Blusukan, dari Risma hingga Pertunjukan Sirkus

Oleh:

Handoko, S.S, M.Hum

Dosen Sastra Inggris Universitas Andalas

Salah satu isu yang menjadi perdebatan hangat beberapa waktu yang lalu adalah blusukan yang dilakukan oleh Menteri Sosial, Tri Rismaharini, ke beberapa lokasi di Jakarta. Tindakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat. Banyak memuji aksi yang dilakukan Risma yang terjun langsung melihat keadaan masyarakat bawah sebagai representasi keperdulian dan keseriusan beliau. Disisi lain tidak sedikit yang juga berkomentar miring dan menganggap aksi Risma tersebut tidak penting dan pencitraan.

Blusukan atau di era orde baru dikenal dengan istilah turba (turun ke bawah) bukan lah hal baru dalam perpolitikan Indonesia. Dominasi masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi ladang empuk bagi politisi untuk membangun kekuatan politik melalui pencitraan. Dengan alasan menyerap aspirasi masyarakat, para politisi menjambangi masyarakat dan memberikan janji dan harapan-harapan bagi masyarakat.

Bila ditelisik lebih mendalam, blusukan yang dilakukan Risma bukanlah kali pertama. Jauh sebelum beliau ditunjuk sebagai Mentri Sosial, saat menjabat sebagai Walikota Surabaya beliau sudah dikenal aktif menjambangi masyarakat. Lalu dimana permasalahannya? Mungkin salah satu yang menjadi permasalahannya adalah waktu dan momen yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai tindakan pencitraan diri dan terkesan lebay.

Dilihat dari aspek semiotika kognitif, pencitraan diri pada dasarnya adalah hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kita ingin digambarkan, dikenali dan diasosiasikan dengan sesuatu. Pencitraan adalah wujud dari nilai-nilai abstrak yang dimunculkan dalam bentuk visual yang tentunya dapat diidentifikasi dan dikenali. Nilai empati atau keperdulian misalnya, tentunya kita tidak dapat mengenalinya seperti halnya kita mengenali benda-benda konkrit, seperti meja atau kursi. Disinilah proses kognitif berperan, otak akan memproses informasi abstrak tersebut melalui proses representasi visual (visual representation) dan kemudian akan membentuk makna asosiatif.

Representasi visual merupakan proses yang terjadi di otak dimana informasi masukkan (input) baik berupa input verbal atau non verbal dipetakan pada memori. Jika proses ini terjadi secara berulang-ulang, maka akan terbentuk makna asosiatif yang kemudian tersimpan pada memori jangka panjang (long-term memory) dalam bentuk representasi mental (mental image). Proses ini memungkinkan kita untuk mengenali dan mengidentifikasi seseorang dari makna asosiatifnya dan pada tingkatan tertentu akan mengabaikan makna literal. Sebagai ilustrasi, anda memiliki teman yang suka berhutang, ketika anda melihat atau mendengar suaranya maka yang yang terbayang oleh anda adalah hutang. Otak anda kemudian akan mengasosiasikan dan memaknai "hutang" sebagai sesuatu yang negatif dan merugikan. Tidak heran jika otak anda bereaksi untuk bersikap hati-hati ataupun menghindari orang tersebut. Dengan kata lain, representasi visual merupakan jalan pintas untuk menembus kesadaran kognitif seseorang.

Secara semiotika, disinilah proses penandaan dan penciptaan makna terjadi. Tindakan yang tadinya hanya berupa rutinitas dan hanya merujuk pada makna literalnya kemudian bertransformasi dan membentuk makna baru. Blusukan yang tadinya hanya

Proses alamiah otak ini kemudian dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengeksploitasi aspek kognitif sosial masyarakat yang dikenal dengan istilah Dark Psychology. Dark Psychology merupakan sebuah teknik yang memanfaatkan prinsip-prisip psikologi untuk mengontrol, mempengaruhi, memanipulasi fikiran untuk tujuan tertentu. Pada dasarnya, teknik dark psychology ini bukanlah teknik yang terlarang dan banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika digunakan untuk menipu atau mengambil keuntungan dan mengarah pada tindakan kriminal, tentu dapat diproses secara hukum.

Jika kita bawa pada konteks blusukan, hal ini tentunya sangat gamblang sekali. Sebagai menteri yang baru dilantik, tentunya Risma ingin membentuk representasi visual yang baik di masyarakat. Starategi ini berhasil dilakukan Risma ketika beliau menjabat sebagai Walikota Surabaya. Risma diasosiasikan sebagai pemimpin yang tegas dan perduli pada masyarakat kelas bawah. Alhasil, Risma mampu mempertahankan posisi sebagai Walikota Surabaya untuk kali kedua. Hal ini tentunya juga tidak dapat dilepaskan dari kultur masyarakat Surabaya yang sangat difahami oleh Risma. Lalu bagaimana dengan posisi beliau saat ini sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia yang notabene terdiri dari beragama suku, latar belakang, dan budaya yang beragam? Apakah strategi ini akan berhasil memenangkan hati rakyat Indonesia? Perdebatan yang muncul agaknya bisa menjadi jawaban, bahwa blusukan tidak selamanya berterima di kalangan masyarakat dan memiliki gradasi nilai yang bervariasi.

Dalam struktur budaya Minangkabau misalnya, tidak dikenal adanya istilah blusukan. Hal ini mungkin dikarenakan sistem tatanan kemasyarakatan di Minangkabau yang tidak memungkinkan interaksi langsung antara masyarakat dengan pimpinannya. Aturan adat Minangkabau "Kamanakan barajo ka Mamak, Mamak barajo Panghulu, Panghulu barajo ka mufakaik" membatasi interaksi langsung antara pemimpin dan yang dipimpin. Setiap permasalahan haruslah diketahui oleh Mamak dan barulah Mamak akan membawa masalah tersebut ke Penghulu. Adalah aib bagi seorang Mamak jika Kamanakannya mengeluhkan penderitaan, keluh kesah, dan masalah hidupnya langsung kepada Penghulu. Tidak heran jika masyarakat Minangkabau tidak terlalu antusias dengan blusukan dan cenderung antipati dengan berbagai kegiatan seperti ini.

Terlepas dari berbagai pro dan kontra di masyarakat, blusukan yang dilakukan oleh Risma pada dasarnya adalah sah-sah saja dan merupakan manuver yang cukup baik dalam memenangkan sebagian hati masyarakat. Seperti halnya pertunjukan sirkus, setiap pemain akan berusaha dengan gaya mereka untuk membuat penonton bertepuk tangan. Ada yang melakukan akrobatik dengan berbagai gaya yang mengundang decak kagum, ada yang dengan lihainya memaikan trik sehingga membuat penonton terperanga, dan tidak sedikit yang melakukan hal-hal konyol untuk mengundang tawa. Ya, begitulah, menteri baru, cara baru, gaya baru. (*)


Handoko, S.S, M.Hum

Dosen Sastra Inggris Universitas Andalas