Menuju Praktik Belajar Efektif di Era Kebiasaan Baru

Oleh:

Syahrial Bakhtiar

Guru Besar Ilmu Gerak, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang.Ketua Umum Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI).

KONSEKUENSI

dan dampak resiko pandemi COVID-19 yang mendera dunia memang dahsyat dan memiliki daya rusak tinggi.Tidak ada yang bisa memungkiri, efeknya menyasar ke seluruh bidang dan aspek kehidupan kita. Setelah ekonomi, juga sosial (karena memangkas dan nyaris memutus mata rantai interaksi kita sebagai makhluk sosial), politik (iven-iven politik lokal, nasional dan internasional rata-rata ditunda), olahraga (ditunda bahkan ada yang dibatalkan iven-ivennya), budaya (kesenian dan ekonomi kreatif, iven kebudayaan, dan lain sebagainya, mengalami kemacetan dan penurunan produktivitas), dan yang paling mengenaskan adalah bidang pendidikan.

Bidang pendidikan justru diserang oleh pandemi Corona secara luar biasa signifikan. Dampaknya betul-betul merisaukan dan bikin hati siapa pun miris. Betapa tidak, pandemi yang belum juga ditemukan secara resmi obat atau vaksinnya ini menyerang sendi-sendi bangunan pendidikan di seluruh negara secara Sistematis, Terstruktur dan Masif (STM). Sistematis karena bencana ini tidak saja menyerang pribadi dan kelompok namun sistem pendidikan secara makro.

Pandemi ini juga merusak secara struktur, karena mengganggu dan bahkan mampu menggoyahkan aktivitas normal pendidikan mulai dari level tertinggi (nasional) hingga ke skala paling kecil yaitu sekolah beserta aktivitas belajar di kelas. Sementara ditinjau dari efeknya, secara masif memengaruhi proses belajar karena tidak ada yang luput dari efek dan risiko negatif pandemi ini. Seluruh orang yang terlibat baik secara langsung maupun tak langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk tentunya para orang tua dari anak-anak mereka yang sedang bersekolah dan berkuliah, mengalami ekses buruk pandemi ini.

Semua kita mengeluh, minimal dalam hati, karena semua kita menyadari, tak ada yang seefektif dan seefisien belajar di sekolah secara langsung dengan guru dan seluruh sistem lingkungan sekolah (teman sesama peserta didik, fasilitas belajar, pustaka, sarana belajar, aktivitas ekskul, dan lain-lainnya).

Sementara kini di realita lapangan kita temui ketidakseragaman pola belajar. Ada yang memakai sistem dalam jaringan (on-line). Ada yang secara berhati-hati tetap melakukan belajar tatap muka (melalui pengurangan jam belajar, pengurangan kapasitas rombongan belajar, penyederhanaan aktivitas, dan lain sebagainya). Kemudian, ada pula yang memakai metode luring (luar jaringan) melalui cara menjemput tugas dan instruksi dalam waktu tertentu (sekali seminggu/sekali tiga hari, dan lain-lain) lantas diharuskan mengisi dan mengerjakannya di rumah untuk kemudian dikumpulkan ke sekolah di waktu tertentu pula.

Terdegradasinya Konsep Belajar

Persoalan paling utama menurut hemat penulis yang merupakan dampak paling krusial dari pandemi COVID-19 sejatinya menyasar pada hakikat pembelajaran itu sendiri. Proses belajar, sebagai bagian paling inti dari berjalannya program pendidikan betul-betul telah didegradasi secara 'terpaksa' disebabkan adaptasi yang mesti dilakukan dan dijalankan secara praktis akibat wabah mengerikan ini. Tak pelak, konsep hakiki dari apa itu belajar dan bagaimana konsep belajar secara efektif dipraktikkan di institusi pendidikan (baca: sekolah dan kampus) mengalami degradasi bahkan menjurus ke eliminasi manakala banyak sekali yang harus dikoreksi.

Jika selama ini kita dengan bebas mengirim anak-anak kita ke sekolah, mereka bersosialisasi dan belajar dengan derajat manfaat yang sama, berkompetisi dan menyerap pendidikan karakter yang memang hanya bisa disampaikan secara langsung dari guru agar anak bisa meniru dan memaknainya sampai ke pemahaman paling dasar, maka kini semua itu (agak) mustahil bisa dilakukan. Kini interaksi harus dipangkas, bertemu pun harus dalam jarak sesuai protokol kesegatan, anak-anak hanya belajar sebatas apa yang dianggap aman dan jauh dari risiko penularan virus COVID-19. Ini disebabkan argumen, dengan berkerumun, termasuk di sekolah dan kampus, probabilitas penyebaran virus (potensial) meningkat drastis.

Alhasil, rata-rata penyesuaian yang merupakan bentuk dari adaptasi kita terhadap pandemi ini adalah memilih aktivitas belajar secara tidak tatap muka, jika pun ada amat terbatas. Terjadilah proses belajar jarak jauh, sosialisasi, komunikasi dan interaksi belajar antara pendidik dengan peserta didik dibatasi ruang dan waktu, disampaikan harus melalui media yang notabene terlalu banyak noise-nya. Gangguan dan kendala itu beragam, mulai dari segi jaringan, ketersediaan perangkat (tidak semua orang memiliki smart-phone), ekonomi biaya tinggi paket data, belum lagi masalah wawasan dan kecapakan teknologi (jangankan orang tua, guru pun masih banyak yang gagap teknologi), atau yang justru paling krusial berupa adaptasi pola dan sistem bahkan konten kurikulum. Jadi, kita telah memilih metode yang justru mengandung kelemahan di sana-sini.

Kesemuanya itu adalah problem kita semua. Mirisnya, kita tidak memiliki saluran yang optimal dan proporsional untuk sekadar menggugatnya. Tidak ada semacam forum atau apa yang diakatakan oleh Jurgen Habermas sebagai public sphere, ajang yang memungkinkan setiap elemen mencurahkan pendapat dan argumennya sendiri. Kini mulai dari menteri, gubernur, wali kota, kepala dinas, kepala sekolah, guru dan orangtua gagap merumuskan kebijakan yang pas. Di satu sisi kita maklum dan menganggapnya wajar, karena kita mengutamakan safety, healthy dan security (keamanan, kesehatan dan kenyamanan). Sebagai contoh, di daerah zona merah tentu wajar aktivitas belajar tatap muka mesti ditunda tersebab risiko yang amat tinggi jika pembelajaran normal tetap dijalankan.

Namun ironisnya, di zona hijau pun kita masih (terlalu) berhati-hati, kadang melupakan urgensi penjaminan mutu pendidikan (education quality insurance). Ingat, semua orang menyetujui bahwa terjadi penurunan kualitas SDM secara tidak langsung diakibatkan pandemi ini, dan itu tergambar dari kualitas penyelenggaraan pendidikan yang melorot drastis. Kuat dugaan penyebab utama kemelorotan itu adalah perubahan aktivitas belajar dari metode normal menjadi metode serba modifikasi alias new normal (yang juga tidak terjelaskan metodenya secara sistematis dan efektif, serba try and error).

Kembali ke Hakikat Belajar Sebenarnya

Padahal, kita masih percaya bahwa konsep belajar itu adalah tidak sekadar transfer of knowledge. Seolah-olah melalui metode belajar di rumah, kala siswa dikirimi video tentang tema tertentu, lantas guru mengirim Pekerjaan Rumah secara on-line, lantas (dianggap) tugas pendidik selesai dan proses belajar rampung. Sudah bisa kita lihat di rumah-rumah, betapa dengan aktivitas seperti ini tidak mengurangi kemalasan anak untuk belajar. Aktivitas mereka untuk bermain secara online di gawai orang tuanya masih menjadi aktivitas utama, dan ini tak bisa dipungkiri adalah efek dari tidak terstrukturnya dengan baik aktivitas belajar yang efektif di rumah. Jika fenomena ini berangkat dari paradigma belajar sekadar transfer of knowledge, ini tentu sudah keliru. Jika kita mau, dan seyogyanya, kita harus tinjau lagi konsep belajar yang otentik itu seperti apa.

Sesungguhnya amat banyak varian teori dan konsep belajar. Di ruang yang terbatas ini kita kutip saja dua di antaranya. Pertama, menurut Ernes Hilgard 'learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedures ( whether in the laboratory or in the natural environment ) is distinguished to training'. Dapat diartikan, seseorang dikatakan belajar apabila ia dapat melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukannya sebelum ia belajar, atau bila kelakuannya berubah, sehingga ia mendapatkan cara menghadapi berbagai situasi. Kelakuan dalam proses belajar melingkupi: pengamatan, pengenalan, pengertian, perbuatan perasaan, minat, penghargaan dan sikap. Menurut Cronbach, 'learning is shown by change in behavior as a result of experience', belajar adalah perubahan tingkahlaku sebagai hasil pengalaman.

Kalau boleh disimpulkan, maka belajar adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari sehingga di kemudian hari ia dapat mempraktikkannya, mengamalkannya bahkan mampu pula mengajarkan kepada orang lain. Lebih lanjut, belajar yang hakiki menuntut pengkondisian lingkungan yang mendukung, diperlukan lingkungan edukatif dalam proses pendidikan.

Dus, dapat kita ambil poin terpentingnya bahwa belajar yang ideal itu bukanlah penyerapan ilmu belaka.Itu baru menyasar sisi kognitif. Kalau sampai di situ pemaknaan kita, maka Google dan media massa bahkan media sosial sanggup menggantikan peran pendidik di era digital ini. Sementara, yang kita tuju saat menyekolahkan anak justru terutama proses penyerapan nilai-nilai positif, perubahan tingkah laku, pembentukan karakter, jiwa kompetisi yang sehat, kemauan dan keinginan mengetahui segala sesuatu yang kuat (curiosity), badan yang lincah dan tidak rentan penyakit, serta nilai-nilai sosial berupa interaksi yang menjalin ikatan batin sesama siswa. Dus, ada faktor afektif dan psikomotor juga di situ, tidak semata persoalan transfer of knowledge.

Parahnya, jangan-jangan kita selama ini menganggap aktivitas di sekolah itu hanyalah semata proses transfer ilmu antara guru dengan siswa, sehingga saat wabah melanda tujuan yang sangat banal itu bisa tergantikan melalui proses belajar daring dan luring di rumah. Sekali lagi, melalui metode sedemikian sangat banyak hak dan kewajiban siswa yang dipangkas bahkan dihilangkan. Konsep belajar menjadi terdegradasi menjadi hanya semacam proses penyampaian informasi materi ajar kepada siswa, tidak menyentuh esensi dasar mendidik dan mengajarkan adab demi peradaban yang lebih baik.

Ke depan, kita perlu duduk bersama dan mencari formula ampuh, tidak secara gegabah menetapkan metode baru di era serba baru yang membutuhkan segala penyesuaian ini. Dibutuhkan manajemen krisis di bidang pendidikan yang betul-betul tepat sasaran, terarah tanpa harus menurunkan perhatian utama pada tujuan luhur pendidikan itu sendiri yaitu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Memang, ini adalah tantangan global, semua orang sedunia menghadapi problem yang sama, termasuk di dunia pendidikan. Namun itu bukan berarti mengharuskan kita untuk menerima begitu saja beberapa pilihan yang ada.Bisa jadi pilihan itu bukanlah pilihan terbaik dan berangkat dari sikap otoriter penentu kebijakan belaka. Masyarakat sebagai pihak yang paling pertama menerima hasil dari bagaimana institusi pendidikan selama ini mendidik para alumninya di sekolah dan perguruan tinggi tentunya mesti diajak turut serta bicara dan berpendapat, kira-kira metode apa yang paling efektif. Metode di era kebiasaan baru janganlah meninggalkan dan (apalagi) melupakan konsep dan teori dasar dari hakikat belajar.(*)


Syahrial Bakhtiar

Guru Besar Ilmu Gerak, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang.Ketua Umum Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI).