Perempuan Harus Melek Akan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO)

Oleh:

Atika, S.I.Kom

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Untuk sekarang hal yang sangat dibutuhkan oleh orang adalah 'Internet'? mengapa demikian? coba perhatikan lingkungan sekitar kita, semua orang sangat membutuhkan yang namanya jaringan internet. Kehadiran jaringan internet sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer bagi manusia. Pada era digital saat ini sudah banyak disuguhkan beberapa platform sosial media yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi, menampilkan konten, sebagai wadah kreativitas dan yang sangat terpenting dalam memperoleh informasi secara cepat.

Kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat berdiam dirumah dengan mengurangi aktivitas, menyebabkan panen pengguna bagi platform kencan online. Data dari Dating.com melaporkan bahwa jumlah pertemuan untuk berkencan melalui aplikasinya meningkat 82% sejak awal maret 2020. Peningkatan juga dirasakan oleh aplikasi Tinder dengan menyebutkan bahwa laman percakapan meningkat 10-30%. Sayangnya, seiring meningkatnya aktivitas pengguna pada situs kencan online, angka Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) pun meningkat.

Bagaikan pisau bermata dua, pribahasa tersebut cocok untuk menjelaskan kehadiran platform sosial media. Satu sisi memiliki pengaruh positif bagi aktivitas masyarakat. Sisi lainnya memiliki kekurangan yang akan mempengaruhi penggunanya. Sosial media memberikan sisi tajam terhadap pengguna terkhusus pada kaum perempuan yang banyak menjadi objek pelecehan seksual.

Menurut Komisioner Komnas Perempuan bahwa ada 9 bentuk kekerasan seksual diantaranya adalah, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan alat kontarasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual. Kekerasan berbasis gender online (KBGO),

Ada yang udah pernah dengar apa itu KBGO ? Iya, KBGO merupakan serangan terhadap tubuh, seksualitas dan identitas gender seseorang yang difasilitasi teknologi digital. Korban kekerasan berbasis gender online sebagian besar berasal dari generasi muda, mengapa demikian ? karena sebagian besar pengguna aktif jaringan internet dari anak muda mulai dari usia pelajar hingga yang sudah memiliki pekerjaan. Dilihat dari aspek gender, yang rentan menjadi korban berasal dari kaum perempuan, yaitu 71%.

Komnas Perempuan mencatat jumlah kasus kekerasan berbasis gender online meningkat tiap tahunnya. Pada 2020, peningkatan kasus KBGO mencapai tiga kali lipat. Kasus yang banyak terjadi dari tersebarnya foto dan video bermuatan intim milik korban yang diupload mantan kekasih lalu tersebar secara luas di sosial media. Angka yang disampaikan oleh Komnas perempuan bisa jadi berbeda dengan yang ada diluar sana, karena banyaknya korban kekerasan yang tidak melapor pada pihak terkait.

KBGO sendiri terbagi dalam 9 bentuk, antara lain : [1] Cyber Hacking, dilakukan secara ilegal dengan maksud merusak reputasi korban. [2] Cyber Harrasment, penggunaan teknologi untuk menghubungi, mengancam, atau menakuti korban. [3] Impersonation, penggunaan teknologi untuk mengambil identitas orang lain dengan tujuan mempermalukan dan menghina korban. [4] Cyber Recruitment, penggunaan teknologi untuk memanipulasi korban sehingga tergiring kedalam situasi yang merugikan. [5] Cyber Stalking, penggunaan teknologi untuk menguntit tindakan perilaku korban. [6] Malicious Distribution, penggunaan teknologi untuk menyebarkan konten-konten yan merusak reputasi korban. [7] Ravenge Porn, dilakukan atas dasar motif balas dendam dengan menyebarkan foto dan video intim korban. [8] Sexting, Pengiriman gambar atau video pornografi kepada korban. [9] Morphing, pengubahan suatu gambar atau video denga tujuan merusak reputasi korban.

KBGO menyebabkan penderitaan secara fisik dan mental. Kerugian psikologis yang dirasakan korban berupa rasa depresi, kecemasan, dan ketakutan. Hingga ada yang punya pemikiran untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Victim Blaming yang dirasakan oleh korban seperti keterasingan sosial berlaku untuk perempuan.

Penanganan kasus kekerasan berbasis gender online di Indonesia masih sangat terbatas karena belum ada payung hukum yang jelas. Walau kurang terlindungnya korban KBGO oleh hukum yang ada di Indonesia. Tetapi sebagai kaum perempuan harus cerdas, berikut hal yang bisa dilakukan perempuan berdasarkan panduan SAFENet : [1] Menyusun kronologi yang berguna untuk pelaporan, [2] Menyimpan barang bukti seperti tangkapan layar atau rekaman suara dan video, [3] Memutuskan komunikasi jika bukti sudah terkumpulkan dan melakukan konsultasi psikologis, [4] Pada tahap ini pihak korbanyang memetakan resiko yang akan terjadi jika melakukan pelaporan.

Perempuan menjadi pihak yang banyak menjadi korban KBGO, bukan berarti seorang perempuan diam. Untuk sekarang menjadi perempuan harus cerdas, teliti, dan berhati-hati agar KBGO tidak terjadi pada perempuan yang lainnya diluar sana. Sikap yang harus diambil dengan berhati hati pada orang yang baru dikenal atau strangers, jangan mudah termakan rayuan dan gombalan yang bisa membawa perempuan pada zona bahaya. (*)


Atika, S.I.Kom

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas