Meski Perlahan, Emas Dunia Kembali Naik

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - Harga emas dunia kembali mengalami kenaikan yang dipicu langkah stimulus di tengah ketidakpastian atas kemungkinan vaksin virus corona.

Dilansir dari CNBC, harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi 1.749,29 dolar AS per ounce. Sedangkan emas berjangka Amerika Serikat ditutup menguat 0,4 persen jadi 1.752,10 dolar AS per ounce.

baca juga: Transaksi Akhir Pekan, Emas Batangan Turun Harga

"Di tengah kebutuhan yang lebih rendah untuk aset safe-haven seperti emas , fakta bahwa emas terus naik perlahan-lahan berbicara banyak tentang kekuatan yang mendasarinya berdasarkan ide injeksi likuiditas di seluruh papan dari bank sentral dan ekonomi ," kata David Meger, Direktur High Ridge Futures.

David menjelaskan penguatan ekuitas terjadi karena optimisme atas pembukaan kembali ekonomi dan permintaan konsumen yang terpendam. Sementara perkembangan seputar tes vaksin Moderna Inc adalah "wild card" bagi pasar.

baca juga: Kasus Corona Terus Bertambah Picu Turunnya Harga Emas Dunia

Pasar saham menguat karena harapan pemulihan ekonomi dan stimulus lebih lanjut.

Stimulus global besar-besaran untuk membatasi kerusakan ekonomi akibat pandemi virus corona telah mendukung emas yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

baca juga: Rupiah Berpotensi Melemah Akibat Kasus Corona Terus Meningkat

Emas juga mendapat dukungan dari risalah pertemuan Federal Reserve, dengan anggotanya mengakui kemungkinan langkah-langkah dukungan lebih lanjut jika penurunan ekonomi bertahan.

Chairman The Fed, Jerome Powell, mengatakan kepada anggota parlemen Amerika, bahwa bank sentral berupaya memperluas akses ke fasilitas kredit untuk peminjam tambahan, termasuk negara-negara dengan populasi yang lebih kecil.

baca juga: Tol Pekanbaru -- Dumai Segera Beroperasi, Tingkatkan Konektivitas Kawasan Industri di Provinsi Riau

Data makro Amerika yang suram baru-baru ini, termasuk klaim pengangguran besar-besaran, menyoroti pukulan ekonomi akibat pandemi tersebut, yang telah menginfeksi hampir 4,91 juta orang secara global.

Editor: Ramadhani