Menelusuri Jejak Grup Musik Legendaris Lime Stone Band (1)

Suryono Madjid
Suryono Madjid (Riki Suardi/KLIKPOSITIF)

PT Semen Padang di masa silam pernah memiliki grup musik legendaris yang eksistensinya terus dikenang sepanjang masa. Grup musik yang bernama Lime Stone Band itu telah mewarnai perjalanan jagad musik tanah air selama 42 tahun (1971-2013). Bagaimana untaian sejarah grup musik yang bermarkas di Indarung dan kini bermetamorfosis menjadi Semen Padang Band sejak 2013 itu, tim KLIKPOSITIF mencoba merangkumnya dengan menyambangi sejumlah pentolan yang masih hidup. Berikut laporannya.

***
Selasa, 17 Oktober 2017 pagi, pintu rumah bernomor 319 di Jalan Rambutan II, Perumahan HO III Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, tertutup rapat, namun pagar rumah yang terbuat dari terali besi terlihat terbuka selebar 1 meter. KLIKPOSITIF kemudian mendekati rumah sederhana berwarna merah maron tersebut.

baca juga: Semen Padang Ajak Karyawan Terapkan Protokol Kesehatan

Begitu sampai di teras rumah, seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun, tiba-tiba membuka pintu utama rumahnya. Dengan ramah, wanita berhijab itu menyapa dan menanyakan maksud kedatangan KLIKPOSITIF pada pagi hari menjelang siang itu. Belum sempat menjawab, tiba-tiba sesosok pria dengan rambut sudah beruban, muncul dari dalam rumah berukuran sekitar 120 meter persegi tersebut.

Melihat pria tua bertubuh kurus itu, KLIKPOSITIF langsung memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan. Hanya berselang beberapa detik, lelaki yang bernama lengkap Suryono Madjid itu mengajak masuk ke dalam rumah. “Sebaiknya kita ngobrol di ruang tamu, di luar panas,” tutur legenda hidup grup musik Lime Stone Band itu.

baca juga: Kuliah di ITB, Anak Tukang Ojek di Alahan Panjang Itu Penerima Beasiswa Semen Padang

Belum sempat memulai perbincangan, tiba-tiba pria berdarah Banten kelahiran Kota Padang, 10 September 1943 itu masuk ke sebuah ruangan yang ada di rumah tersebut. KLIKPOSITIF diminta menunggu di ruang tamu. Sambil menunggu, KLIKPOSITIF pun mengamati sejumlah sudut ruang tamu rumah berukuran sekitar 6 x 4 meter persegi tersebut.

Rumah musisi grup band tersohor di Ranah Minang itu ternyata beda jauh dari rumah musisi legendaris tanah air lainnya. Biasanya, para musisi memajang sejumlah penghargaan seperti replika album serta kaset berupa piringan hitam di ruang tamu rumahnya sebagai kenangan, namun di rumah Suryono, tak satupun ada pajangan tersebut, kecuali sejumlah foto keluarga yang terpampang di dinding ruang tamu.

baca juga: Peringati Hari Anti Narkoba Internasional, Semen Padang Gelar Lomba Puisi dan Poster

Usai mengamati sejumlah pajangan di dinding rumah tersebut, tiba-tiba lelaki tua yang mengenakan celana pendek hitam dengan kaos oblong berwarna putih bertuliskan “Bali” itu keluar dengan membawa sebuah buku berbentuk bundel. “Ini buku lagu. Ada ratusan lebih lagu di buku ini. Sebagian dari lagu yang ada di buku ini merupakan lagu ciptaan Lime Stone Band ,” kata musisi berusia 74 tahun itu memulai pembicaraan.

Pria yang akrab disapa Pak Un itu kemudian duduk dan melipat tangannya di atas kedua pahanya. Sambil mengenang, Pak Un menyebut era 70 sampai 90-an, merupakan masa kejayaan grup musik Lime Stone Band . Bahkan di masa itu, grup musik paling tersohor di Ranah Minang ini pernah satu panggung dengan grup musik sekaliber Koes Plus, D’Lloyd, dan Soneta Band yang dipunggawai Raja Dangdut Roma Irama.

baca juga: Selesai Diproduksi di Semen Padang, Shell Kiln untuk Pabrik Tonasa 3 Dikirim Melalui Teluk Bayur

PPCM Band

Sebelum Lime Stone Band dibentuk, di tahun 1960-an PT Semen Padang sudah memiliki grup band dengan nama Padang Portlant Cement Maskapai Band (PPMC Band). Namun di awal 1965, grup band tersebut bubar, karena sebagian personilnya sibuk dengan pekerjaan dan sebagian lainnya hengkang ke grub band lainnya. Kemudian 1966,  Direktur Utama PT Semen Padang ketika itu Ir. Mattjik, membentuk grup musik dengan nama Band Semen Padang yang beranggotakan P Suryono (guitar rhythm), Suharno (lead guitar), Nurmawi (bass), Taher (drummer) dan Zainal (arkodion).

Pada akhir 1970,  Band Semen Padang bubar. Kemudian pada tahun 1971, Azwar Anas yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Semen Padang , membentuk grup musik bernama Lime Stone Band dengan tujuan sebagai media promosi PT Semen Padang .

"Personil di generasi 1971 itu terdiri dari saya sebagai lead guitar, Sofyan Juned sebagai drummer, Azwar Amir pada posisi keyboard, Yusri Pon sebagai guitar rhythm, dan Hany Tuheteru sebagai Bass. Untuk vokal ketika itu, diisi Sofyan Juned sekaligus penabuh drum," kata Pak Un mengenang.

Dengan formasi tersebut, lanjut Pak Un, Lime Stone Band kemudian konser di beberapa daerah di Sumatera seperti Medan, Jambi, Riau dan lainnya dalam rangka mempromosikan PT Semen Padang . Tidak hanya itu, bahkan pada acara Medan Fair yang rutin diadakan tiap tahun, Lime Stone Band selalu diundang untuk menjadi band penghibur di daerah “Tanah Batak” tersebut.

“Di sela-sela konser di acara Medan Fair, kami selalu sampaikan bahwa Lime Stone Band merupakan grub band milik PT Semen Padang yang merupakan perusahaan semen pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara,” ungkap Pak Un sembari menyebut sebelum bergabung di Lime stone Band, dia pernah menjadi grup musik Wiranada Band binaan Kodam 03 Padang (Sekarang Korem 032/Wirabraja,red).

Sejak Lime Stone Band dibentuk tahun 1971 hingga sekarang, peronilnya selalu bergonta ganti. Pergantian pertama terjadi di tahun 1973 yang dimulai dari Azwar Amir yang mundur karena hijrah ke Ibu Kota Jakarta. Posisi Azwar kemudian diisi Agus yang merupakan musisi asal Padang Panjang. Selain Agus, manajemen PT Semen Padang juga menarik Jimmy Putiray dari Jakarta. Pria asal Ambon tersebut, memainkan alat musik seksofon.

Tahun 1975, Agus, Hany Tuheteru, Sofyan Juned dan Yusri Pon meninggalkan grup secara bergantian. Awalnya, kata Pak Un, Hany Tuheteru yang mundur dari grup dengan alasan pindah kerja ke Jakarta, sedangkan Agus pindah kerja di perusahaan lainnya di Padang. “Beberapa bulan kemudian, giliran Sofyan Juned dan Yusri Pon yang mundur, sehingga ketika itu, personil yang tinggal hanya saya dan Jimmy Putiray,” bebernya.

Kendati demikian, beberapa minggu setelah Sofyan Juned dan Yusrif Pon hengkang dari grup, manajemen PT Semen Padang kemudian menarik Supratman sebagai Drummer, Yanto Biswal sebagai vokalis, Yoserizal atau Hery sebagai lead guitar, Azhar Abas sebagai Keyboard, Armizal sebagai seksofon bersama Jimmy Putiray, serta Alif sebagai guitar rhythm. Di tahun 1980, jumlah personil pun bertambah seiring bergabungnya Yun Boer sebagai vokalis dan Syamsir yang memainkan alat musik guitar.

Empat tahun bersama Yun Boer, Lime Stone Band kemudian berduka. Sang vokalis Yun Boer meninggal dunia karena jatuh sakit. Beberapa bulan setelah kepergian Yun Boer, Jimmy pun dipindah tugaskan oleh manajemen PT Semen Padang ke perwakilan di Jakarta. Formasi minus tanpa Jimmy dan Yun Boer bertahan hingga satu persatu personil Lime Stone Band pensiun sebagai karyawan di PT Semen Padang .

“Itu enaknya kami. Manajemen mengapresiasi kami dengan menjadikan kami sebagai karyawan PT Semen Padang . Itu terjadi di tahun 1974. Saya dengan beberapa kawan-kawan seperti Jimmy, Armizal, dan beberapa personil lainnya diterima sebagai karyawan PT Semen Padang melalui Cakar I,” bebernya.

Telurkan Delapan Album

Hingga 2017 ini, pentolan Lime Stone Band generasi pertama yang menjadi legenda hidup hanya Suryono Madjid, Armizal, Alif, dan Syamsir. Sedangkan personil lainnya telah meninggal dunia. Sejak 1971 hingga 1980, grub band ini telah menelurkan delapan album yang beredar luas dalam format piringan hitam dan kaset.

Bahkan, beberapa lagu dari album tersebut hits hingga sekarang. Di antaranya, lagu berjudul “Serunai Aceh”. Lagu ini, merupakan lagu lama ciptaan almarhum Enen yang dipopulerkan Lime Stone Band . Lagu lainnya berjudul “Pergi Untuk Kembali” ciptaan Hany Tuheteru. “Usah Dikana Juo” dan “Dunia Wale” ciptaan Sofyan Juned.

Kemudian lagu berjudul “Siti Nurbaya” dan “Elo Pukek” ciptaan Yoserizal. Selain itu, lagu “Bunga Tanjung”, “Inderlela”, “Mak Inang”, dan “Rimbo Maek”. Bahkan lagu dengan judul “Bukik Indaruang”, hingga kini seolah-olah menjadi lagu “wajib” bagi perusahaan semen tersebut, karena lagu ini selalu diputar di setiap pergelaran event yang diadakan PT Semen Padang .

Belajar Ortodidak

Bagi Pak Un, memainkan alat musik gitar sudah menjadi hobinya sedari kecil, dan itu juga dilatar belakangi oleh orangtuanya yang merupakan pemilik musik orkes, sehingga berbagai jenis alat musik seperti gitar, gendang, biola dan berbagai jenis alat musik tiup ada di rumahnya.

“Begitu pulang sekolah, saya sering memainkan beberapa alat musik orkes milik ayah saya. Namun yang paling saya gemari adalah gitar,” ujarnya. Permainan alat musik gitar dipilih karena Suryono kecil pernah melihat teman ayahnya yang jago bermain gitar. “Saya lupa siapa namanya, yang jelas teman ayah saya itu pimpinan studio RRI Padang. Kemahiran beliaulah yang memotivasi saya untuk menekuni alat musik gitar,” bebernya.

Motivasi Generasi Muda

Selain dikenal sebagai sosok legenda hidup Lime Stone Band , di mata masyarakat Perumahan HO, Pak Un yang juga sering dipanggil dengan sebutan Ayah, dikenal sebagai sosok orang tua yang banyak memotivasi generasi muda Perumahan HO untuk bermain musik.

“Di tahun 1990 hingga 2000 awal, beliau banyak memotivasi anak-anak muda di kompleks ini untuk belajar berbagai jenis alat musik. Tapi sejak 10 tahun terakhir gak ada lagi, karena beliau lebih banyak ke masjid,” kata Seprio Wildo, salah seorang pemuda Perumahan HO yang ditemui KLIKPOSITIF , Kamis.

Kini, Pak Un tinggal bersama anak ketiganya. Sejak pensiun dari PT Semen Padang pada 1998, Pak Un kini lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah ke masjid dan berkumpul bersama keluarga, anak serta cucunya. Namun di samping itu, ayah dari lima orang anak itu masih menyempatkan diri untuk mengelola orgen tunggal yang didirikannya bersama teman-temannya di Lime Stone Band . Orgen tunggal itu bernama Enggel.

“Orgen tunggal itu dirikan pada 1993, ketika saya masih di Lime Stone Band . Saat ini, orgen tunggal tersebut masih eksis. Bahkan, sekali sebulan orgen ini disewa untuk acara hiburan di pesta pernikahan, ulang tahun dan acara pemuda. Ini saya lakukan, karena Hidup saya tidak bisa dipisahkan dari musik.” kata Pak Un. (riki suardi/bersambung)

Penulis: Riki Suardi