Buya Syafii Maarif dan Penghargaan

Oleh:

Endang Tirtana

Alumni Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin UIN IB Padang/Komisaris PT Semen Baturaja

Minggu cerah, ada panggilan masuk di gawai saya. Panggilan dari Bang Rifki Diflaizar, Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, juga senior di Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), sekarang sedang bekerja di Kanwil Departemen Agama, Sumatera Barat.

Bang Rifki, dalam bincang di gawai itu, meminta saya menyampaikan permohonan kepada Buya Syafii Maarif dari panitia Dies Natalis UIN Imam Bonjol (IB) untuk bersedia menerima penghargaan serta memberikan sambutan pada acara puncak Dies Natalis, 29 November 2021. Dalam hati saya berkata, mungkin sudah bersusah payah panitia menunggu jawaban dari Buya mengenai acara ini.

Tak pikir panjang. Saya sampaikan kepada senior saya itu akan menyampaikan dan berusaha meyakinkan Buya. Sebab, selama ini Buya sering menolak penghargaan dari berbagai pihak karena merasa belum banyak berbuat banyak. Tidak lama berselang, saya menelepon Buya menyampaikan keinginan dari UIN IB Padang itu.

Sesuai dengan dugaan saya sebelumnya, Buya menyampaikan bahwa beliau bukan orang yang tepat untuk mendapat penghargaan itu: "Apalah saya ini" kata Buya. Saya tidak patah semangat. Terus meyakinkan Buya bahwa UIN IB Padang adalah salah satu Institusi pendidikan paling penting dan berpengaruh untuk kemajuan Sumatera Barat.

UIN IB Padang adalah pabrik otak yang akan memproduksi manusia-manusia unggul, terbuka dan moderat. Di tengah sorotan sikap keberagamaan yang dipandang tertutup, kita harus menguatkan UIN IB Padang, begitu saya meyakinkan Buya. Saya sebagai alumni UIN IB Padang berharap betul supaya Buya bersedia.

Akhirnya Buya menyerah. "Ya sudah, kirimkan saja link zoom acaranya, semoga saya besok tidak ada halangan dan insya Allah hadir. Jangan terlalu berharap betul yah, dan tolong ingatkan saya" kata Buya.

Senin cerah, saya agak cemas juga ketika Buya tidak membalas WA untuk bersiap-siap masuk ke ruang zoom. Untuk mengurangi kecemasan itu, saya mengirim pesan kepada Dr. Asmul Khairi juga mengingatkan Buya. Lega, kecemasan Buya tidak hadir seketika lenyap ketika melihat Buya sudah tampak di ruang zoom. UIN IB memberi penghargaan kepada Buya Syafii Maarif atas pemikirannya tentang relasi Islam dan negara yang telah memberikan pondasi penting dalam membangun Islam moderat di Indonesia.

Pesan Buya

Buya dalam sambutannya menyampaikan agar UIN IB Padang tidak berhenti hanya pada teori dan konsep pemikiran agama tetapi harus lebih praksis mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Ini mengingatkan saya pada pernyataan Ali Shariati bahwa tugas utama cendekiawan adalah menjembatani dan mencari solusi atas persoalan-persoalan rakyat dengan begitu, para cendikiawan akan menjadi orang-orang yang tercerahkan dan mencerahkan.

Buya menyatakan itu tentu dengan pengamatan yang tajam terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Sudah kita mafhumi bahwa Sumatera Barat dulunya dikenal sebagai negeri industri otak kini mengalami maca paceklik lahirnya tokoh-tokoh yang berkontribusi besar terhadap Republik. Masa paceklik ini terjadi karena tanah subur sistem pendidikan Sumatera Barat telah mengalami masa tandus karena kemerdekaan berpikir dan bersikap telah punah akibat dari menjadikan kekuasaan dan pragmatisme menjadi tujuan. Dengan nada tegas Buya menyampaikan, kalau sudah terpilih menjadi gubernur, bupati dan walikota harus menjadikan diri sebagai pemimpin rakyat bukan hanya menjadi pemimpin partai pendukung dan kelompoknya saja.

Persoalan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah tentang meluasnya peredaran narkoba di Sumatera Barat. Lokadata pernah merilis data, persebaran narkoba paling meningkat di Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir dibandingkan provinsi lain di seluruh Indonesia.

Angkanya naik dari 14,7% pada 2014 menjadi 37,7% pada 2018, atau ada pertumbuhan sekitar 23,1% dalam empat tahun. Sebagai perbandingan, DKI Jakarta yang pernah mencatat angka tertinggi 47,2% pada 2014 justru turun menjadi 34,5% pada 2018.

Dengan demikian, Sumatera Barat mencatatkan prestasi sebagai provinsi tertinggi dalam persoalan narkoba di Indonesia. Menyusul di posisi berikutnya adalah DKI Jakarta, dan di urutan ketiga Riau yang berada di angka 36,4%.

Sebagai catatan, data tersebut merujuk pada data potensi desa (Podes) 2018 keluaran dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam kasus Sumbar, peredaran dan penyalahgunaan narkoba tersebar di lebih dari sepertiga desa dan kelurahan. Pada tingkat kabupaten/kota bahkan bisa lebih tinggi, misalnya dari 104 jumlah desa/kelurahan di ibukota Padang angkanya berada pada posisi 82,7%. Sedangkan di Kabupaten Pasaman Barat, angkanya mencapai 59,3% dari jumlah keseluruhan 91 desa/kelurahan yang ada.

UIN IB Padang harus bersuara keras kepada pemerintah untuk serius menangani masalah ini dan sekaligus ikut mencari memberikan solusi. Sebab, jika persoalan narkoba ini tidak segera diselesaikan maka kita akan kehilangan generasi-generasi yang berkualitas di masa depan.

Buya juga menyampaikan tentang pentingnya membumikan keadilan sosial dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil'alamin tidak hanya sekedar ucapan tapi hidup dalam kenyataan di masyarakat. Tauhid yang diam akan ketidakadilan adalah tauhid yang mandul. Itulah yang mendasari keyakinan Buya untuk terus bersuara keras kepada pemerintah agar bisa membumikan keadilan sosial kepada seluruh rakyat Indonesia.

Cinta Minang

Dengan agak penuh emosional Buya menyampaikan kecintaannya terhadap ranah Minang dan kecintaannya itu seringkali ditunjukkan dalam bentuk kritik agar membuka mata dan pikiran masyarakat Minang untuk mencari solusi-solusi terbaik untuk kemajuan Sumatera Barat.

Tulisan-tulisan opini tentang minang di berbagai media dan mendengarkan lagu-lagu minang yang sering di forwad Buya ke saya, sepertinya menjadi salah satu obat kerinduan itu. Terimakasih kepada UIN IB Padang yang telah memberi penghargaan kepada Buya.

Selamat hari jadi yang ke-55 semoga UIN IB Padang, semoga membangkitkan dan menghidupkan kembali tradisi luhur Minang yaitu, membuka diri terhadap diskusi-diskusi pemikiran yang terus berkembang pesat, kemerdekaan berpikir dan berpendapat.

Selamat juga kepada Ibu Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd sebagai rektor perempuan pertama di UIN IB Padang. Saya jadi ingat kutipan dari Margaret Thatcher, jika kamu ingin semuanya selesai dan beres, minta atau berikanlah kepada perempuan. (*)


Endang Tirtana

Alumni Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin UIN IB Padang/Komisaris PT Semen Baturaja