Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) pada Perempuan di Media Sosial Twitter

Oleh:

Nazlia Tifany

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Pandemicovid-19membuat hampir seluruh masyarakat dunia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah demi memutus tali penyebaran virus ini. Dengan kondisi seperti ini, beberapa orang merasa tidak terbiasa dengan peralihan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang singkat. Semua kegiatan yang biasanya dilakukan di lapangan menjadi kegiatan yang dilaksanakan secara virtual. Karena hal ini, masyarakat lebih banyak berinteraksi dengan orang lain lewat media sosial dan menghabiskan banyak waktu di media digital.

Selama pandemi ini pula, sebagian orang memanfaatkan waktu luang yang banyak selama di rumah dengan cukup baik seperti mempelajari hal-hal baru, lebih banyak berinteraksi dengan keluarga, dan waktu kerja yang fleksibel. Namun, sebagian orang lainnya melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat seperti mencari hiburan atau kerusuhan di media sosial. Betul, tidak ada yang salah dalam mencari hiburan untuk diri sendiri, tetapi hal ini menjadi salah ketika hiburan yang dinikmati didapatkan dari konsumsi video asusila atau video porno yang beredar bebas di media sosial, terutama Twitter.

Tetapi, yang menjadi fokus dari tulisan ini bukanlah tentang bagaimana orang-orang terhibur dengan mengonsumsi video porno, namun hal ini termasuk dalam Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Bahkan, menurut Ellen Kusuma, Divisi Keamanan Online Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), kasus KBGO selama pandemi terhadap perempuan meningkat tiga kali lipat di masa pandemi covid-19.

Berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk memerangi kasus pornografi sudah acap kali dilakukan, seperti yang sudah dilakukan oleh Kominfo dalam pemblokiran situs Tumblr pada 2018 lalu. Tidak hanya pemerintah, pemilik platform seperti Google dan Facebook sudah mengatur fitur yang dapat mendeteksi konten-konten pornografi. Namun, sayangnya, ketika semua konten pornografi sudah sukar ditemukan melalui keyword di Google, orang-orang beralih ke media sosial yang kini berpusat di Twitter.

Mencari dan mendapatkan konten pornografi di Twitter sangat mudah dilakukan. Hanya dengan memasukkan kata kunci berbau mesum di kolom pencarian akan langsung muncul berbagai cuitan dan konten terkait kata tersebut. Bahkan, kata kunci porno atau mesum seringkali berada pada jejerantrending topic. Twitter memang tidak melakukan pemblokiran kata kunci mesum atau porno pada sistem pencariannya. Lebih lanjut lagi, di hasil pencarian nantinya akan menampilakan rekomendasi akun-akun yang banyak membahas kata kunci yang dicari dan biasanya akan lebih mudah lagi apabila menggunakan tagar (#) pada cuitan.

Berbagai jenis konten pornografi dapat ditemukan lewat kata kunci dan akun-akun porno tersebut, seperti cuplikan video porno professional hingga video amatir yang ditujukan untuk balas dendam. Bahkan, seringkali penyebaran konten-konten seperti ini hanya untuk memeroleh keuntungan pribadi. Seperti yang dialami oleh salah satu artis tanah air, Gisela Anastasia, yang diduga sebagai pemeran dalam video asusilas yang beredar di Twitter.

Mirisnya lagi, setelah ditanyakan kepada pelaku penyebaran video tersebut, mereka mengaku hanya untuk mendapatkan banyakfollowersatau pengikut demi memenangkangiveaway.Lebih parah lagi, banyak akun-akun yang secara terang-terangan menjual konten-konten tersebut kepada pengguna lainnya. Menurut salah satu aktivis kolektif Purple Code, Dhyta Caturani, mereka akan mengunggah kembali konten tersebut ke dalam Google Drive atau Clouds lalu menawarkan dengan harga Rp100 ribu-Rp150 ribu. Kemudian, pembeli akan mendapatkan link untuk mengakses konten tersebut.

Tindakan seperti ini sangat merugikan bagi pihak perempuan, karena stigma masyarakat di Indonesia yang sudah terkonstruksi sedemikian rupa bahwa hanya perempuan yang terlihat sangat 'hina', tetapi laki-laki jarang dianggap demikian. Dari sinilah terjadi Kekerasan Gender Berbasi Online (KBGO). Penyebaran foto dan video privat tanpa izin, stalking atau ancaman lewat media sosial dan pesan teks yang melecehkan secara seksual merupakan tiga bentuk kasus yang dilaporkan sebagai kasus KBGO.

Dari ketiga kasus tersebut, penyebaran foto dan video menjadi paling banyak dilaporkan karena korban merasa tidak mampu untuk menghandle masalah tersebut. Pula, dampak sosial karena stigma masyarakat pun berdampak besar bagi korban. Mereka akan mendapatkan stigma negatif dari keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitar.

Tidak sampai disitu, ada beberapa dampak yang mungkin akan dirasakan perempuan setelah menjadi korban KBGO, seperti gangguan terhadap psikologis berupa kecemasan, ketakutan, hingga depresi. Bahkan, yang lebih menakutkan korban akan melakukan bunuh diri. Selain itu, perempuan juga akan mendapatkan kerugian dari segi ekonomi atau pekerjaan. Beberapa kasus yang dialami sebagian artis tanah air bahkan kehilangan tawaran pekerjaan karena hal ini. Seperti yang dialami ZA,ex-memberJKT 48 dan juga pemeran utama dalam filmDua Garis Biru, sempat mengalami hal yang serupa.

Video yang dianggap tidak senonohscreen recordingoleh salah satu pengikutZAdari akun pribadinya dan kemudian disebarluaskan ke berbagai sosial media lainnya, hingga menjadi trending di Twitter. Brand yang bekerjasama dengan Zara langsung diserang oleh netizen untuk memberhentikanaktivitasZAsebagai Ambassador dari Brand tersebut. Tidak lama,AZlangsung menghapusketerangan menjadi Brand Ambassador sebuah produk di Bio Instagram miliknya.

Apa yang dialami perempuan-perempuan sepertiAZnantinya akan mengalami keterbatasan mobilitas karena kehilangan kemampuan bergerak bebas dalam ruang online maupun offline. Sehingga, beberapa dari mereka memutuskan untuk mengasingkan diri dari kehidupan sosial atau publik. Tetapi, tidak sedikit juga perempuan-perempuan yang berhasilsurvivedengan kekerasan yang mereka alami.

Memang belum ada hukum yang jelas-jelas melindungi korban-korban kekerasan pada perempuan. Tetapi, sudah ada gerakan-gerakan pendukung dan memperjuangkan hak-hak perempuan yang sebagian besar juga didirikan oleh perempuan, Seperti SAFEnet, Purple Code, dan lain sebagainya. Komnas Perempuan pun hingga saat ini masih menerima pengaduan-pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan. Siapapun dapat menjadi korban kekerasan seksual, namun yang terpenting adalah tidak merasa berjuang sendirian. Dan siapapun dapat menjadi saksi dari korban kekerasan seksual atau melihat kasus KBGO, tidak menghakimi atau victim blaming adalah tindakan yang tepat untuk menanggapinya. (*)


Nazlia Tifany

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas