Kementerian ESDM Komunikasikan Aksi Mitigasi Bencana Lewat "Ngaboba"

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Kementerian ESDM kembali mengkomunikasikan aksi mitigasi bencana, kali ini melalui gelaran "Ngaboba: Ngabongkar Badan Geologi", salah satu episode Energi Kolaborasi yang menghadirkan Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono dan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM , untuk berbincang dalam Instagram Live "Info Geologi dalam Genggaman", Jumat (26/2).

Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi yang unik, karena berada di tengah pertemuan tiga lempeng mayor dunia, yaitu Lempeng Samudera Indo-Australia, Lempeng Samudera Pasifik dan Lempeng Benua Eurasia. Ketiganya saling berinteraksi dan membentuk negara Indonesia.

baca juga: Nasib 75 Pegawai KPK Tak Lulus Ujian ASN Diserahkan ke Menpan RB, Tahjo Kumolo: Itu Urusan Internal KPK

"Akibat interaksi lempeng-lempeng ini, kita di satu sisi kita mendapatkan potensi kekayaan alam yang sangat luar biasa, misalnya ada cekungan sedimen yang menghasilkan minyak dan gas, juga ada batubara, ada jalur metalurgi yang menghasilkan mineral, panas bumi, juga cekungan air tanah," ujar Eko.

Namun di sisi lain, Eko melanjutkan, potensi bencana juga tidak kalah besarnya. Karena akibat dari tumbukan tiga lempeng mayor tersebut sehingga membentuk jajaran gunung api dari Sumatera, hingga ke Jawa, dan Indonesia Timur. "Rentetan gunung-gunung ini yang diibaratkan sebagai api karena adanya magma yang panas seperti api, sehingga disebut "ring of fire"," terangnya.

baca juga: Diperiksa Terkait Kasus Suap, Azis Syamsuddin Tak Hadiri Panggilan KPK

Jika telah memahami kondisi geologi wilayah Indonesia dan potensi bahaya dari bencana, Eko mengatakan, akan lebih mudah untuk menghadapi dan hidup berdampingan dengan bencana. Maka dari itu, fokus Badan Geologi adalah untuk melaksanakan peran mitigasi bencana geologi.

"Kami di Badan Geologi salah satu tugasnya adalah memitigasi, supaya nanti kita bisa mengetahui kira-kira intensitas bencana dan prediksi waktu bencana, walaupun tidak akurat. Kita bertugas mengenali potensi bencana geologi yang akan terjadi," terang Eko.

baca juga: Ada Tank Cegat Mudik di Perbatasan Jabar, Ini Penjelasan TNI

Kebijakan pemerintah terkait penanggulangan bencana saat ini memang arahnya kepada tindakan preventif atau mitigasi bencana sebelum bencana terjadi. Ini keuntungannya luar biasa, karena kalau kita tidak tahu dan terjadi bencana, itu nanti korbannya luar biasa banyak. Oleh karena itu, supaya ini bisa dihindari, kita mitigasinya harus akurat. Supaya masyarakat terhindar dari korban jiwa dan korban harta.

Pada kesempatan yang sama, Agung juga mengatakan bahwa untuk mengkomunikasikan potensi bencana kepada masyarakat, Badan Geologi harus melakukan penyebarluasan informasi dan mitigasi bencana dengan memanfaatkan teknologi yang kini sudah semakin maju.

baca juga: Hotman Paris Bersama Nikita Mirzani Rambah Bisnis Kuliner, Kucurkan Saham ke Restoran Ternama Ini

" Teknologi yang makin maju dalam penyebarluasan informasi, bagaimana kita menyikapi mitigasi bencana bisa kita lakukan melalui pemanfaatan teknologi kita. Tapi tentunya juga dari Badan Geologi bisa memberikan pencerahan, pengetahuan secara langsung kepada rekan-rekan relawan dan Pemerintah Daerah. Bagaimana kita mengedukasi masyarakat melalui ahli-ahli geologi yang bisa memberikan informasi terkait bencana di Indonesia," ujar Agung.

Kementerian ESDM pun akan segera meluncurkan layanan Short Message Service (SMS) broadcast untuk informasi kebencanaan, yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi (Kominfo). Layanan ini akan menyebarluaskan informasi terkini terkait bencana kepada masyarakat yang berada di wilayah terdampak bencana.

"Bagaimana kita bisa menyebarluaskan informasi secepat mungkin, terkait berita bencana, agar bisa melindungi masyarakat sesegera mungkin, secepat mungkin, real time. Kami berharap informasi bencana bisa diterima masyarakat dan meminimalisasi korban. Ini akan bermanfaat, masyarakat akan lebih aman," pungkas Agung.

Editor: Eko Fajri