Tahun Depan dari BIM bisa Langsung ke Batang Arau Naik Kereta Api

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - PT. Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan jalur kereta Padang-Pulau Aie beroperasi 2020. Sejak pertengahan tahun ini reaktivasi (membuka kembali) jalur telah dilakukan dengan membersihkan bangun di sekitar jalur.

Kepala Balai Perkeretaapian Wilayah Sumbar Suranto mengatakan, wisatawan yang naik kereta dari stasiun Bandara Internasional Minangkabau (BIM) bisa ke Pulau Aie untuk menikmati Sungai Batang Harau.

"Pengunjung yang ingin ke Mentawai juga lebih dekat, karena keberadaannya dekat dengan pelabuhan Muaro," ujarnya, Kamis, 8 Agustus 2019.

baca juga: Tingkatkan Keselamatan Pengendara di Perlintasan, PT KAI Divre II Gelar Sosialisasi ke Jalan

Dikatakannya, sejumlah bangunan yang berada di lahan PT. Kereta Api Indonesia (KAI) dan terdampak sudah dibongkar. Pembongkaran ratusan bangunan semi permanen sepanjang jalur tersebut ditargetkan tuntas akhir 2019.

Pembersihan rel dari Pulau Aie hingga Padang (Statiun Simpang Haru) sepanjang 2,7 kilometer itu sudah dimulai sejak pertengahan tahun ini dan ditargetkan sudah beroperasi pada 2020, pekerjaan reaktivitas itu akan dilakukan dalam beberapa tahapan.

baca juga: Kembali Makan Korban, PT KAI Divre II Sumbar Ingatkan Agar Masyarakat Tak Nekat Terobos Palang KA

Pertama, PT KAI akan melakukan reaktivasi jalur (track) dan peningkatan kapasitas dari R33 menjadi R54 kemudian dilanjutkan dengan pengerjaan Stasiun Pulau Air dan beberapa jembatan.

Lebih lanjut, kata Suranto, pengaktifan kembali jalur kereta api Pulau Air ini sedikitnya akan membongkar rumah sebanyak 238 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di sepanjang jalur KA Simpang Haru–Pulau Aie. Namun sebanyak 151 bangunan berkontrak dengan PT KAI dan 87 bangunan tanpa kontrak.

baca juga: Catat! Pelanggar di Perlintasan Sebidang Terancam Hukuman Denda Hingga Kurungan

Menurut Suranto lagi, penggunaan lahan di sepanjang rel kereta itu berstatus sewa dengan PT KAI. Sedangkan sewa lahan tersebut telah diputuskan sejak 1 Januari 2019. Beberapa bangunan sudah ada yang mulai dibongkar, namun ada juga beberapa yang meminta tenggang waktu hingga Lebaran Idul Adha dan 18 Agustus 2019.

"Bagi rumah yang tidak berkontrak dengan KAI akan tetap dibongkar namun akan diberikan kompensasi atau biaya bongkar," ucap Suranto tanpa merinci jumlah bangunan yang sudah dibongkar.

baca juga: Keren! PT KAI Raih ISO 37001:2016 untuk Sistem Manajemen Anti Penyuapan

Menurut sejarahnya, stasiun kereta api nonaktif kelas I yang terletak di Pasa Gadang, Padang Selatan, Padang itu merupakan stasiun pertama yang dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda di Kota Padang, Sumbar. Stasiun tersebut merupakan stasiun akhir menuju pelabuhan Muaro yang percabangannya dari Stasiun Padang.

Pembangunan jalan kereta api dari Pulau Aie ke Padang mencapai Bukittinggi dengan panjang 90 km diselesaikan pada 1891. Jalur kereta api tersebut diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1892 di Kota Padang bersamaan dengan pembukaan Pelabuhan Teluk Bayur (Emmaheaven) dan pembukaan hubungan kereta api dari Padang hingga Muaro Kalaban.

Stasiun Pulau Air merupakan stasiun transit atau pemberhentian sebelum menuju Muaro Padang, karena Stasiun Pulau Air berada di jalur Simpang Haru menuju Muaro Padang. Rel kereta api masih bisa dilihat di kawasan kota Padang, namun sudah banyak yang berada di teras rumah. Sejak tidak beroperasi, kawasan itu kemudian berubah menjadi permukiman warga. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir