Peneliti Ungkap Kemungkinan Virus Corona dapat Hancur dengan Getaran Ultrasound, Akan Jadi Alat Pengobatan?

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Penelitian terbaru para ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT), menunjukkan bahwa getaran ultrasound berpotensi merusak virus Corona (Covid-19).

Getaran tersebut harus berada pada frekuensi yang digunakan dalam pencitraan diagnostik medis.

baca juga: Hari Ini 5 Pasien COVID-19 di Tanah Datar Meninggal Dunia, Positif 85 Orang

Para ilmuwan menggunakan simulasi komputer untuk memodelkan respons virus terhadap getaran di berbagai frekuensi ultrasound.

Tim ahli mengidentifikasi bahwa getaran antara kisaran 25 dan 100 megahertz, memicu cangkang dan protein lonjakan (spike protein) virus runtuh dan mulai retak dalam sepersekian milidetik.

baca juga: Varian Delta Terdeteksi di 20 Kota, Pemerintah China Tetapkan Lockdown

Dampak ini ditemukan dalam simulasi virus di udara dan air.

"Hasilnya masih terlalu awal dan hanya berdasarkan data terbatas mengenai sifat fisik virus . Temuan ini adalah petunjuk pertama tentang kemungkinan pengobatan berbasis ultrasound untuk virus Corona , termasuk yang menyebabkan Covid-19," kata para ahli, dikutip dari Tech Explorist, Senin (22/3/2021).

baca juga: Perpanjangan PPKM Harus Dibarengi Penyempurnaan Kebijakan Oleh Pemerintah

Menurut Tomasz Wierzbicki, profesor mekanika terapan di MIT, timnya telah membuktikan bahwa di bawah eksitasi ultrasound itu, menyebabkan kerusakan yang terlihat pada kulit terluar virus dan kemungkinan kerusakan yang tidak terlihat pada RNA di dalamnya.

Sama seperti virus Corona lainnya, Covid-19 berbentuk bola dan memiliki protein yang disebut spike seperti paku yang menonjol di permukaannya.

baca juga: Varian Delta Disebut Menular Seperti Cacar Air

Saat ini, para ahli masih tidak mengetahui sifat material dari paku karena ukurannya sangat kecil, sekitar 10 nanometer.

"Kami juga tidak tahu apa yang ada di dalam virus , di bagian berisi RNA yang dikelilingi oleh cangkang kapsid protein, sehingga pemodelan ini masih membutuhkan banyak data," kata Wierzbicki.

Pihaknya yakin bahwa model virus yang dibuat merupakan titik awal yang baik.

"Sekarang, pertanyaannya adalah tekanan dan ketegangan seperti apa yang menyebabkan virus pecah," ujar dia.

Untuk mengetahui jawabannya, para ilmuwan menggunakan getaran akustik dalam simulasi.

Tim mulai dengan getaran 100 megahertz atau 100 juta siklus per detik dan mengamati bagaimana getaran berdesir melalui struktur virus di berbagai frekuensi ultrasonik.

Saat para ahli memaparkan virus ke gelombang ultrasonik 100 MHz, getaran alami virus pada awalnya tidak dapat dideteksi.

Tetapi dalam sepersekian milidetik, getaran eksternal beresonansi dengan frekuensi osilasi alami virus , menyebabkan cangkang dan paku melengkung ke dalam.

Ketika ada peningkatan amplitudo, intensitas, dan getaran, cangkang virus bisa patah.

Pada frekuensi yang lebih rendah dari 25 MHz dan 50 MHz, virus menekuk dan membelah lebih cepat, baik pada tingkat simulasi udara dan air yang kepadatannya serupa dengan cairan di dalam tubuh.

"Frekuensi dan intensitas ini berada dalam kisaran yang aman digunakan untuk pencitraan medis," simpul Wierzbicki.

Para ilmuwan sekarang bekerja sama dengan ahli mikrobiologi di Spanyol untuk menyempurnakan dan memvalidasi temuan ini.

Wierzbicki menekankan bahwa masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk memastikan apakah ultrasound dapat menjadi pengobatan yang efektif dan strategi pencegahan terhadap virus Corona .

Editor: Eko Fajri