PANINJAUAN, KLIKPOSITIF – Peluang dan kesempatan selalu bisa ditemukan bagi mereka yang mencarinya. Zulfikar (36) meyakini hal tersebut dengan sepenuh hatinya. Keyakinan yang mendorongnya beberapa tahun yang lalu untuk memulai usaha kreatif memanfaatkan limbah kayu. Pada 2018 Zulfikar pulang ke kampung halamannya di Nagari Paninjauan, X Koto, Tanah Datar dan membuka workshop kreatif yang dia beri nama Mato Kayoe.
Zulfikar mengatakan usaha kreatif yang dirintisnya merupakan bentuk eksplorasi seni terhadap limbah-limbah kayu yang cukup mudah didapatkan. Ujung-ujung kayu yang tidak terpakai pada proses pembuatan perabotan, kayu bekas packing keramik dan pecah belah, oleh Zulfikar dikumpulkan. Kemudian dengan bekal keterampilan dan jiwa seni, dia mengolahnya menjadi barang cindera mata yang bisa dijual. Zul begitu dia akrab disapa, pada awalnya mengaku membuat benda-benda kecil untuk hadiah. Awalnya dengan menggabungkan ornamen kayu dengan seni lukis. Dia telah membuat plakat wisuda, jam hias, medali dan berbagai pernak-pernik dari kayu.
“Awalnya usaha ini saya jalankan secara kolektif bersama kawan-kawan di Padang. Target pasar utamanya adalah mahasiswa. Jadi kami membuat berbagai varian hadiah wisuda, papan ucapan dan kado. Setelah membuka Mato Kayoe di kampung halaman saya mengeksplorasi lebih jauh dan menerima banyak pesanan khusus seperti papan nama toko, logo perusahaan, kaligrafi dan lainnya,” kata Zul saat ditemui di workshopnya di Paninjauan Rabu, 24/6.
Zul menjelaskan dalam proses pengerjaannya potongan-potongan kayu kecil itu ditempel menggunakan lem hingga mencapai bidang tertentu. Setelah itu dibentuk atau dipotong sesuai pola yang diinginkan. Pada lembaran kayu yang sudah menyatu itu, dia kemudian melukis wajah, menulis ucapan, dan berbagai kreasi lainnya. Setelah jadi, Zul menambahkan finishing untuk memunculkan serat kayu sekaligus pelapis agar material kayu menjadi lebih tahan lama.

Di Paninjauan Zul mengembangkan lebih jauh produksi barang-barang dari limbah kayu ini. Produk yang dihasilkannya semakin beragam mulai dari meja rias, tempat tidur bayi hingga meja kursi untuk coffeshop. Dia bahkan pernah bekerjasama dengan sebuah optik untuk membuat bingkai kacamata dari kayu. Dari hasil penjualan berbagai jenis hiasan dan orderan khusus, usaha Zul bisa mengantongi omzet bulanan berkisar dari Rp 15 juta hingga Rp 30 juta.
“Kalau sedang banyak orderan khusus saya biasa mempekerjakan tenaga tambahan. Nanti bayarannya per proyek. Orderan melonjak jika ada even-even di level nagari dan kabupaten. Orderan medali dan tropi bisa sampai ratusan. Semua saya usahakan bisa dikerjakan secara maksimal,” tuturnya.
Alumni Sastra Inggris Universitas Andalas ini mengaku memulai usaha tidak selamanya berjalan mulus. Pada saat lapangan pekerjaan untuk lulusan sarjana begitu terbatas, Zul merasa perlu berbuat sesuatu. Dia ingin menciptakan peluangnya sendiri, sembari berbuat sesuatu yang berarti di kampung halamannya. Zul memulai usaha Mato Kayoe dengan alat serba sederhana dan serba manual. Semuanya dikerjakan menggunakan tangan secara bertahap. Untuk modal awalpun Zul sempat kesulitan karena ada bagian-bagian produksi kayu yang memang harus dibeli, seperti lem, pernis, dan material kayu tertentu untuk permintaan khusus.
Saat memulai usahanya Zul mendapatkan pinjaman KUR UMKM BRI sebesar Rp 15 juta. Dalam waktu dua tahun pinjaman modal tersebut bisa dilunasi tanpa ada kendala. Usahanya yang terus berkembang juga membutuhkan upgrade. Dia kembali mengajukan pinjaman modal usaha sebesar Rp 50 juta. Kredit modal usaha UMKM itu dia gunakan untuk merenovasi workshop, membeli sejumlah peralatan pertukangan dan membeli perangkat komputer untuk mengerjakan design digital. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, pinjaman itu pun berhasil dia lunasi tanpa pernah tertunda.
Zul mengaku berupaya agar pembayaran kreditnya tidak pernah terlambat apalagi bermasalah. Belakangan Zul kembali mengajukan pinjaman modal sebesar Rp 35 juta untuk mengembangkan usahanya sembari mencari celah untuk menyasar pasar baru. Menurutnya dalam industri kreatif, sangat penting untuk mengikuti perkembangan zaman, selera pasar dan menilik celah-celah bisnis baru.
Untuk penjualan produk, kata Zul, dia menggunakan berbagai platform media sosial. Selain itu dia berupaya untuk menghadiri berbagai bazar atau pameran industri kreatif dan UMKM. Baik itu level nagari, level kabupaten hingga tingkatan provinsi, selagi bisa datang dan menampilkan produk hasil karyanya, Zul pasti hadir pada setiap pameran tersebut. Menurut Zul produk yang dijualnya dapat dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga para pejabat negara.

“Saya membuat hampir semua benda-benda dari kayu. Mulai dari gantungan kunci, cincin, tas, hingga kaligrafi kayu ukuran besar. Harganya pun sangat bervariasi, mulai dari belasan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Jadi semua orang bisa ikut menikmati seni kayu buangan yang kita upayakan tetap memiliki fungsi dan arti di tengah kehidupan ini,” ujarnya.
Ahmad Wira, akademisi dan pengamat ekonomi dari UIN Imam Bonjol Padang, mengatakan tingginya angka pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi merupakan tantangan struktural yang memerlukan pendekatan multidimensi. Menurutnya KUR UMKM BRI berpotensi menjadi salah satu opsi penting untuk merangsang minat pengusaha baru. Meskipun efektivitasnya perlu dilihat secara kritis.
“Program KUR Mikro dan KUR Super Mikro BRI secara teori membuka peluang bagi anak muda untuk memulai usaha tanpa harus memiliki modal besar atau agunan yang memadai. Skema KUR Super Mikro (plafon hingga Rp 10 juta) khususnya dirancang agar dapat diakses oleh pemula yang baru merintis usaha. BRI juga telah mengembangkan program pendampingan dan literasi keuangan yang terintegrasi untuk membekali debitur muda dengan pengetahuan manajemen usaha,” katanya.
Ahmad mengatakan dengan kondisi saat ini terdapat sejumlah tantangan yang mesti dihadapi, khususnya oleh anak muda. Dia mengatakan anak muda lulusan perguruan tinggi sering kali tidak memiliki track record usaha yang menjadi salah satu pertimbangan bank dalam penyaluran kredit. Selain itu minat berwirausaha di kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan preferensi untuk menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta. Meski begitu program KUR BRI merupakan instrumen kebijakan permodalan yang strategis
“Selain menyokong sektor UMKM yang telah ada, KUR BRI berpotensi mendorong wirausaha baru terutama di kalangan anak muda. Program ini juga menjadi tulang punggung pemerataan akses keuangan berkat jaringan distribusi BRI yang tidak tertandingi. Program ini memerlukan sinergi antara pemerintah, BRI, lembaga pendidikan, dan komunitas UMKM lokal,” tuturnya.







