DPR: 20 Persen Anggaran Pendidikan Hanya Formalitas

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menilai, anggaran pendidikan sebesar 20 pada APBN dan APBD hanya formalitas.

Ia mengatakan, jika ditelusuri, bahkan menurut Neraca Pendidikan Daerah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), banyak kota dan kabupaten yang mengalokasikan kurang dari 10 persen APBD untuk pendidikan .

baca juga: Gugus Tugas COVID-19: Jika Sekolah Zona Kuning Dibuka, Satu Kelas Hanya 25 Persen Murid

Menurutnya, pendidikan di Indonesia memiliki payung yang kuat dalam mendukung anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN dan APBD , demikian pula dengan regulasi berupa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Namun ia menyayangkan, anggaran 20 persen tersebut tidak sepenuhnya berada pada kementerian yang mengurus pendidikan .

baca juga: Alasan Ruangan, Pemko Padang Pastikan Belum Laksanakan PBM Tatap Muka

"Dari Rp440 triliun di APBN sekarang, hanya Rp40 triliun ke Kemendikbud, Rp40 triliun ke Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dan Rp63 triliun di Kementerian Agama (Kemenag)," kata dia.

Artinya, sebut Fikri, 2/3 anggaran pendidikan banyak untuk K/L lain. Bahkan Rp200 triliun berupa transfer daerah.

baca juga: Siswa dan Orang Tua di Padang Lebih Setuju Sekolah Daring Selama Pandemi

Dengan kondisi tersebut, menurut politisi PKS itu, wajar bila dari delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), terdapat empat standar yang kategorinya sangat buruk menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Fikri mengemukakan, dua SNP yang paling menonjol adalah mengenai sarana prasarana dan pendidikan dan tenaga kependidikan. "Tidak ada satu pun daerah yang tidak mengeluhkan dua standar ini," ujarnya.

baca juga: Nadiem Mengaku Jadi Menteri Membuat Frustasi

Sarpras misalnya, dari 1,8 juta ruang kelas yang ada, 1,3 juta dinyatakan rusak dan hingga kini pemerintah hanya memperbaiki sedikit saja, hanya yang rusak berat sebesar 250 ribu.

"Itu pun tahun 2018 ini hanya dialokasikan 25 ribu saja, sisanya diserahkan ke daerah sesuai UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah," ucap Fikri.

Di sisi lain, ia juga menguraikan mengenai persoalan guru yang mengalami kekurangan 900 ribu orang. Ditambah lagi saat ini belum ada skema pemenuhan dari Kemenpan-RB dengan alasan klasik, yakni anggaran belum tersedia.

Sehingga permasalahan ini diserahkan kepada sekolah. Namun di sisi lain, guru-guru itu tidak boleh diangkat menjadi honorer, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2005.

"Persoalan pendidikan ini karena bergantinya kebijakan secara berulang-ulang tiap terpilih pemerintahan yang baru. Begitu juga dengan kurikulum yang ganti setiap menteri baru ditunjuk," pungkasnya.

Semua masalah yang dipaparkannya itu, ia berpendapat bahwa hal itu disebabkan karena Indonesia belum memiliki grand design atau Rencana Induk Pendidikan yang jelas.

Sebab, dengan rencana induk yang jelas, amanat konstitusi mengenai alokasi 20 persen anggaran bagi pendidikan tidak hanya formalitas belaka.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa