Cerita Pedagang Cenderamata yang Mengadu Nasib saat Event Besar di Sumatera

Rizal, pedagang cenderamata
Rizal, pedagang cenderamata (KLIKPOSITIF/Rehasa)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF -- Meski usianya tidak lagi muda, namun bapak pedagang cenderamata ini tak pernah menyerah untuk mengadu nasib. Tak hanya di Sumbar, namun jika ada event besar lainnya di Pulau Sumatera, pantang baginya untuk dilewatkan. Dia adalah pria 60 tahun yang melakoni hidup sebagai pedagang cenderamata musiman.

Rizal, begitu keluar sapaan dari mulut yang akrab dengannya. Di depan Panggung Gandoriah, Pantai Pariaman , dia tampak dikerumuni oleh pembeli, ibarat tubuhnya tenggelam oleh gelombang manusia, Jumat 13 Desember 2019.

baca juga: Jelang HUT RI, Penjualan Bendera Laris Manis di Pariaman

Saat dihampiri, Pak Rizal tengah sibuk mengukir nama pada pena yang dipesan pembeli. Sekali-kali ia luruskan tubuhnya lalu disandarkan punggungnya pada batang pohon

"Sudah lebih 8 tahun bekerja seperti ini. Semenjak 2011 hingga sekarang mengais rezeki dari kerja ini," jawab Pak Rizal pada KLIKPOSITIF , saat ditemui pada event Hari Nusantara di Pantai Gandoriah, Jumat 13 Desember 2019.

baca juga: Begini Gambaran UMKM di Pariaman Semenjak 2018 Hingga Pandemi

Lapak jualan Pak Rizal tak sebesar harapannya siang itu, cuma berukuran satu kali setengah meter persegi. Sementara hari sudah siang, modal dagangannya belum kembali meski banyak nan beli.

"Sedikit-sedikit untungnya, jadi modal belum kembali. Sejak awal event saya di sini, dari tanggal 7," ungkap Rizal.

baca juga: Dinkes Pariaman Ingatkan Bahaya Penyakit Kusta, Ajak Masyarakat Lakukan Hal Ini

Beragam cenderamata dijualnya. Ada beragam pena, gantungan kunci, plakat, bros serta yang lainnya.

"Pena harganya bermacam sesuai pula dengan bentuknya, mulai dari 5 ribu hingga 30 ribu rupiah. Ada juga bros 5 ribu, plakat dan pernak pernik lainnya. Rata-rata harga 5 ribu rupiah," ucap bapak itu.

baca juga: 6 Hektare Lahan Tidur di Pariaman Digarap BUMDes

Harga segitu, kata Pak Rizal lagi, sudah termasuk jasa ukir nama. "Nama atau tulisan lain, sesuai permintaan pembeli saya ukir di cenderamata ini. Paling banyak pembeli meminta agar nama merek dituliskan," jelas Pak Rizal.

Nah untuk alat ukir atau grafe ini, kata Pak Rizal lagi, dibuatnya sendiri. Ujung grafe untuk mengukir tulisan terbuat dari mata bor, sedangkan penggerak bor terbuat dari dinamo dengan daya aki berukuran kecil.

Tampak juga seluruh barang dagangannya bertulisan "Hari Nusantara" dengan berbagai bentuk. "Inikan sifatnya dagang musiman. Saat ada event saya selalu datang, menjual cenderamata dengan hiasan khusus setiap event," sebut dia.

Untuk event Hari Nusantara Pak Rizal mengaku baru pertama kalinya dia berjualan. 

Dia mengutarakan, 5 tahun belakangan hampir setiap event di Sumatera dikunjunginya untuk berjualan.

"Hampir setiap event jualan, tak hanya Sumbar saja, kalau ada event di kawasan Se Sumatera saya jajaki," ungkap bapak tua asal Bukittinggi itu.

Dari Bukittinggi dia menuju acara Hari Nusantara. Sudah sepekan dia menjadi penunggu di Pantai Gandoriah.

"Selama jualan di sini saya tidur di Stand. Mana ada bantal, apalagi kasur. Pandai-pandai saja cari tempat," kata bapak yang menghidupkan 4 orang anaknya itu.

Terkait itu semua, dia mengaku mengusung harapan anak dan istri saat mengayun langkah dari Bukittinggi untuk berjualan.

"Mudah-mudahan peserta Hari Nusantara datang membeli jualan ini. Seperti yang sudah-sudah, peserta event kan belinya lebih banyak untuk dibagikan sebagai cenderamata. Itu saya harapkan. Namun peserta biasanya datang pada puncak acara, itukan Sabtu," katanya.

"Ah jangan ucap kata lelah, satu langkah dari rumah dihitung harapan anak istri. Perjalanan tak berhenti sebelum kembali pulang menyuguhkan harap itu," sambungnya.

[Rehasa]

Penulis: Iwan R