BATU TABA, KLIKPOSITIF – Aroma gurih manis daging menguar dari pintu gang di jalan lintas Singkarak – Bukittinggi. “Katupek Cancang H. Lenggang” papan nama di pinggir jalan raya itu menjadi satu-satunya penunjuk arah yang menandakan bangunan bekas stasiun kereta bikinan Belanda yang kini telah menjadi warung sederhana.
“Duduklah dulu. Mau makan apa?” kata Selmawati, Sabtu 30/5 di warungnya Batu Taba, Tanah Datar.
Selmawati (42) sedang menggoreng lembaran-lembaran daging tipis, yang jika dilihat dengan perhatian yang penuh lebih mirip potongan kayu kering, ketimbang daging sapi. Minyak panas di dalam kuali besi berbuih tinggi ketika lembar-lembar daging yang kering itu mulai digoreng. Aroma yang begitu khas memenuhi ruangan warung berdinding kayu itu.
Di warungnya yang sederhana, Selmawati tidak menawarkan banyak pilihan menu. Hanya ada tiga opsi makanan. Katupek gulai cancang, dendeng dan pangek. Katupek gulai cancang, merupakan makanan yang umum untuk sarapan. Dasarnya adalah ketupat kuah dengan gulai rebung yang dicampur dengan potongan-potongan daging sapi. Menu ini menjadi menu sarapan yang umum di Sumatra Barat. Tapi potongan daging yang dicincang kecil yang disebut βcancangβ itu yang menjadi pembeda. Sedangkan dendeng adalah menu utama yang menjadi primadona di warungnya.
βJika sudah tengah hari begini, Biasanya orang-orang yang datang memang mencari makan siang,β katanya sambil meletakkan satu porsi nasi dendeng yang masih mengepulkan asap.
Selmawati mengatakan usaha tempat makan H.Lenggang ini merupakan peninggalan mendiang suaminya. Awalnya warung makan ini bernama Bofet Hj. Aminah yang dirintis mertuanya sejak tahun 1950. Usaha warung makan ini kemudian dilanjutkan oleh suaminya dan diganti nama menjadi H.Lenggang pada tahun 2016. Sejak saat ini Selmawati ikut membantu suaminya meneruskan usaha keluarga.
βSebelum meneruskan usaha Amak ini, Uda berjualan keliling ke berbagai daerah. Kami mengumpulkan cengkeh, jagung, coklat dan berbagai dagangan lainnya. Dari Pasar Solok atau daerah lain di sekitar Singkarak ini, dagangan itu kemudian di bawa ke Pekanbaru atau Rengat. Amak kemudian meminta Uda untuk meneruskan warung makan ini. Sejak itu saya menetap di sini membantu Uda,β ujarnya.

Selmawati mengatakan, sejak suaminya berpulang beberapa tahun lalu, dia lah yang meneruskan usaha warung makan ini. Semua resep masakan sudah diajarkan oleh mertua dan suaminya. Namun, menjalankan usaha warung makan seorang ini tidaklah mudah. Meski telah memiliki banyak pelanggan setia, Selmawati mengaku juga mengalami pasang surut ekonomi. Hasil penjualan yang tidak selalu stabil ditambah lagi harga daging dan bahan makanan yang hampir selalu meningkat. Selmawati kemudian mengajukan pinjaman KUR UMKM BRI untuk menambah modal usaha.
Dia mengatakan sejak tahun lalu dia sudah mendapat bantuan pinjaman modal usaha KUR UMKM BRI senilai Rp 50 juta. Modal tersebut sudah digunakan untuk meremajakan warung dan bahan baku makanan. Selmawati mengatakan saat ini keuntungan rata-rata yang bisa didapatkan mencapi Rp 500 ribu setiap harinya. Jumlah itu bisa meningkat tajam pada akhir pekan atau musim liburan.
βAlhamdulillah. Setiap orang yang datang makan di sini, biasanya datang kali di kemudian hari. Begitu mereka datang lagi, biasanya membawa teman atau keluarga yang lain. Dari cerita mulut ke mulut itulah orang datang mencari makan ke sini,β tuturnya.
Alto Berry, seorang penghobi otomotif anggota klub Vespa dari Bukittinggi mengaku sudah rutin makan siang di Bofet H.Lenggang. dia bersama anggota komunitasnya sering melakukan turing motor berkeliling berbagai daerah di Sumatera Barat. Rute yang paling sering di tempuh adalah Bukittinggi -Solok via Danau Singkarak. Dalam satu bulan, setidaknya satu kali mereka pasti melalui rute ini dan makan siang dipastikan menu dendeng kering yang tersohor itu.
βDi sini rasanya seperti makan di rumah sendiri. Rasa masakannya seperti kita makan masakan ibu, terasa akrab di lidah. Apalagi dendengnya baru digoreng ketika kita sudah memesan, jadinya begitu segar dan gurih. Kita tidak perlu pusing harus memutuskan mau makan apa. Pilihannya cuma satu, dendeng goreng,β tuturnya.
Bagi Alto, warung makan H. Lenggang merupakan tempat makan enak yang harus dijaga. Dia mengatakan warung ini merupakan βhidden gemβ di tengah banyaknya tempat makan enak yang tersebar di penjuru Sumatera Barat. Dia kemudian memberi tips agar tidak terlalu lama menunggu, menahan selera ketika ingin mencicipi dendeng balado yang jadi primadona itu.
βJika sudah pasti akan datang ke sini, sebaiknya telpon dulu untuk memastikan warungnya buka atau tidak. Jika sudah pasti, langsung pesan menu apa yang diinginkan. Triknya, perkirakan jarak tempuh ke sini, agar ketika sampai kita bisa langsung menyantap dendeng goreng dengan nasi yang masih hangat,β katanya.






