Benarkah Pasien COVID-19 yang Meninggal Menular? Ini Jawaban dr Deddy Herman

Wakil Satgas COVID-19 Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi dr. Deddy herman SpP(K) FCCP, FAPSR, MCH, FISR
Wakil Satgas COVID-19 Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi dr. Deddy herman SpP(K) FCCP, FAPSR, MCH, FISR (Ist)

PADANG, KLIKPOSITIF - Beberapa waktu lalu, terjadi penolakan pemakaman jenazah COVID-19 oleh warga di beberapa kota di Indonesia, termasuk Kota Padang. Alasannya karena jenazah COVID-19 yang telah meninggal, virusnya bisa menular. Namun benarkah demikian adanya?

Wakil Satgas COVID-19 Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi dr. Deddy herman SpP(K) FCCP, FAPSR, MCH, FISR mengatakan sebetulnya sewaktu ada pasien yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan masuk isolasi, apakah positif, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau Orang Dalam Pengawasan (ODP) yang meninggal d rumah sakit diperlakukn seperti pasien positif, walaupun Polymerase Chain Reaction (PCR) belum ada," katanya saat interaktif dengan Radio Classy FM beberapa waktu lalu.

baca juga: Terima Laporan Warga yang Bingung Dimana Harus Lakukan Swab, Ini Jawaban Jasman

Ia mengatakan pasien yang meninggal akan ditangani oleh petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. "Sebelum diselenggarakan, maka petugas medis akan menerangkan kepada keluarga tentang proses penyelenggaraan jenazah, jika ada pihak keluarga yang ingin melihat, maka akan diiznkan dengan tetap memakai APD, artinya hanya bisa dilihat sebelum masuk kantung," jelasnya.

Ia menerangkan perlakuan terhadap jenazah COVID-19 tidak dilakukan pembalseman atau suntikan pengawet. "Jenazah yang sudah meninggal dibersihkan najisnya, disiram seperlunya, dilap. Kemudian bagi yang muslim diwudhu'kan, dikafani dan dibungkus plastik yang tak tembus air, dan di desinfeksi," paparnya.

baca juga: Libur dan Cuti Bersama, Pjs Bupati Solsel Ingatkan Hal Ini

"Jenazah yang dimasukkan ke kantong jenazah dan diperiksa ada atau tidak kebocoran. Jika sudah aman dan dipastikan tak ada kebocoran, kemudian di desinfeksi, disegel dan tak dibuka. Setelah itu disemprotkan disinfektan dan menggunakan keranda khusus. Jika ada pihak keluarga yang ingin melakukan autopsi, maka akan dilakukan oleh petugas khusus. Setelah pasien masuk kantong, maka akan dimasukkan ke dalam peti jenazah, didesinfeksi kembali dan dibawa ke pemakaman," katanya.

Syarat tempat pemakaman bagi jenazah COVID-19 berdasarkan dinas lingkungan hidup berjarak 50 meter dari sumber air dan 500 m dari rumah warga begitu juga pasien yang dikremasi harus berjarak 500 meter dari rumah warga. "Sehingga tidak perlu ditolak oleh warga karena sudah melewati proses yang sangat hati-hati dari proses awal hingga pemakaman," tuturnya.

baca juga: Pertanyakan Tujuan Pemerintah, Epidemiolog UI: Semua Pabrik Vaksin Didatangi, Mau Buka Toko?

"Untuk pasien beragama Islam, jenazah tidak boleh dibuka kembali karena cairan tubuh masih mengandung virus. Ahli forensik mengatakan jika inang mati, viruspun akan mati.. Hal ini dibantah oleh dr Deddy karena berdasarkan penelitian dan evidence by medicine virus dapat bertahan di kayu selama 1-1/2 hari, Di plastik selama tiga hari, di logam selama 2 hari di kertas selama tujuh jam dan bila suhu rendah dibawah 10 derajat dan kelembaban kurang dari 40 persen dikatakan Virus dapat bertahan selama 28 hari- 1 bulan," jelasnya.

Sehingga jika bungkus jenazah dibuka resikonya akan menular, karena kontak langsung. Ia menuturkan, bahwa berdasarkan penelitian pada pemeriksaan swab hidung didapatkan 63 persen positif ditenggorokan 88-90 persen virus, dahak 97 persen, di darah ada 12 persen, dan jika diare ada 70 persen virus.

baca juga: Pemerintah Anggarkan Rp122 Triliun untuk UMKM

dr Deddy Herman juga mengimbau kepada masyarakat atau keluarga korban agar mengikhlaskan pasien COVID-19 yang meninggal. "Dan semoga mereka meninggalnya syahid. Dan jika ingin tetap menyolatkan maka bisa dilakukan dengan Salat Ghaib," paparnya.

Sehingga warga tak perlu cemas dan takut jika pasien COVID-19 yang meninggal akan menularkan virus. "Karena mereka telah dibersihkan dan dikuburkan sesuai dengan ketentuan COVID-19 dan sesuai dengan kepercayaan pasien. Kita sebagai masyarakat saat ini tugasnya adalah mengikuti imbauan pemerintah agar tetap di rumah dan menjaga diri tetap sehat. Jika memang harus keluar rumah, maka gunakan masker," imbaunya.

"Untuk petugas yg meninggal, mereka seperti orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Buat yang beragama Islam tentu di anggap syahid. Apabila apa dikuburkan di pemakaman dan bila mereka adalah syuhada, mudah-mudahan juga akan memberi berkah kepada orang-orang yang berada di lingkungan makam. Bumi dan surga saja merindukan mereka, kenapa orang muslim menolak mereka," tegasnya. (*)

Editor: Fitria Marlina