Pengeroyokan di Ponpes, Polisi Amankan BB Sepatu Bot dan Gagang Sapu

Polisi memberikan keterangan terkait kasus pengeroyokan
Polisi memberikan keterangan terkait kasus pengeroyokan (Klikpositif)

PADANGPANJANG, KLIKPOSITIF -- Kasat Reskrim Polres Padangpanjang Iptu Kalber Jonaidi mengatakan, jumlah santri yang diduga terlibat melalukan pengeroyokan di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas bertambah. Hingga saat ini, sudah 19 santri yang diperiksa penyidik Polres Padangpanjang. 

"Dari hasil intrograsi penyidik diduga dua orang santri lainnya juga terlibat dan sudah kita periksa,” kata Iptu Kalber Jonaidi dalam keterangan pers, Kamis 14 Februari 2019.

baca juga: Hari ini 9 Orang Positif COVID-19, TP-PKK Tanah Datar Bagikan Masker Pada Warga

Kalbert menyebut, perkara segera digelar penyidik Satreskrim Polres Padangpanjang. Sebelumnya juga akan dipanggil pihak ponpes untuk dimintai keterangan. 

“Kasus ini melibatkan anak dibawah umur. Untuk itu perkara ditangani secara khusus oleh penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA),” ujarnya. 

baca juga: Serius Hadapi COVID-19, Ini Upaya Penanganan yang Dilakukan Pemkab Tanah Datar

Selain memeriksa 19 santri, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga digunakan untuk menganiaya korban. 

“Kita telah amankan sepasang sepatu bot dan potongan gagang sapu," bebernya.

baca juga: Hari Ini 46 Warga Positif COVID-19 di Tanah Datar, 7 Diantaranya Klaster Rutan Batusangkar

Pengeroyokan berawal dari sejumlah peristiwa pencurian yang diduga dilakukan R di lingkungan asrama. 

Aksi korban terkuak setelah salah satu santri menemukan memori HP-nya yang hilang dipakai santri lain. Saat ditanya, memori itu didapat dari R. Ketika itu, R mengakui perbuatannya dan memantik emosi santri lain yang juga kehilangan barang. 

baca juga: TP-PKK Tanah Datar Salurkan Bantuan Emersia Grup Pada Warga yang Membutuhkan

“Saat itu ada belasan santri yang  mengaku kehilangan akhirnya menemui R. R mengakui perbuatannya dihadapan kami dan minta maaf atas perbuatannya,” sebut W, salah satu santri yng ikut diperiksa polisi. 

Kemudian, belasan santri yang sudah terpancing emosi langsung meluapkan kekesalan dengan memukul R, Kamis 7 Februari 2019 sekitar pukul 22.00 WIB. 

Tidak sampai disitu, informasi tersebut dengan cepat menyebar ke santri lain. Santri yang merasa kehilangan barang ikut menemui R. Jumat, R kembali dipukul sejumlah santri. 

Persoalan tidak selesai sampai disitu. Dua malam berikutnya, R kembali dikeroyok. Saat itu R mengaku dan meminta maaf. Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB, R kembali dipukuli oleh santri lain  hingga dilarikan ke RS M Jamil Padang. (rj) 

Penulis: Rezka Delpiera