Kisah Penyintas Virus Corona di Bukittinggi, Sembuh Setelah Bertempur dengan Diri Sendiri

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF - Enam bulan sudah virus corona menjangkiti Bukittinggi . Lebih dari 170 warga terpapar, beberapa bahkan meninggal dunia. Kendati penyakit ini dianggap menakutkan, secercah harapan tetap ada, pasien sembuh terus bertambah.

Seorang pasien perempuan yang berhasil sembuh dari COVID-19, H (27) menceritakan kisah perjuangannya selama terpapar virus corona. Ia menyebut banyak hal terkait ini, termasuk pandangannya terhadap tenaga medis, pemberitaan media dan warga tak patuh pada protokol kesehatan, serta yang paling penting cara dia berdamai dengan kenyataan.

baca juga: Positif Covid-19 di Solok Capai 221 Kasus, 6 Orang Meninggal

Ia adalah pasien asimtomatik atau tanpa gejala, namun di balik itu ia sebenarnya punya riwayat penyakit paru-paru. Jika tak pandai menjaga diri, ada kemungkinan dia bakal diterpa virus corona dengan berbagai gejala.

H bekerja sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta. Ia sudah melakukan segalanya agar tidak terpapar virus sebab punya riwayat penyakit penyerta. Saban hari, aktivitasnya monoton. Di rumah atau tempat kerjanya yang berjarak 10-15 menit jika menggunakan kendaraan.

baca juga: Kasus COVID-19 Hari Ini di Solsel, 10 Positif dan Dua Pasien Dinyatakan Sembuh

Perempuan ini menjaga segala kontak, menghindari kerumunan, dan memakai masker. Ia sangat parno dengan COVID-19, kemana-mana selalu membawa handsanitizer untuk jaga-jaga jika tak ada sabun dan air. Bahkan protokol itu sudah dilakukannya sebelum Pandemi melanda Indonesia. Melihat kehatian-hatiannya, rasanya ia sulit tertular. Namun takdir tak berpihak, akhirnya ia dinyatakan terinfeksi COVID-19.

H masuk RSAM sejak 8 Agustus 2020 dan dua pekan kemudian, ia dinyatakan pulih. Kekinian Ibu dan 2 adiknya yang sebelumnya juga sempat positif, juga dinyatakan sembuh.

baca juga: Gelar Grand Launching, Santika Hotel Bukittinggi Beberkan Berbagai Keunggulan yang Dimilikinya

H saat ini tengah menata kembali kehidupannya yang sempat terganggu akibat virus corona, ia sangat bersemangat memulai lagi segala aktivitasnya.

KLIKPOSITIF mewawancarai penyintas tersebut pada Minggu 13 September 2020, guna mencari tahu bagaimana ia tertular dan caranya mengalahkan virus yang menular tersebut.

baca juga: Pelajar Bunuh Diri Diduga Depresi Belajar Daring, Ini Komentar Kemendikbud

Bagaimana Anda Tertular Virus Corona?

Saat itu kami mengadakan tes swab karena akan memulai sekolah tatap muka. Hasilnya saya dinyatakan positif 7 Agustus 2020. Dari mana dan kapannya terpapar saya tidak tahu. Memang di tempat saya kerja ada pasien konfirmasi positif, namun setelah ditracing saya tidak pernah berkontak dengannya. Karena saya memiliki penyakit penyerta, maka esoknya diisolasi di RSAM.

Seperti Apa Kondisi Saat dinyatakan Positif COVID-19?

Saat dinyatakan positif, semalam itu saya tidak tidur saking cemasnya. Saya sudah mensugesti diri jika saya masih sama dengan yang kemarin, masih baik-baik saja, ternyata susah. Saya cemas karena banyak hal, salah satunya dengan stigma negatif dari masyarakat. Alhamdulillah saya tidak punya gejala seperti demam, batuk maupun sesak nafas selama isolasi.

Dan Keluarga Sendiri Bagaimana?

Setelah saya dinyatakan positif. Tentu keluarga saya di swab. Hasilnya Ibu dinyatakan positif. Ibu sementara diisolasi di rumah, kemudian dipindahkan ke Pusdiklat Baso. Kemudian 2 adik perempuan saya juga dinyatakan positif. Sementara Bapak dan saudara laki-laki negatif semua. Jadi yang kena perempuan semua. Kendati demikian, keluarga kami tetap bersatu dan saling menguatkan. Bagi saya ini sudah setengah dari kesembuhan.

Tanggapan Tetangga Sendiri Terhadap Anda maupun Keluarga?

Sangat luar biasa. Saat itu kan keluarga menjalani karantina di rumah, otomatis tidak bisa berbuat apapun sehingga ekonomi terganggu. Orang kampung secara bersama ber-iuran mengantarkan bekal ke rumah secara bergantian selama isolasi 5 minggu. Mereka tidak menjauhi kami. Saat kami keluar, mereka menyambut kami. Alhamdulillah.

Pengobatan Apa Yang Anda Lakukan Ketika Menjalani Isolasi?

Saat dinyatakan positif, berarti virus itu kan ada di badan saya. Tentu saya harus menjaga imunitas agar tetap kuat supaya gejala tak muncul. Setiap hari saya minum air hangat, mengkonsumsi herbal seperti jamu, madu dan susu. Lalu pihak rumah sakit memberi antibiotik dan vitamin C. Saya juga berolahraga seperti senam. Alhamdulillah tak ada gejala. Keluarga saya juga tak ada gejala.

Kegiatan Seperti Apa Yang Anda Lakukan Selama Karantina?

Selama karantina saya tetap mengajar daring, menggunakan medsos seperti Whatapps. Namun, saya tidak mengikuti info dari media tentang COVID-19. Ini membantu untuk fokus meningkatkan imunitas dan tidak stres. Selebihnya beristirahat.

Hal Paling Berkesan Selama Dinyatakan Terpapar COVID-19?

Itu di Minggu pertama. Saya bergulat dengan pikiran sendiri. Ini yang paling mengganggu kesehatan. Awalnya saya tak menerima status sebagai pasien COVID-19, saya berpikir hasil swab positif itu lebih ke penyakit paru yang diidap selama ini, bukan karena virus corona. Ditambah lagi, di luar berseliweran kabar jika sebenarnya tak ada penyakit ini. Hal itu sebenarnya cukup membantu saya. Namun, kemudian saya berpikir keras, sebenarnya COVID-19 ini ada atau tidak? ternyata memikirkan itu menghabiskan waktu dan akhirnya ikhtiar untuk memperbaiki imun pun jadi lalai. Kemudian saya sampai di sebuah titik saat tes swab kembali positif, dan ibu pun juga positif. Di titik ini saya menerima kenyataan jika semuanya adalah ketetapan dari Allah. Akhirnya mulai dari sini, semuanya berubah dan saya dinyatakan sembuh.

Kesan Selama di Rumah Sakit Terkait Tim Medis ?

Saya kasihan melihat tenaga medis. Setiap kali datang ke kamar saya saat dirawat, mereka berada dalam kondisi seperti sesak nafas karena memakai APD selama berjam-jam. Matanya merah, berkeringat, dan dari wajahnya terlihat keunguan seperti kelelahan. Melihat tenaga medis juga menguatkan saya, mereka tak pernah mengeluh melayani saya. Mereka tidak pulang ke rumah.

Saya tidak terima jika masih ada yang berpikiran negatif ke tenaga medis. Cobaan mereka lebih berat dari saya yang terkena COVID-19. Mereka tidak ada mengambil keuntungan dari hal ini karena yang mereka lakukan hanya agar saya secepatnya terbebas dari virus. Terimakasih atas layanannya.

Anda Sudah Terbebas Dari Virus, Pesan Anda Kepada Warga

Kepada warga saya minta menjalankan protokol kesehatan, saya melihat sendiri pasien yang memakai ventilator di RSAM karena menderita COVID-19. Kadang saya jengkel melihat masih ada yang tidak memakai masker. Jadi sebaiknya berikhtiarlah agar tak tertular dan kemudian bertawakallah kepada Allah SWT. Semuanya menjadi ujian dan pelajaran untuk kami.

Untuk media, saya harap memberitakan lebih masif lagi tentang kesembuhan pasien, bukan lagi soal penambahan kasus yang membuat takut.

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Haswandi