Papa Rusli Terima Penghargaan SEA Write Award 2017, Ini Komentar Penyair Muda

Rusli Marzuki Saria alias Papa Rusli
Rusli Marzuki Saria alias Papa Rusli (KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Terpilihnya Rusli Marzuki Saria, penyair asal Sumatra Barat dalam penerima penghargaan South East Asean (SEA) Write Award 2017 dari Kerajaan Thailand membuat dunia sastra Sumatra Barat kembali bersinar. Rusli Marzuki Saria yang akrab disapa Papa Rusli ini menjadi sastrawan Sumatra Barat keempat yang menerima SEA Write Award.

Baca : Menerima SEA Write Award 2017, Papa Rusli yang Setia Pada Puisi

baca juga: Novel Perempuan yang Mendahului Zaman Cetak Ulang

Sebelumnya, Sastrawan Sumbar yang pernah meraih penghargaan ini adalah A. A Navis pada tahun 1992 dalam bukunya Bertanya Kerbau pada Pedati. Kemudian Wisran Hadi pada tahun 2000 dalam naskah drama Cindua Mato dan Gus TF Sakai pada tahun 2004 atas buku Kumpulan Cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta.

Esha Tegar Putra, penyair kelahiran Solok, 29 April 1985 ini mengatakan penghargaan yang diterima Papa Rusli sangat layak. Menurutnya, semangat kepenyairan Papa Rusli membuat iklim kesusastraan Sumatera Barat ikut bergairah hingga hari ini, khususnya untuk puisi.

baca juga: Ratusan Karya Puisi Siap Bertarung di Payakumbuh Poetry Festival 2020

"Papa Rusli tetap berpuisi, layaknya orang muda yang sedang menggilai puisi, sampai hari ini," ujar Esha Tegar Putra, penulis buku puisi Dalam Lipatan Kain dan Sarinah ini.

"Saya memberi selamat lewat telpon pada Papa Rusli Marzuki Saria beberapa hari lalu setelah mendapat kabar bahwa Papa mendapat SEA Write Award tahun ini. Papa Rusli bilang, sebanarnya kabar itu sudah ia terima via email dari pihak Badan Bahasa sejal 7 Juni lalu. Namun ia kurang percaya pada email," sambung Esha.

baca juga: Novel Indak Talok Den Kanai Ati Dicetak Ulang, Dr Hasanuddin M.Si: Jadi Rujukan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Minangkabau

Esha juga menyebutkan untuk ukuran generasi Papa Rusli, ia merupakan salah seorang penyair yang memilih untuk tetap tinggal dan berproses di daerah. Selebihnya, sastrawan generasi dia dari Sumatera Barat (selain A.A. Navis) banyak yang memilih hijrah ke Jakarta dan berproses di sana.

"Papa Rusli, bagi saya pribadi adalah ikon per-puisian Sumatera Barat yang apabila ada penyair -penyair muda mulai menggilai puisi maka karya Papa Rusli menjadi rujukan utama dalam pembacaan mereka. Yang pasti, Papa Rusli salah seorang penyair di Indonesia, yang di hari tuanya tetap bergairah menulis puisi dengan stamina yang tetap terjaga," kata Ayah dari Dendang Jarek Samato ini.

baca juga: Tradisi Penulisan Drama Lenggang, Taman Budaya Adakan Lomba

Sementara itu, penyair muda yang berkegiatan di Kandang Padati, Padang, Heru Joni Putra mengatakan diusia Papa Rusli yang tergolong tidak muda lagi, Papa Rusli tetap bergairah menulis. Hal ini menurutnya karena ia berteman baik dengan anak muda dan terus mengikuti wacana-wacana terkini sehingga tidak terjebak pada masa lalu.

"Karya-karya beliau pun masih menjadi perbincangan seru di kalangan penulis muda Sumatra Barat. Esha Tegar Putra dan Deddy Arsya adalah dua penyair muda Indonesia yang berhasil mengembangkan bagian terbaik dari puisi Papa, seperti usaha menghadirkan banalitas kehidupan rakyat jelata, hubungan yang konyol dan getir bahkan tragis antara manusia dengan kota," kata Heru Joni Putra yang pada 12 Juli mendatang akan luncurkan buku puisinya berjudul 'Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa'.

Kepada KLIKPOSITIF ia mengatakan bahwa Papa Rusli sudah semestinya mendapatkan penghargaan tersebut. Hal ini dikarenakan hingga saat ini masih belum ada penyair Sumatra Barat yang terus berkarya dan konsisten dalam berpuisi hingga pada usia Papa Rusli yaitu 81 tahun.

"Memang ada selain RMS, dari generasi Navis sampai Gus tf yang pantas dapat South East Asean (SEA) Write Award? Ga kan?," tanya Heru Joni Putra, penyair kelahiran Payakumbuh ini.

[Ade Suhendra]

Penulis: Iwan R