Adu Kuat Pilkada Solok

Oleh:

Syafriadi

Jurnalis

Sempat diundur lantaran wabah virus Corona, pemerintah akhirnya mengetuk palu untuk tetap melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 ditengah pandemi. Tercatat, lebih kurang 270 daerah akan menggelar pesta demokrasi lima tahunan itu.

Tidak terkecuali dengan daerah kabupaten Solok. Sesuai amanat konstitusi, masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati, Gusmal-Yulfadri Nurdin bakal berakhir di Februari 2021 mendatang dan harus ada penggantinya.

Keputusan pemerintah pusat untuk tetap menyelenggarakan Pilkada serentak di Desember 2020 membuat tersentak semua orang, termasuk bakal calon yang bakal "naik ring", apalagi tidak sedikit yang menerka-nerka, Pilkada akan diundur sampai 2021.

Sudahlah, itu soal aturan buatan manusia, bisa berubah kapan saja. Pagi minum kopi, masih itu, nanti sore bisa lain lagi, yang penting bagaimana aturan hadir untuk memudahkan, bukan menyusahkan. Biasa saja.

Kembali ke topik Pilkada kabupaten Solok. Jauh-jauh hari sebelum adanya wabah Covid-19, sejumlah bakal calon sudah menampakkan batang hidungnya melalui baliho di pinggir jalan. Kalender tahun baru 2020 atau sekedar poster kecil.

Sudah hal yang lumrah, baliho bagai sebuah pertanda alam, kalau akan ada pemilihan. Tidak ada salahnya kembali memperkenalkan diri ke masyarakat, mana tahu banyak yang lupa karena jarang bersua. Mungkin, tiga atau empat tahun lalu terakhir berjumpa.

Setidaknya dari pengamatan hingga obrolan di warung kopi yang merambah sampai media sosial, ada lebih kurang lima pasang calon yang nyaris sudah fix berpasangan di Pilkada Kabupaten Solok 2020.

Pasangan Hendra Saputra-Mahyuzil lebih dulu menggebrak dunia politik kabupaten Solok. Pasangan birokrat dan Ustaz ini bergerak melalui jalur perseorangan (independen). Lebih kurang 25.372 dukungan diserahkan pada penyelenggara pada 21 Februari 2020 silam. Tentunya, menunggu hasil verifikasi faktual (Verfak) yang dilakukan KPU Solok.

Sebagai pendatang baru, duet utara dan tengah ini diyakini bakal jadi kuda hitam di Pilkada nanti. Setidaknya, pasangan ini sudah punya modal dari KTP yang dikumpulkan, kalau semuanya benar-benar memberikan dukungan secara langsung.

Sebagai calon independen, pergerakan Hendra Saputra-Mahyuzil kurang terpantau. Mereka sudah jelas tak ikut hiruk pikuk soal tawar-menawar partai. Namun, pasangan ini perlu diperhitungkan. Pergerakannya senyap dan bergerak di tataran akar rumput.

Kehadiran wajah baru ini perlu diwaspadai, terlebih, keduanya tentu belum punya cacat di mata masyarakat. Kalau soal amunisi, tidak mungkin pula akan kalah dibanding calon lain. Semoga.

Kemudian, pasangan Desra Ediwan Aman Tanur-Agus Syahdeman cukup menyita perhatian. Pentolan Golkar itu tetiba berpaling hati dari Sabrana (Gerindra). "Sumpah setia" yang sempat dipatri ungkai ditengah jalan. Entah apa penyebabnya.

Namun, itu bagian dari dinamika, sebelum janur kuning melengkung di KPU, pasangan yang ada bisa saja bergonta-ganti. Bukan hal yang waw. Bergaining kendaraan politik dan soal finansial kerap jadi batu sandungan politisi di Pilkada.

Koalisi partai Golkar dan Demokrat menjadi kendaraan bagi Desra-Agus. Maklum keduanya sama-sama kader. Desra merupakan sekretaris Partai beringin di Provinsi, sementara Agus Syahdeman ketua partai berlambang bintang mercy di kabupaten Solok.

Politik memang tidak bisa diterka, Desra merupakan seteru Agus Syahdeman di Pilkada sebelumnya. Namun keduanya harus melepas mimpi untuk memegang kendali kabupaten Solok setelah tumbang oleh Gusmal-Yulfadri.

Setidaknya, meski sempat gagal, Desra kembali mencoba peruntungan dengan membangun duet selatan-tengah. Begitu kotak-kotak wilayah yang dibangun oleh politisi di kabupaten Solok sejak pemilihan langsung dilakukan.

Namun kabar angin berembus, kekokohan Desra di Golkar juga bakal diuji, konon, masih ada yang mencoba "mencuri" mandat partai beringin di Pilkada Solok. Begitu juga Agus Syahdeman, dirinya dikabarkan diminta berpasangan dengan Epyardi, untuk memuluskan deal PAN dan Demokrat untuk Pilgub Sumbar. Itu baru kabar angin.

Yang tidak kalah fenomenal, keikutsertaan Epyardi Asda untuk naik ring di Pilkada nanti. Legislator tiga periode di DPR-RI turun gunung. Katanya, ini bentuk pengabdiannya terhadap kampung halaman. Pemilik Chi Nang Kiek Dream Park itu, seakan jadi kabar petakut bagi kandidat lain.

Epyardi Asda sudah acap melancarkan safari politiknya di berbagai wilayah Solok dengan membagikan zakatnya. Bahkan, disebut-sebut, pengusaha kaya raya ini menyiapkan tidak kurang dari lima miliar untuk dibagikan pada masyarakat.

Belum jelas dengan siapa Epyardi bakal naik ring, namun fotonya kerap disandingkan dengan wajah wakil bupati Solok saat ini, Yulfadri Nurdin. Secara historis politik, Yulfadri merupakan sosok yang sangat dekat dengan Epyardi Asda.

Ditengah memanasnya konstelasi politik di ranah ayam kukuek balenggek, Epyardi juga dikabarkan melirik nama lain sebagai bakal wakil yang akan mendampinginya, mulai dari nama Devy Kurnia hingga Bachrul Bachtiar. Setidaknya, dari tiga nama itu nantinya yang akan bertarung bersama Epyardi.

Salah satu yang menarik dari gaya politik Epyardi Asda adalah cara Komunikasinya yang sangat tegas, terkadang diartikan terlalu keras bahkan kasar, namun itulah adanya. Karakter seseorang tidak bisa dinilai begitu cepat. Jangan nilai sebuah buku dari sampulnya, begitu pepatahnya.

Nama Yulfadri Nurdin juga tidak bisa dipandang sebelah mata, nyaris lima tahun menjadi wakil Bupati dan beberapa kali menjadi legislator tentu menjadi modal kuat dalam membangun strategi politik. Jika jadi, Duet Utara dan Selatan ini bakal "ditakuti". Kabarnya pasangan Erpyardi-Yulfadri bakal diusung PAN dan PDI-P.

Setelah habisnya "kerjaan" Gusmal, wilayah tengah bukan tanpa kandidat calon Bupati, Sosok Iriadi Dt. Tumangguang menjadi Magnet baru politik di wilayah tengah. Birokrat satu ini dikabarkan sudah mengantongi mandat dari partai pemenang Kabupaten Solok, Gerindra.

Kehadiran Iriadi yang disebut bakal naik ring bersama Firmansyah j. Ujud dari Hanura bakal memecah konsentrasi politik di poros tengah. Kombinasi tengah dan timur, dipandang cukup kuat. Apalagi, Sabrana urung berpasangan dengan Desra, tentu Firmansyah akan sedikit leluasa di daerah timur.

Firmansyah dikenal cukup kuat di daerah timur, maklum dua periode suara dari timur mengantarkannya di legislatif kabupaten Solok. Memang di Pileg kemarin dirinya kurang beruntung, maju di dapil VII Provinsi Sumatra Barat. Dirinya kandas bersama sejumlah calon dari kabupaten Solok.

Terakhir, pasangan muda H. Nofi Candra dan Irwan Afriadi (Iwan Sangir) melengkapi perburuan kekuasaan di kabupaten Solok. Senator asal Utara kabupaten Solok itu kabarnya urung maju di Pileg lalu, lantaran fokus untuk persiapan Pilkada. Itu kabarnya.

Entah apa yang terjadi, Nofi Candra yang mulanya santer dikabarkan maju bersama Ukma Elsa Dias akhirnya berlabuh pada diri anggota DPRD Sumbar asal Solok Selatan itu. Sekali lagi, ini soal politik, semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Untuk kendaraan, Informasinya, Nofi-Irwan dikabarkan bakal menggunakan kapal Nasdem dan PPP kabupaten Solok, ditambah opsi PKS. Perpaduan wajah yang mengusung tagline Solok Baru juga sempat diterpa angin tak sedap. Soalnya, Irwan Afriadi notabenenya membangun karir politik di Solok Selatan, kendati berdarah Solok.

Namun itulah politik, segala sesuatu bisa menjadi senjata, tidak ada teman yang abadi dalam politik, yang abadi hanya kepentingan. Berbagai cara digunakan untuk meraih kekuasaan. Tergantung pribadi masing-masing.

Berkaca dari komposisi kursi di legislatif kabupaten Solok, setidaknya dari jalur partai hanya bisa memboyong empat pasangan calon, dimana syarat pencalonan di Pilkada minimal harus diusung oleh partai dengan minimal 7 kursi.

Sementara itu, ditengah wabah Covid-19 19, sejumlah sosok yang digadang-gadang bakal meramaikan Pilkada Kabupaten Solok nampaknya urung maju. Sebut saja nama Zul Elfian yang kabarnya kembali bertarung di Kota Solok, Maigus Tinus, Dr. Adly, Olga Yonson dan segudang nama lainnya.

Atau bisa jadi, mereka memang sengaja diam-diam dan memberikan kejutan jelang ditabuhnya genderang pendaftaran di KPU. Bisa saja. (*)


Syafriadi

Jurnalis