Tidak Terawat, UMSB Rencana Bangun Replika Markas Syafruddin Prawiranegara di Koto Tinggi Limapuluh Kota

Salah Satu Bekas Markas Syafruddin Prawiranegara
Salah Satu Bekas Markas Syafruddin Prawiranegara (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

LIMAPULUH KOTA , KLIKPOSITIF -Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat ( UMSB ) berencana membangun replika dari markas Syafruddin Prawinegara yang tersisa semasa PDRI di Mudiak Dadok, Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Limapuluh Kota .

Rektor UMSB Dr.Riki Saputra mengatakan, keinginan ini muncul setelah melihat bekas markas Syafruddin dalam kondisi tak terawat dan tak dihuni selama puluhan tahun, sehingga dikhawatirkan nilai-nilai sejarahnya luntur seiring dengan hancurnya fisik bangunan.

baca juga: Wako Payakumbuh Minta Pelaksanaan Pilkada Patuhi Maklumat Kapolri

"Kita dari UMSB mungkin dalam waktu yang terlalu lama ini akan mereplika kembali bangunan itu, masalah pembiayaan kita akan gandeng stakeholder yang konsen dalam hal itu,"ungkap Rektor termuda di Indonesia yang saat ini berusia 37 tahun itu.

Riki mengatakan, PDRI berkontribusi luar biasa terhadap NKRI sehingga ia berkeinginan mereplika bekas bangunan tersebut dengan membawa tim teknik UMSB .

baca juga: Loka POM Payakumbuh Telah Laporkan 18 Toko Online yang Merugikan Konsumen

"Bangunannya tidak akan rubah struktur fisiknya, akan kita perkokoh dan mungkin akan kita isi foto-foto di dalamnya seperti sebuah museum,"ucap Rektor.

Mudiak Dadok, menurut salah satu tokoh kampung Zulfikri Tuanku Gindo, merupakan basis pertahanan atau persembunyian dari tentara republik semasa PDRI.

baca juga: Febri Diansyah Mundur dari KPK, Ini Respon Novel Baswedan

Tofografi alam dengan kontur bukit dan lokasi strategis serta terpencil, menjadi salah satu alasan wilayah ini dipilih menjadi basis pertahanan. Syafruddin membuat semacam basis militer di sini.

Sebuah bangunan yang dahulunya merupakan Surau, dikatakan sebagai markas dalam mengatur strategi dalam menentang Belanda.

baca juga: Pemerintah Targetkan Emisi Gas Rumah Kaca Turun 834 Juta Ton pada 2030

Kini, surau itu sudah lapuk dan tak dihuni, serta bentuk fisiknya pun berubah karena sudah banyak bangunannya runtuh.

"Selama PDRI, Syafruddin bolak balik ke sini, dan di surau atau disinilah ia mendirikan markasnya,"ungkap Zulfikri baru-baru ini.

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Eko Fajri