TUA PEJAT,KLIKPOSITIF โ Masyarakat Mentawai di Tua Pejat, Pulau Sipora menyebut Penginapan Kristine merupakan salah satu usaha penginapan pertama yang dimiliki oleh orang asli Mentawai di pesisiran pantai Tua Pejat. Semalina Marina mengatakan usaha penginapan ini dimulai pada tahun 2004 bersama suaminya Ayub Sakoikoi. Dia menyebut banyak perubahan yang terjadi selama menjalankan bisnis penginapan dua puluh tahun lebih.
โKami memulai semuanya dari awal. Awalnya ini penginapan kecil-kecilan. Dan banyak peristiwa dan perubahan yang terjadi. Kami mengalami deretan peristiwa gempa, mulai dari gempa 2004, 2007, 2009 hingga gempa 2010,โ ujarnya Senin,25/5 di Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Sermalina mengaku mengalami pasang surut dalam menjalankan usahanya. Namun dukungan penuh keluarga membuat usaha penginapannya mampu bertahan hingga hari ini. Salah satu bentuk upaya yang dilakukannya adalah mengikuti perkembangang teknologi. Hotel atau penginapannya telah menyediakan pembayaran non tunai baik dengan pembayaran melalui QRIS atau transfer bank, salah satunya melalui BRImo atau bank BRI.
โPeristiwa gempa dan cuaca badai yang tidak menentu tidak menyurutkan niat orang datang ke Mentawai. Pengunjung tidak selalu ramai memang, tapi beberapa tahun belakang pengunjung lebih senang membayar dengan cara scan QRIS atau transfer bank. Apalagi para turis dari luar negeri,โ katanya.

Penginapan Kristine terletak tepat di bibir pantai di samping Pelabuhan. Bangunannya terlihat jelas dari atas kapal-kapal yang merapat ke dermaga Tua Pejat. Berada di kawasan strategis dan berbagai kemudahan akses ini juga menjadi satu daya tarik yang membuat Penginapan Kristine menjadi pilihan menarik.
Usaha yang dijalankan Sermalina bersama keluarga ini merupakan anomali di tengah industri penginapan dan resort di Mentawai. Asosiasi Resort Mentawai menyebutkan sekitar 90 persen resort di Mentawai merupakan penanaman modal asing. Tapi sayangnya tidak seluruhnya berjalan sesuai ketentuan, karena sebagian hanya menggunakan nama masyarakat lokal.

Beni Sakoikoi, putra Sermalina, mengaku harus memutar otak untuk bisa bersaing dengan hotel atau resort yang jumlahnya terus bertambah di Mentawai. Salah satu langkah yang bisa dilakukan katanya dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang bisa mendukung peningkatan pengunjung.
โPersaingan bisnis hotel dan penginapan semakin ketat. Saya bisa membantu dengan memanfaatkan teknologi. Pembayaran non tunai atau lewat QRIS itu sangat membantu. Selain itu saya juga menggunakan media sosial untuk promosi. Membuat konten-konten wisata dan menyebarkan lewat Tiktok dan Instagram. Investasinya lumayan juga buat beli kamera dan drone. Dalam jangka panjang kita bisa lihat hasilnya,โ katanya.






