Kisah Heridikson, Pedagang Tempe yang Berhasil Kembangkan Peternakan Sapi Hingga Dibeli Presiden Untuk Kurban

Heridikson Dt. Siri Bandaro
Heridikson Dt. Siri Bandaro (Klikpositif)

SOLOK , KLIKPOSITIF - Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Begitulah ungkapan singkat yang pantas menggambarkan usaha ternak sapi Heridikson Dt. Siri Bandaro di kelurahan KTK, Kota Solok . Usaha yang sudah dilakoninya sejak 15 tahun silam.

Bahkan, berkat kegigihannya, sapi peliharaannya terpilih sebagai sapi untuk kurban presiden Jokowi di Sumatra Barat. Sangat membanggakan, mengalahkan sapi unggul dari daerah lain di Sumatra Barat.

baca juga: Gawat Darurat, Warga Kota Solok Bisa Hubungi Call Center 112

Namun, usaha yang dilakoni ayah lima anak ini, tidak langsung berhasil begitu saja. Banyak jalan berduri yang harus ditempuh. Niat ikhlas menjadi kunci pegangan Heridikson dalam membangun usahanya.

Dalam catatan akademisnya, Heridikson sama sekali tidak pernah mengecap pendidikan tinggi. Apalagi soal ilmu peternakan yang notabenenya digali di bangku kuliah. Hanya tamat Sekolah Dasar.

baca juga: 1.817 Pegawai Non ASN di Pemkab Solok Sudah Terdaftar di BP Jamsostek

Sebelum menekuni usaha ternak sapi, pria yang akrab disapa pak Son itu, sempat mengadu peruntungan hidup di perantauan. Pekanbaru hingga Batam, kota penuh sejarah dalam hidupnya. Berbagai pekerjaan dilakoni. Kala itu dirinya masih muda.

Terdesak hidup, akhirnya memaksa Heridikson berlabuh di kota Solok sekitar tahun 1992. Rupanya, jalan hidup mengantarkannya pada gadis kota Solok dan menikah, pria kelahiran Bukittinggi ini memulai lembaran baru dengan berdagang kaki lima.

baca juga: Mahasiswa Baru UMMY Solok Ikuti Pengenalan Kehidupan Kampus

Jualan tempe dan tahu, Ikut istri yang sudah lebih dulu berjualan. Itu pekerjaan yang harus dilakoninya. Sekitar dua tahun lamanya, Heridikson mengitari pasar di berbagai wilayah di Solok . Pasar Sumani, Pitalah, hingga pasar Muaro Paneh. Kerasnya kehidupan di pasar, sudah menjadi makanan sehari-hari.

"Sekitar dua tahun berdagang kaki lima, hingga sudah punya tempat di pasar, mulailah kita memproduksi tempe sendiri," ungkap Heridikson mengisahkan awal usahanya.

baca juga: Dua Pegawai Kantor Pajak Kota Solok Positif COVID-19

--Berawal Dari Dua Ekor Sapi Pemberian Teman--

Petualangannya yang mengadu nasib dari pasar ke pasar, akhirnya merubah jalan hidup Heridikson. Tanpa sengaja, dirinya bertemu seorang teman lama, ketika merantau di Kota Batam. Sudah lama tak bersua.

Natar namanya, orang asal Palembang. Kala itu bertemu di pasar Muaro Paneh, Solok . Singkat cerita, Heridikson membawa sahabatnya ke rumah. Saat itu, istri dan anaknya tengah membuat tempe.

"Bagus usahamu," kata Natar saat itu ungkap Heridikson mengisahkan. Menurut sahabatnya itu, kulit ari kedelai bagus untuk pakan sapi, dari pada dibuang, ditambah dengan ampas tahu. Natar merogoh koceknya dan memberikan uang untuk membeli sapi. Diberi begitu saja, tanpa diminta.

Oleh Heridikson, uang yang diberikan memang dibelikan dua ekor sapi kala itu, sekitar 6 juta rupiah. Sesuai amanah sahabatnya. Mulanya, memang Heridikson sempat ogah-ogahan memelihara sapi. Namun lama-kelamaan malah menikmatinya.

Berbekal kulit ari kedelai dari membuat tempe dan ampas tahu yang dipesan ke pabrik tempatnya membeli tahu untuk dijual ke pasar, akhirnya sapi yang dibeli pertumbuhannya bagus, dan menguntungkan. Sejak saat itu, dirinya terus memutarkan modal dari sahabatnya dan serius memelihara sapi.

Sampai saat ini, sapi yang ada di kandang milik Heridikson sudah ada sekitar 18 ekor. Dirinya fokus dalam penggemukan sapi. Sapi yang dipeliharanya beragam jenis, mulai dari jenis sapi lokal seperti Peranakan Ongol, Sapi Bali hingga sapi asal eropa seperti Limosin dan Friesh Holland (FH).

Dari usahanya tersebut, Heridikson mampu menyekolahkan anak-anaknya. Disamping jualan tahu dan tempe yang memang masih dilakoni sampai saat ini. Anak Sulungnya, Putri Kumala Bintang tengah menyelesaikan program S2 di salah satu kampus di Sumatra Barat.

"Alhamdulillah, dari usaha jualan tempe dan tahu, ditambah lagi dengan usaha penggemukan sapi, anak saya bisa bersekolah lebih tinggi, tidak seperti saya yang hanya mengenyam bangku SD," sebutnya.

Sampai saat ini, Heridikson juga tidak pernah lagi bertemu dengan sahabatnya tersebut, ditambah lagi memang tidak ada kontak telpon. Usaha sapi yang berawal dari bantuan temannya, berkembang dengan baik.

--Rahasianya Ikhlas--

Ada hal unik dari cara Heridikson dalam memelihara sapi, setiap sapi yang dibelinya, selalu diberi nama. Hal itu dilakukan untuk memperkuat hubungan atau kedekatan antara ternak dengan pemilik.

"Kita belajar dari orang memelihara Anjing, pasti orang memberinya nama, menunjukkan sayang si pemilik kepada peliharaannya, Anjing akan patuh dan berguna, begitu juga dengan sapi," terang Heridikson.

Filosofi dalam memelihara sapi, menurutnya, sangat mudah, selain hobi, lakukan dengan ikhlas. Sebab setiap ternak yang dirawat dengan ikhlas dan baik akan memberikan manfaat, bukan mudarat.

"Kalau ternak kita rawat dengan baik dan penuh kasih sayang, pasti akan dibalas juga dengan kebaikan. Begitu juga sebaliknya, kuncinya hobi dan ikhlas," pesannya.

Dalam membeli sapi, selain memilih sesuai dengan ciri bakalan sapi yang baik, Heridikson punya kebiasaan lain. Biasanya selalu dilebihkan harganya sekitar dua sak semen.

Maksudnya, setiap membeli sapi, Heridikson melebihkan harganya dengan memberikan sedekah kepada yang membutuhkan senilai dua sak semen. Begitu juga saat ternak sapi terjual. Juga dilebihkan dengan sedekah.

"Hidup kita tidak bisa dilepaskan dari ajaran agama, berbagi dengan sesama, Insyaallah usaha kita akan lebih berkah," tuturnya.

Adang, Sapi dari Solok Dipilih Presiden Jokowi Untuk Kurban

Adang, demikian namanya, sapi jenis Limosin yang dipilih presiden Jokowi untuk kurban Idul Adha 2020 di Provinsi Sumatra Barat. Sapi seberat 1,1 ton lebih itu merupakan milik Heridikson Dt. Siri Bandaro, peternak sapi asal KTK, Kota Solok , Sumatra Barat.

Sapi milik Heridikson dipilih sebagai bantuan kemasyarakatan presiden Jokowi, lantaran dinilai paling memenuhi syarat. Sapi asal kota Solok itu mengalahkan sapi unggul lainnya dari daerah Tanah Datar dan Tanah Datar.

Jika dilihat dari perawakannya, sapi jantan tersebut berwarna coklat tua. Tubuhnya kekar dan penuh dengan daging dan sehat. Diperkirakan tingginya sekitar 1,5 meter. Sapi ini tergolong sapi yang tidak agresif.

Menurut Heridikson, sapi tersebut mulanya dibeli di pasar Muaro Paneh, Kabupaten Solok . Saat itu usia sapi diperkirakan baru 2 tahun lebih, dilihat dari kondisi gigi. Berat awal ditaksir hanya sekitar 600 Kilogram.

Penulis: Syafriadi | Editor: Eko Fajri