Studi: Dampak Polusi Seperti Merokok Satu Bungkus Sehari

Ilustrasi
Ilustrasi (Pixabay)

KLIKPOSITIFPolusi udara yang biasa terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta makin meresahkan mengingat dampak yang bisa terjadi. Tak hanya kualitas hidup, kesehatanpun bisa terganggu. 

Bahkan menurut studi baru, polusi udara bisa menyebabkan kerusakan sama seperti merokok satu bungkus sehari. Polusi udara meningkatkan risiko orang mengalami penyakit paru-paru sama seperti merokok satu bungkus sehari.

baca juga: Pandemi COVID-19, Momentum Transisi ke Energi Terbarukan

Temuan ini juga sempat membuat peneliti terkejut. "Kami terkejut melihat seberapa kuat dampak polusi udara pada perkembangan emfisema saat pemindaian paru-paru sama seperti efek dari merokok," terang Joel Kaufman, Profesor di University of Washington.

Emfisema merupakan keadaan di mana jaringan di paru-paru hancur secara bertahap dan menyebabkan mengi, batuk, sesak napas, dan meningkatkan risiko kematian. Menurut para peneliti, jika Anda tinggal di daerah dengan kadar ozon yang meningkat, para peneliti menemukan adanya peningkatan emfisema kira-kira setara dengan merokok sebungkus sehari selama 29 tahun.

baca juga: Ahli Sebut Indonesia Gagal Kendalikan Wabah COVID-19, Kenapa?

Dilansir dari thehealthsite, hubungan jangka panjang antara paparan polusi udara dengan peningkatan emfisema diterbitkan dalam jurnal JAMA. Studi yang dilakukan 18 tahun dan melibatkan 7.000 orang ini meliputi pemeriksaan terperinci terhadap polusi udara pada tahun 2000 hingga 2018 di enam wilayah metropolitan di seluruh Amerika Serikat.

"Sepengetahuan kami, ini adalah studi longitudinal pertama yang menilai hubungan antara paparan jangka panjang polusi udara terhadap perkembangan emfisema dalam kelompok besar, berbasis komunitas, multi etnis," terang Meng Wang, Asisten Profesor di University at Buffalo.

baca juga: Tahun Ajaran Baru Dimulai, Waspadai Klaster COVID-19 Baru

Sementara, sebagian besar polusi udara menurun berkat upaya untuk mengatasinyanya, ozon telah meningkat menurut peneliti. Ozon di permukaan bumi sebagian besar dihasilkan ketika sinar ultraviolet bereaksi dengan polutan dan bahan bakar fosil.

Sumber: suara.com

baca juga: WHO: Banyak Negara Salah Arah Tangani Virus Corona

Penulis: Rezka Delpiera