bukan berarti setiap pembelajaran harus dibuat seperti permainan atau harus selalu menyenangkan.
Belajar tetap membutuhkan usaha, disiplin, konsentrasi, ketekunan, bahkan terkadang rasa frustrasi. Matematika yang sulit tetap membutuhkan latihan. Membaca buku yang kompleks membutuhkan konsentrasi. Menulis karya ilmiah membutuhkan revisi berkali-kali.
Kebahagiaan dalam belajar lebih tepat dipahami sebagai pengalaman psikologis bahwa proses belajar memiliki makna, tantangan dapat dihadapi, diri terus berkembang, dan seseorang tidak menjalani proses tersebut sendirian.
Karena itu, seorang siswa boleh merasa lelah setelah belajar. Ia boleh merasa kecewa ketika mendapatkan nilai rendah. Ia bahkan boleh merasa kesulitan memahami materi. Yang penting adalah adanya keyakinan bahwa kesulitan tersebut merupakan bagian dari perjalanan belajar, bukan tanda bahwa dirinya tidak mampu.
Apa yang dapat dilakukan?
Menciptakan pembelajaran yang lebih bahagia dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Pertama, berikan ruang untuk memilih.
Peserta didik dapat diberikan beberapa pilihan topik, metode tugas, atau cara mempresentasikan hasil belajar. Pilihan sederhana dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap proses belajar.
Kedua, hargai proses, bukan hanya hasil.
Nilai tetap penting, tetapi usaha, perkembangan, strategi belajar, dan keberanian mencoba juga perlu diapresiasi.
Ketiga, jadikan kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran. Kesalahan seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk mempermalukan peserta didik.
Keempat, bangun hubungan yang positif.
Sapaan sederhana, mendengarkan siswa, mengetahui kesulitan mereka, dan memberikan dukungan dapat menciptakan rasa keterhubungan.
Kelima, hubungkan materi dengan kehidupan nyata.
Siswa akan lebih mudah menemukan makna ketika mengetahui mengapa sesuatu perlu dipelajari dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan.
Keenam, ajarkan keterampilan belajar.
OECD dalam PISA menekankan pentingnya kemampuan siswa untuk mengatur proses belajar, menggunakan strategi belajar, berpikir kritis, memiliki motivasi, dan memiliki keyakinan terhadap kemampuan dirinya. (OECD)
Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang nilai
Pendidikan yang baik seharusnya membantu seseorang menjadi lebih berpengetahuan sekaligus lebih mampu memahami dirinya, mengelola emosi, membangun hubungan dengan orang lain, dan menghadapi tantangan kehidupan.
Data PISA terbaru juga semakin menempatkan pembelajaran sebagai proses yang multidimensional, yaitu proses yang dipengaruhi oleh dimensi kognitif, emosional, sosial, dan fisik, serta lingkungan belajar di sekitarnya. (OECD)
Maka, ketika kita berbicara tentang kualitas pendidikan, mungkin sudah saatnya pertanyaan kita diperluas.
Bukan hanya:
“Berapa nilai yang diperoleh siswa?”
Tetapi juga:
“Apakah mereka menikmati proses belajar?”
“Apakah mereka merasa mampu?”
“Apakah mereka merasa dihargai?”
“Apakah mereka merasa aman untuk melakukan kesalahan?”
“Apakah sekolah dan kampus membuat mereka semakin percaya diri untuk terus belajar?”
Sebab, pendidikan yang berhasil bukan hanya pendidikan yang membuat seseorang tahu lebih banyak, tetapi juga pendidikan yang membuat seseorang ingin terus belajar.
Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari belajar dengan bahagia: bukan menghilangkan semua kesulitan dalam belajar, tetapi menciptakan kondisi psikologis yang membuat seseorang percaya bahwa kesulitan dapat dihadapi, kemampuan dapat berkembang, dan proses belajar memiliki makna bagi kehidupannya.
Referensi
Pekrun, R. (2006). The control-value theory of achievement emotions: Assumptions, corollaries, and implications for educational research and practice. Educational Psychology Review, 18, 315–341. (DOI)
Pekrun, R., Goetz, T., Titz, W., & Perry, R. P. (2002). Academic emotions in students’ self-regulated learning and achievement. Educational Psychologist, 37(2), 91–105. (Tandfonline)
Pekrun, R., Lichtenfeld, S., Marsh, H. W., Murayama, K., & Goetz, T. (2017). Achievement emotions and academic performance: Longitudinal models of reciprocal effects. Child Development, 88(5), 1653–1670. (Wiley Online Library)
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. Guilford Press.
Bureau, J. S., et al. (2022). Pathways to student motivation: A meta-analysis of antecedents of autonomous and controlled motivations. Review of Educational Research. (PubMed Central (PMC))
OECD. (2024). PISA 2022 Results (Volume V): Learning Strategies and Attitudes for Life. OECD Publishing. (OECD)
OECD. (2025). PISA 2025 Results: Multidimensional Student Learning. OECD Publishing. (OECD)
OECD. (2019). PISA 2018 Assessment and Analytical Framework: Well-being Framework. OECD Publishing. (OECD














