Menag: Jangan Kotori Ramadan Dengan Kebencian

Ilustrasi
Ilustrasi (pixabay)

KLIKPOSITIF -- Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Islam Indonesia untuk menjaga kesucian bulan puasa, dengan menjadikan Ramadan sebagai basis penguatan kualitas diri sebagai muslim, dan penguatan kebangsaan sebagai warga negara.

Menurutnya, terminologi 'Ramadan' dalam Bahasa Arab berasal dari kata dasar 'ra-ma-dla' yang berarti 'membakar'. Hal ini bermakna bahwa Ramadan merupakan bulan untuk membakar hawa nafsu, amarah, murka, caci maki dan perilaku-perilaku destruktif lainnya.

baca juga: Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Hampir 80 Persen, Presiden: Semoga Bisa Diuji Coba Akhir Tahun

Baca Juga: http://news.klikpositif.com/baca/14728/kemenag-pantau-hilal-di-77-titik-tentukan-awal-ramadan

Untuk itu, Menag berharap Ramadan tidak dikotori dengan ujaran kebencian, caci maki, menghina dan memfitnah, baik dalam ruang sosial, lebih-lebih dalam ruang keagamaan. "Jangan sampai ruang keagamaan, apalagi ruang ibadah, yang bersifat sakral itu dikotori dengan ujaran kebencian yang justru dapat menghilangkan kesucian dalam beribadah," ujar Menag di Jakarta, Senin (22/05), seperti dilansir dari laman Kementerian Agama.

baca juga: Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir, Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai 35,34 Miliar Dolar AS

"Jadikan Ramadan ini sebagai ruang untuk bermuhasabah, mengevaluasi dan memperbaiki kualitas diri. Di samping dituntut untuk saleh secara individual, juga saleh secara sosial, serta mampu menjalin kedamaian di antara sesama umat manusia," sambungnya.

Menag berharap ibadah puasa dapat meningkatkan rasa kasih sayang terhadap sesama, serta sikap saling menghargai dan menghormati sesama. Menurutnya, orang yang melakukan ibadah puasa tidak akan mendapatkan balasan apa pun jika dirinya tidak mampu membangun kedamaian dalam kehidupan sosialnya.

baca juga: Pariaman Terpilih Sebagai Salah Satu Kota Smart City

Dalam konteks kebangsaan, keagungan Ramadan hendaknya dimanifestasikan untuk memperteguh komitmen kebangsaan dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila. "Momentum Ramadan hendaknya dapat dijadikan sebagai pusat gerakan bersama dalam menegaskan dan meneguhkan kembali ideologi Pancasila sebagai basis membangun negara yang religius," ujar Menag. (*)

Penulis: Eko Fajri