Haruskah Hewan Peliharaan di Tes COVID-19?

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -Sebuah kasus yang menyebutkanhewan peliharaanpertama terinfeksi virus Corona (COVID-19), dilaporkan pada akhir Maret. Kucing itu menderita diare, muntah, dan kesulitan bernapas.

Pada hari yang sama, Departemen Pertanian, Perikanan, dan Konservasi Hong Kong melaporkan bahwa seekor anjing Pomeranian berusia 17 tahun juga terinfeksi oleh virus Corona .

baca juga: Peneliti Italia Ungkap 80 Persen Pasien Covid-19 Usia 20 Tahun ke Bawah Tak Tunjukkan Gejala

Meski kasus-kasus hewan peliharaan yang terinfeksi virus ditemukan belakangan ini, para ahli di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menekankan bahwa anjing dan kucing memiliki risiko yang kecil untuk menulari manusia.

"CDC tidak memiliki bukti bahwa hewan peliharaan dapat menyebarkan COVID-19, dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa hewan peliharaan mungkin menjadi sumber infeksi, berdasarkan informasi yang kita miliki saat ini," ucap Casey Barton Behravesh, direktur One Health Office di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular dan Zoonosis.

baca juga: Pulang dari Palembang, Warga Solok Positif Covid-19

Walau begitu, para dokter hewan menginginkan lebih banyak informasi. Meskipun tes manusia mungkin bekerja pada hewan, para tim medis kekurangan pasokan alat penguji dan di sisi lain, dokter hewan lebih suka melakukan tes spesifik menurut spesies.

Beberapa laboratorium telah mengembangkan tes COVID-19 untuk hewan peliharaan, tetapi belum ada yang mulai menerapkannya secara luas. Departemen Pertanian AS (USDA) telah menyarankan untuk tidak melakukannya, dan banyak ahli khawatir hal ini akan menimbulkan ketakutan yang tidak beralasan.

baca juga: Virus Corona Diduga dapat Menyebar di Udara, Ilmuwan Rancang Filter Udara

"Kami tidak memiliki bukti bahwa hewan peliharaan dapat menularkan virus, karenanya kami sangat membutuhkan (lebih banyak) informasi," ucap Timothy Baszler, direktur eksekutif Laboratorium Diagnosis Penyakit Hewan Washington (WADDL).

WADDL sendiri mengumumkan telah mengembangkan tes COVID-19 untuk hewan peliharaan pada 2 minggu yang lalu. WADDL menciptakan pengujiannya atas permintaan lembaga kesehatan hewan setempat dan federal.

baca juga: Ini Daftar 50 Negara Kasus Infeksi Tertinggi Corona, Indonesia Posisi 26

Para pejabat khawatir karena panti jompo di Kirkland, Washington, yang merupakan salah satu tempat wabah COVID-19 pertama di Amerika Serikat pada awal Maret, juga merupakan rumah bagi sejumlah kucing.

Anjing dan kucing memiliki banyak reseptor sel yang sama dengan yang dimiliki manusia, yang dapat diikat oleh virus dan selama wabah sindrom pernapasan akut pada 2003 lalu, para ilmuwan melaporkan bahwa kucing dapat terinfeksi oleh virus dan menularkannya ke kucing lain.

Tes hewan peliharaan COVID-19 yang dijalani WADDL, mirip dengan tes pada manusia.

Tes ini menggunakan reaksi rantai polimerase (PCR) untuk memperkuat RNA dari virus. Baszler mengatakan, ia dan tim ahli mengembangkannya dengan lusinan sampel usap (swab) hidung dan tenggorokan dari kucing dan anjing yang dikumpulkan dari Amerika Serikat bagian barat.

Meskipun tidak satu pun dari hewan-hewan tersebut yang terinfeksi COVID-19, tes ini mampu mengambil virus dalam sampel unggulan dan tidak keliru dalam mendeteksi virus Corona jenis lainnya.

Baszler mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui diagnostik dan WADDL dapat mulai melakukan tes hingga 100 hewan peliharaan per hari, jika diperlukan.

Sementara itu, IDEXX Laboratories, sebuah jaringan global lebih yang terdiri dari 80 laboratorium diagnostik, juga mengumumkan tes COVID-19 untuk hewan pada pertengahan Maret.

Sama seperti tes WADDL, tes ini didasarkan pada PCR dan dikembangkan menggunakan sampel dari kucing dan anjing. Namun dalam kasus IDEXX, pengembangan uji juga menggunakan sampel kuda.

Perusahaan ini telah menganalisis lebih dari 4 ribu sampel, termasuk spesimen dari hewan dengan gangguan pernapasan.

"Semua memiliki hasil negatif," lapor Jim Blacka, direktur senior perusahaan. "Jika ada kebutuhan untuk mulai menguji hewan peliharaan, kami siap untuk mengkomersialkannya dan membuatnya tersedia secara luas."

Dilansir lamanScience Mag,meski begitu ada beberapa hambatan untuk menerapkan tes COVID-19 pada hewan. Masalah utama adalah kurangnya urgensi.

Terlebih, di Amerika Serikat saja ada sekitar 150 juta anjing dan kucing. Jika hewan peliharaan dapat dengan mudah terinfeksi virus Corona , banyak kasus pasti akan dilaporkan. Namun faktanya, hingga saat ini tidak ada yang melaporkan lonjakan infeksi virus Corona pada hewan peliharaan.

USDA telah merilis FAQ pada minggu lalu yang berisi tentang pengujian hewan peliharaan. Menurut laporan, saat ini pengujian untuk hewan peliharaan hanya akan dilakukan jika USDA menemukan kasus penyebaran virus Corona dari hewan peliharaan ke manusia.

Laporan itu secara dapat mencegah laboratorium melakukan pengujian secara luas pada hewan tanpa persetujuan USDA. Baszler mengatakan, saat ini masih tidak jelas apa yang harus dilakukan jika hewan peliharaan dinyatakan positif terkena virus.

Baszler menambahkan, ia bekerja sama dengan para ahli dokter hewan untuk mengembangkan rencana pengujian pada hewan peliharaan. Ia mengatakan jika upaya itu dimulai, fokus pertama harus pada hewan yang tinggal bersama dengan pemilik yang telah dinyatakan positif.

Jika hewan-hewan itu positif juga, dokter hewan dapat mempelajarinya untuk menganalisa lebih lanjut, tentang bagaimana virus mempengaruhi kucing dan anjing.

Untuk saat ini, Behravesh menyarankan untuk merawat hewan peliharaan seperti memperlakukan diri sendiri. Jika pemilik sakit, maka batasi kontak dengan hewan peliharaan dan hindari hewan peliharaan orang lain saat berada di luar.

Editor: Eko Fajri