Jenis Ular Berbisa di Bukittinggi dan Agam, yang Terakhir Sangat Mematikan

Syawaldi dan Anakan Blue Coral yang Diawetkan
Syawaldi dan Anakan Blue Coral yang Diawetkan (KLIKPOSITIF/HATTA RIZAL)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITI -Sebagian wilayah Bukittinggi dan Agam ternyata merupakan habitat dari beberapa ular mematikan. Racun dari beberapa jenis ular tersebut, sanggup melumpuhkan bahkan membunuh manusia.

KLIKPOSITIF mendatangi Syawaldi dari Komunitas Bukittinggi Reptil Animal Community (B-Reptanic) di sekretariatnya, di Belakang Kantor DPRD Bukittinggi guna mengetahui ular apa sajakah yang berbahaya itu.

baca juga: Tujuh Personel Polda Sumbar Dipecat Tidak Hormat , Empat Diantaranya Terkait Narkoba

''Yang pertama, jelas kobra. Terutama jenis kobra sembur, ini sering kita kita resque. Kita pernah dapat di Panganak Bukittinggi dan Kamang Agam. Ular ini hidup dekat areal perkebunan dan perbukitan, racunnya mampu membunuh manusia apabila tak ditangani dengan baik,''ungkapnya, Kamis 23 Januari 2020.

Selanjutnya, kata Syawaldi, ular berbisa lainnya adalah ular tanah. Sesuai namanya umumnya ular ini memang ditemui di tanah. Ular ini cukup dikenal, dominan berwarna hitam dan racunnya juga berakibat fatal bagi manusia.

baca juga: Terima Perintah Penyelidikan Dugaan Korupsi Dana Covid-19, Polda Sumbar Bentuk Tim

''Lalu, ada Viper Pohon atau Barati. Biasanya ia hidup di area yang dingin seperti di kaki perbukitan Kamang maupun Gunung Marapi. Warna tubuhnya hijau, kepala dan ekornya warna merah menyala. Racunnya menyengsarakan, jika tak ditangani dengan baik, jelas membahayakan,'' ujarnya.

Daftar ular terakhir adalah ular Tampuanghari atau ular cabai. Nama bekennya adalah Blue Coral. Ukuran tubuhnya maksimal sebesar gagang sapu dan mampu tumbuh hingga satu meter.

baca juga: Usai Jabat Dua OPD di Pessel, Ahda Yanuar Kembali ke Pemprov

''Warnanya hitam kebiruan. Sangat agresif dan suka menyerang manusia. Racunnya sangat mematikan, sanggup membunuh manusia dalam hitungan menit. Tapi ini ular langka, jarang ditemui. Jika ketemu harus hati-hati,'' pesannya.

Komunitas B-Reptanic berdiri sejak 2013, beranggotakan sebanyak 20 an orang. Komunitas ini hadir murni didorong aksi sosial penyelamatan reptil dari konflik dengan manusia. Tak terhitung banyaknya reptil yang sudah diselamatkan. Jika reptil itu memiliki racun, maka komunitas ini akan memeliharanya, sebab beresiko jika dilepasliarkan kembali. Kalau tidak beracun, dilepasliarkan di Ngarai Sianok.

baca juga: Soal Masyarakat yang Tak Mau Divaksin Covid-19, Ini Kata Ketua MUI

Bagi warga Bukittinggi dan Agam Timur, jika rumahnya didatangi reptil, mohon jangan dibunuh. Tapi, silahkan hubungi nomor 082386222234 agar reptil itu bisa dievakuasi dengan aman oleh Komunitas B-Reptanic. Tak ada biaya untuk evakuasi, ini murni aksi sosial menyelamatkan satwa demi keseimbangan ekosistem.

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Ramadhani