KLIKPOSITIF — Narasumber Workshop Tari “Ganggam Tari Kontemporer 4” di UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menekankan pentingnya riset budaya dalam proses penciptaan karya tari kontemporer. Para koreografer muda didorong menjadikan tradisi Minangkabau sebagai sumber pengetahuan gerak, bukan sekadar objek pertunjukan.
Dalam pemaparannya pada workshop yang berlangsung 11-13 Mei 2026 itu, koreografer sekaligus narasumber, Denny Maiyosta, menjelaskan proses kreatif tari kontemporer harus dimulai dari observasi budaya hingga eksperimen fisik di studio.
Ia memaparkan metode penciptaan karya dimulai dari pengamatan mendalam terhadap tradisi untuk mengekstrak pesan sosial dan psikologis yang terkandung di dalamnya. Setelah itu, ide dikembangkan melalui laboratorium gerak dan eksplorasi biomekanik tubuh penari.
“Tradisi tidak untuk ditiru secara mentah, tetapi dibaca ulang untuk menemukan gagasan baru,” ujarnya dalam materi workshop.
Denny juga menjelaskan silek Minangkabau dapat dipahami sebagai “sains gerak” yang memiliki konsep keseimbangan, arsitektur tubuh, hingga pola langkah yang presisi. Menurutnya, unsur-unsur tradisi itu dapat diterjemahkan menjadi bahasa artistik kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam presentasinya, ia memperlihatkan bagaimana gerak tradisi didekonstruksi menjadi anatomi tari modern melalui pengolahan level tubuh, arah langkah, hingga dinamika tangan dan ruang panggung.
“Tubuh penari menjadi ruang pertemuan antara tradisi, identitas sosial, dan tantangan modernitas,” katanya.
Ia juga memaparkan sejumlah karya yang lahir dari riset budaya, di antaranya “Geometry” dan “Lasuang Balangsuang”. Kedua karya tersebut dikembangkan dari pengamatan terhadap kehidupan masyarakat Minangkabau, mulai dari ritme aktivitas harian hingga simbol kolektivitas dalam budaya lokal.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan workshop tersebut memang dirancang untuk memperkuat kemampuan riset koreografer muda sebelum menciptakan karya tari.
Menurutnya, peserta tidak hanya dibekali teknik komposisi tari kontemporer, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana membaca 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sebagai fondasi penciptaan karya.
Workshop Tari Ganggam Tari Kontemporer 4 diikuti 25 koreografer muda Sumatera Barat hasil seleksi terbuka. Kegiatan itu menjadi bagian dari program pembinaan dan pengembangan seni budaya yang digelar UPTD Taman Budaya Sumatera Barat.







