Harga Kopi Tak Stabil, Owner Minang Kajai Specialty Coffee Ini Beralih Profesi

Owner Kopi Minang Kajai Specialty Coffee, Hendi
Owner Kopi Minang Kajai Specialty Coffee, Hendi (Ist)

PASBAR, KLIKPOSITIF - Owner Minang Kajai Specialty Coffee, Hendi mengeluhkan penjualan kopi menurun drastis sejak pandemi Corona.

Pengusaha kopi dari Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat , Sumatera Barat itu menyibukkan diri dengan usaha lain.

baca juga: Outlet Noka Coffe Dilaunching di Ulak Karang Padang

"Usaha kopi ini sudah saya rintis sejak tahun 2017. Namun sejak pandemi Corona, usaha kopi ini tidak bisa diharapkan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari," sebutnya pada KLIKPOSITIF , Selasa (4/8/2020).

Peraih juara pertama dalam festival kopi tingkat Sumatera Barat tiga tahun berturut-turut (2017, 2018, 2019) itu tidak bisa berbuat banyak dalam masa pandemi Corona ini.

baca juga: FDA Setujui Obat yang Digunakan Trump Menjadi Obat Covid-19

"Sayangnya, selama pandemi Corona peran pemerintah daerah dalam pemasaran hasil tani kurang mendukung. Sehingga kita tidak berani membeli kopi dalam jumlah besar kepetani, sementara permintaan dari luar pun tidak ada," katanya.

Ia mengaku, meski pemerintah kurang menunjukkan dukungan dan peran dalam pemasaran hasil tani petani kopi . Pemerintah dalam hal lain tetap mensupport dan tetap memperhatikan.

baca juga: Polisi Tangkap Tangan Pelaku Togel Online di Pasaman Barat

Misal dalam bantuan bibit, mesin serta alat-alat tani lainnya. Pemerintah dalam hal ini sangat berperan aktif dan menunjukkan suportnya. Akan tetapi selama pandemi Corona pemerintah setempat tidak bisa mengayomi petani kopi .

Disamping itu dijelaskan Hendi, kelemahan di dunia usaha kopi dalam penentuan harga jual yang tidak jelas di Pasaman Barat . Sedangkan untuk pembeli dari luar negeri tidak bisa diladeni karena permintaan dalam jumlah besar.

baca juga: Mahasiswa Segel Kantor DPRD Pasaman Barat

"Bisa harga kopi Pasaman Barat terjual tinggi, namun pembeli ini meminta dalam jumlah besar, sementara hasil petani kita masih terbatas. Untuk pembeli dalam negeri selalu beralasan Corona menekan harga, jadi kita tidak berbuat apa-apa," jelasnya.

Hendi menuturkan, sejauh ini ia hanya sanggup menyediakan kopi Pasaman Barat berupa Green Bean sekitar 1,8 ton dalam setahun. Itu pun langsung dikumpulkan atau dibeli dari petani langsung.

Bahkan diungkapkannya, sebelum pandemi Corona ia sempat bekerjasama dengan eksportir dari Amerika Serikat. Kerjasama itu terputus sejak Corona terjadi setelah setahun jalan.

"Semua terkendala karena Corona, padahal kita baru merintis dan baru mendapatkan buyer yang bisa menerima jumlah Green Bean dengan keadaan terbatas," ungkapnya.

Peluang usaha kopi dinilainya sejauh ini sangat potensial dan menjanjikan, karena kopi saat ini menjadi tren baru dikalangan anak muda. Selain itu permintaan terus meningkat.

"Permintaan memang terus meningkat untuk lokal, sedangkan untuk lokal telah melimpah dan membuat harga kopi anjlok. Kita butuh buyer dari luar agar harga kopi kembali stabil," terangnya.

Sementara luas kebun kopi di Pasaman Barat ada sekitar 100 hektare secara terpisah, dengan hasil green bean dalam sebulan sekitar 500 kilogram. Ada tiga Kecamatan penghasil kopi didaerah itu yakni di Kecamatan Talamau dan Kecamatan Luhak Nan Duo.

"Yang terluas kebun kopi milik rakyat itu berada di Kecamatan Talamau khususnya di Nagari Kajai dengan mayoritas kopi arabika. Untuk kopi robusta ada di Kecamatan Gunung Tuleh," tuturnya.

Total jumlah green bean kopi yang dihasilkan dari kebun milik masyarakat di Pasaman Barat itu, belum menghasilkan secara maksimal karena masih banyak yang baru berumur setahun, selain itu kurang terawat.

Ia mengatakan dimasa pandemi Corona sangat mempengaruhi harga jual kopi . Ada penurunan 30 persen dari harga sebelum Corona berlangsung yang mencapai Rp80 ribu untuk per kilogramnya green bean kopi .

Saat ini harga kopi Rp40 ribu sampai Rp60 ribu per kilogramnya berupa beras. Untuk kopi basah Rp4 ribu per kilogram dan kopi lering standar Rp30 ribu perkilogramnya.

"Harga kopi saat ini bervariasi dan tiap harinya berubah-rubah. Ya itu tadi, kita tidak punya pedoman harga tetap dari luar. Sementara pembeli luar selalu beralasan Corona," keluh Hendi mengakhiri.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Rezka Delpiera