Dulu Buang Sampah Pada Tempatnya, Kekinian Ayo Memilah dan Ngompos Sampah di Rumah

Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan itu bertema Singkronisasi Perencanaan dan Pelaksanaan Urusan Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan Persampahan di Convention Hall Bukit Lampu Padang, 19 April 2021.
Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan itu bertema Singkronisasi Perencanaan dan Pelaksanaan Urusan Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan Persampahan di Convention Hall Bukit Lampu Padang, 19 April 2021. (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat (DLH Sumbar) menggelar Rapat Koordinasi Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan itu bertema Singkronisasi Perencanaan dan Pelaksanaan Urusan Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Pengelolaan Persampahan di Convention Hall Bukit Lampu Padang, 19 April 2021.

Rakor yang dibuka secara daring oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy itu menghadirkan Direktur Pengelolaan Sampah , Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah , Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian LHK Novrizal Tahar dan pejabat DLH Kabupaten/Kota di provinsi tersebut.

baca juga: Kampung Bahari Nusantara Sungai Pisang Diyakini Masyarakat Bahari

Novrizal Tahar menyampaikan, persoalan sampah harus diselesaikan dengan kesadaran merubah perilaku masyarakat melalui gerakan. Seperti gerakan memilah sampah dari sumbernya, gerakan ngopos di rumah dan sebagainya. Gerakan ini harus menjadi kultur dan kesadaran kelompok (kolektif).

"Setiap rumah tangga memilah sampah , sehingga sampah plastik tidak bercampur dengan kuah sate Padang atau bahan lainnya. Sampah hasil pemilahan bisa dijadikan bahan baku untuk industri kertas dan bernilai ekonomi bagi pemilah," ujarnya.

baca juga: Penyediaan Rumah Layak Huni di Sumbar Belum Optimal

Menurut Novrizal, dulu ada slogan "Buanglah Sampah pada Tempatnya, sekarang slogan itu sudah kuno dan tidak memberikan solusi pada persoalan sampah . Sebab buang sampah pada tempatnya, sampah masih bercampur dan tidak bisa dimanfaatkan. Namun, jika dipilah akan menjadi sumber pendapatan.

"Buang sampah pada tempatnya sudah kuno, pasti sampah terbuang ke TPA. Harusnya dipilah dari awal untuk bahan baku industri kertas dan menjadi sumber pendapatan," katanya.

baca juga: Lahan Bekas Tambang Disulap Menjadi Taman Ekowisata Berbasis Air

Disampaikannya, gerakan memilah sampah dari sumbernya sudah mulai digalakkan di beberapa kota di Indonesia dan masyarakat sudah punya kesadaran yang cukup baik akan sampah . Sumbar, harusnya melakukan hal yang sama.

"Jika kesadaran itu sudah tumbuh, 80 persen persoalan sampah bisa terselesaikan. Sumbar bisa mulai memberlakukan ini sehingga sampah plastik tidak lagi dibuang ke sungai dan laut yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan," terangnya.

baca juga: Wagub Sumbar: Tim Percepatan Pembebasan Lahan Tol Padang - Pekanbaru Aktif Datangi Pemilik

Dilanjutkannya, Sebanyak apapun anggaran tidak bisa menyelesaikan persoalan sampah . Sebenarnya banyak upaya kreatif yang bisa dilakukan dalam mengurai persoalan sampah . Bahkan bisa menjadi kekuatan ekonomi. Salah satunya membentuk Bank Sampah Induk.

"Kami ingin Bank Sampah Induk sama seperti Bulog. Bisa dapat dukungan dari swasta, APBD dan sumber dana lainnya. Minimal satu kabupaten satu Bank Sampah induk. Sehingga setiap hari sampah bisa masuk ke Bank Sampah induk. Selain itu Bank Sampah Induk bisa bekerja sama dengan industri daur ulang kertas," ungkapnya.

Gerakan itu katanya, harus didukung regulasi atau kebijakan dari kelapa daerah dan yang paling penting implementasi. Sebagai contoh pemilahan sampah di kantor dinas dan instansi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.

"Mulai dulu dari pemerintah, pasti diikuti oleh masyarakat. Jangan banyak omong, contoh bupati belanja pakai kambut (Kambuik) ke pasar, jangan menggunakan kantong plastik. Pasti warga mengikuti dan jadikan trend belanja bawa Kambut," tuturnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy dalam sambutannya menyampaikan, cukup banyak persoalan sampah di daerah. Mulai dari persoalan teknis, pembiayaan, peraturan, kelembagaan dan partisipasi masyarakat.

"Banyak persoalan sebenarnya, rendahnya pelayanan, minimnya alokasi anggaran pengelolaan dan sumber pembiayaan di luar APBD, keterbatasan teknologi, sampah masih bercampur, SDM, lemahnya sanksi dan rendahnya partisipasi masyarakat," tuturnya.

Untuk itu, kata Audy, perlu optimalisasi pengelolaan sampah berkelanjutan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan pendekatan sampah sebagai sumber energi alternatif.

"Kita punya peluang memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar semen di PT. Semen Padang dan PLTU Teluk Sirih. Serta potensi lainnya dari sampah organik," terangnya.

Sementara itu, Kadis DLH Sumbar Siti Aisyah menyampaikan, penanganan sampah di daerah belum memenuhi target. Kamudian TPA di daerah hampir penuh dan datang permintaan untuk mendirikan TPA regional. Untuk itu provinsi menyiasati agar ada timbul inisiatif untuk pengelolaan sampah menjadi sumber pendapatan.

"Itu salah satu tujuan rakor hari ini, kami ingin menumbuhkan semangat kawan-kawan di daerah untuk pengelolaan sampah . Kalau terkelola dengan baik akan mengurangi penumpukan sampah di TPA," ujarnya.

Dilanjutkan, sesuai dengan visi misi Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, di TPS harus ada teknologi. Agar pengelolaan sampah terukur, seperti ada sampah yang bisa menjadi sumber penghasilan, sampah kompos dan sampah yang bisa menjadi sumber energi alternatif.

"Sesuai permintaan Pak Gubernur, pengelolaan sampah berbasis teknologi. Sehingga terkelola dengan baik dan tumbuh partisipasi dan kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah ," katanya. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir