Raso jo Pareso Kearifan Minang Hadapi Bala (Wabah)

Oleh:

Syuhendri Dt Siri Marajo

Pamong Budaya Disbud Sumbar

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar-benar dari Tuhan mereka. Tapi mereka yang kafir mengatakan,"apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orsng yang fasik (Al Baqarah-26).

Berpedoman kepada Al-Qur'an, acuan tertinggi kita sebagai umat beragama, firman Allah dalam Surat Ar-Rahman 26 di atas pada dasarnya mengajak manusia untuk berfikir dan merasa, membangun perbandingan, bagaimana Allah menitipkan kekuatan kepada makhluk-Nya yang ringkih, kecil dan lemah.

Dalam keterbatasan fisiknya Allah mempersenjatai seekor nyamuk dengan kekuatan lain. Nyamuk dapat mendatangkan wabah yang bahkan mampu membunuh sekelompok manusia, bahkan makhluknya yang renik, tak kasat mata semacam virus yang hari ini kita hadapi dapat pula melumpuhkan segenap aktivitas manusia, dalam mengejar kuasa dan keduniawian.

Wabah, menjadi pembanding dan pengingat dalam, memahami dan merasakannya sebagai wujud kasih sayang Allah (Rahman), agar manusia tak melampaui batas, sebagai bagian dari antropomorfis (manusia bagian dari semesta), yang kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi, ditinggikan seranting, didahulukan selangkah, dari makhluk Allah yang lain, lewat anugerah akal budi. Bahwa sebagai khalifah, selayaknya memelihara dan mengayomi segenap makhluk.

Perubahan ke arah antropocentris (manusia sebagai pusat, berkuasa atas makhluk lain), dan eksploitasi yang tak terperikan terhadap makhluk Allah yang lain, ke segenap alam ciptaan Tuhan, menjadi semacam penyelewengan atas anugerah yang diterima.

Pergerakan wabah dimulai dari negara-negara adidaya, sejak dari Tiongkok, Rusia, lalu berkembang ke Eropa: Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, dan membangun momok pula dalam diri kita di Indonesia. Segenap produksi manusia, dalam berbagai bentuk terguncang. Manusia terkungkung di balik tembok-tembok perlindungan, mengerangkeng diri sendiri.

Dunia dilanda terror dari mahkluk yang bahkan tak terlihat mata. Mereka yang ingin menguasai perekonomian dunia, politik dunia melebihi kekuasan Allah, mereka yang tak mempercayai adanya kekuasaan lain di luar yang mereka jalankan, berkat berkah akal budi yang diterima dari pencipta. Namun mereka kehilangan tauhid dan lupa diri.

Pasukan yang tak kasat mata sesungguhnya didatangkan Allah sebagai pembanding agar kita manusia menjauhi sifat sombong dan takabur, menjauhi hal-hal yang dibenci Allah. Manusia menjauh dari tugas-tugas kekhalifahannya, pemimpin tak lagi amanah, jauh dari sikap adil, korupsi meraja lela, orang-orang kaya berlomba-lomba untuk mencari keuntungan pribadi, sementara para fakir miskin dan anak yatim dibiarkan terlantar.

Para intelektual dan kaum terpelajar sibuk dengan kemulian ilmu semata, tumbuh sebagai sosok yang berkutat pada pembenaran tunggal, tak ada orang lain selain kebenaran dari perspektif dirinya. Semua ilmu dan pengajaran telah bertendensi uang dan materi, kebajikan hanya diajarkan untuk orang lain tanpa kita mau mempraktekan dalam diri dan kehidupannya.

Pembanding dan pengingat itu, bagi tradisi budaya masyarakat Minangkabau yang berpedoman kepada syarak, tertuang pula di mamangan adatnya dalam sikap yang mawas diri, raso dibao naiak, pareso dibao turun. Mengarifi kondisi, dengan perangkat sistem keminangkabauan yang telah ada (namun mungkin sering terlupakan).

Mempercermin diri, lalu merenungkan dalam-dalam sebelum melangkah dan menempatkannya secara baik pada lingkungan yang maha luas ini merupakan salah satu instrumen yang diajarkan oleh adat Minangkabau.

Dalam adagium ini sangat jelas dinyatakan betapa pentingnya sikap mawas diri tidak sombong, ujub, merasa diri superior, hebat, dan lebih berkuasa.

Bila Minangkabau menerima Islam sebagai agama kebenaraan. Dalam menyikapi wabah ini, mungkin kita dapat menghadapinya cara yang berbeda. Melalui datangnya wabah, bisa jadi tungku tigo sajarangan, parik paga, dan perangkat adat lainnya dapat lebih berfungsi secara efektif.

Di dalam kaum dan korong kampuang di masyarakat komuunal, satu sama lain saling mengenal. Kita akan dapat tahu dengan mudah bila ada pendatang yang berada di wilayah kita, sehingga dapat dideteksi dengan mudah bila ada orang luar yang masuk dan berkemungkinan menjadi pembawa virus, tanpa harus menghentikan aktivitas sosial secara massif dan tidak perlu berhenti datang ke surau atau mesjid.

Penerapan perlindungan atas masyarakat sesuai dengan prosedur kesehatan juga dapat terjaga, dengan penerapan kearifan tardisi, menyediakan Cibuak (air dan gayung untuk membersihkan diri sebelum masuk rumah) yang secara tradisional hidup dalam keseharian masyarakat dan mulai bergeser, dapat dihidupkan kembali. Dengan berfungsinya perangkat adat, dapat memberi penerangan dan pengayoman terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Bila ini tak terpakaikan alamat dia akan direndahkan beranting-ranting dan ditinggalkan dalam banyak langkah.

Bila perangkat adat yang ditinggikan seranting, didahulukan selangkah tidak berlari meninggalkan kaum yang dipimpinnya, dan mampu mewujudkan praktik raso jo pareso, melalui kehalusan budi dan ketajaman berpikir, maka kita dapat menjadikan peristiwa ini sebagai dinamika alam, sebagai Rahman, kasih sayang dan untuk menjadi petunjuk bahwa tak ada yang melebihi kekuasaan Allah. Berhentilah menuhankan diri sendiri dengan segala kesombongan yang dimiliki selama ini. (*)


Syuhendri Dt Siri Marajo

Pamong Budaya Disbud Sumbar