KLIKPOSITIF -Beberapa waktu terakhir, media penuh dengan pemberitaan tentang bullying, baik itu media konvensional maupun media baru. Bullying sangat gampang terekspose karena saat ini orang dengan sangat gampang untuk memviralkan bermodalkan jari saja. Beragam komentar juga muncul, kebanyakan komentar tidak berpihak kepada pelaku bullying. Masyarakat mulai geram dan bertanya, bagaimana nasib anak bangsa jika bullying semakin banyak terjadi di penjuru negeri ini.
Bullying ternyata masih banyak terjadi di Sumatera Barat, beberapa kasus juga muncul di media sosial. Sungguh ironis tentunya, dan lagi-lagi kita bertanya tentang penanaman nilai terhadap generasi dan bagaimana masa depan anak ranah minang nantinya. Beberapa tokoh nasional yang dilahirkan di Sumatera Barat telah mengharumkan nama Sumatera Barat di kancah nasional hingga internasional, namun apabila nantinya calon-calon tokoh dari ranah minang mengalami degradasi moral tentunya akan berpengaruh pada eksistensi ranah minang di masa depan. Perkembangan teknologi membawa perubahan yang sangat besar dalam hal penyebaran aktivitas bullying. Bullying di media digital atau yang dikenal dengan istilah cyberbullying dapat terjadi dimana saja dan kapan saja tanpa mengenal waktu. Sarana yang digunakan pelaku cybercullying pun berkembang searah dengan perkembangan teknologi digital, baik melalui e-mail, instant messaging, social media, social networking, online gaming, chat room, website, internet communities maupun melalui pesan digital lainnya, termasuk atas gambar dan pesan yang langsung masuk ke telepon seluler (Aoyama, 2010; Whittaker, 2015). Media online yang digunakan ternyata sangat rentan dengan target anak-anak dan remaja.
Mengatasi bullying tentunya perlu strategi agar kasus ini tidak selalu meningkat disetiap tahunnya, salah satunya yaitu dengan memiliki kompetensi digital yang berkaitan dengan terliterasinya seseorang dalam penggunaan media digital. Tidak semua orang memiliki kompetensi digital yang baik, bisa dibuktikan dengan ketidakmampuan seseorang untuk menyeleksi setiap informasi yang masuk hingga kemampuan untuk menanggapi setiap informasi yang ada di disetiap postingan pada beragam media sosial. Ternyata, salah satu komentar yang ditorehkan di media sosial dapat meninggalkan jejak digital bagi seseorang, apakah itu positif maupun sebaliknya.
Asupan-asupan di media digital ternyata sangat mempengaruhi perkembangan dan masa depan anak bangsa, khususnya Sumatera Barat. Sebagaimana kita ketahui Β “adat basyandi syarak, syarak basandi kitabullah” sangat dipegang teguh oleh masyarakat minangkabau. Ada nilai dan adat yang mengikat setiap orang dalam berinteraksi setiap harinya dan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat di Sumatera Barat. Wajar apabila kita harus fokus dalam memberantas cyberbullying, karena ini sangat dikhawatirkan akan melunturkan nilai dan adat istiadat yang sudah terbentuk dan efek terdasyat yang timbul yaitu degradasi moral.
Penyebaran konten bullying di media sosial juga sangat cepat dan mampu menjangkau audiens yang lebih banyak. Jika kita lihat disetiap harinya, banyak sekali pemberitaan tentangΒ bullying dan maraknya video bullying disebar tanpa memperhatikan kaidah-kaidah jurnalistik. Video tersebut juga sangat memungkinkan untuk diputar berulang oleh audiens dan berdampak pada keinginan orang untuk berperilaku sama apabila tidak terliterasi secara baik.
Berdasarkan observasi dan wawancara yang pernah penulis lakukan di beberapa sekolah yang ada di kota Padang, diperoleh data bahwasanya banyak anak yang tidak tahu tentang bullying dan cenderung meniru dari apa yang sudah mereka tonton dari media sosial. Contohnya, jika di video tersebut ada yang berkata kasar, maka ini akan menjadi kata-kata viral yang sering mereka ucapkan dikesehariannya, ironis memang jika kondisi ini dibiarkan.
Kita harus menyadari bahwa saat ini masyarakat kita sudah bergerak dengan cepat, menjadi society 5.0 , di mana konsep masyarakatnya berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based). Jika sebelumnya masyarakat informasi (society 4.0) mencari, mengambil dan menganalisis informasi atau data di dunia melalui internet, maka Society 5.0 bergerak lebih dahsyat. Pada masa Society 5.0 merupakan gabungan antara big data, internet, artificial intelegent, dan robotic pada setiap kegiatan kehidupannya baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sehingga mau tidak mau masyarakat harus memahami pentingnya perubahan dan situasi pada digital era. Di sinilah literasi media digital menjadi sangat diperlukan.
Penulis: Revi Marta
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Andalas







