Wajah Bahasa di Media Kita

Oleh:

Holy Adib

Mahasiswa Pascasarjana Linguistik Universitas Andalas, Pengamat Bahasa Media

Wajah bahasa Indonesia di media massa kita hari ini, terutama di media siber (online),tercoreng oleh banyaknya kesalahan berbahasa. Keharusan untuk menulis berita dengan cepat dituduh sebagai kambing hitam penyebab noda tersebut. Benarkah demikian? Apa yang sebenarnya terjadi? Sebelum saya mengemukakan sumber kesalahan itu, lihatlahbeberapa contoh kesalahan berbahasa yang sering terdapat dalam berita.

Kesalahan berbahasa di media massa yang paling sering terjadi sepanjang amatan saya, antara lain, kesalahan sintaksis dan kesalahan diksi (pilihan kata). Kesalahan sintaksis contohnya: Dituduh mencuri mobil, polisi mengejar Andi. Kalau kalimatnya begitu, yang dituduh mencuri mobil ialah polisi. Padahal, wartawannya bermaksud menulis Andi sebagai orang yang dituduh mencuri mobil. Jika maksudnya begitu, kalimat yang tepat ialah dituduh mencuri mobil, Andi dikejar polisi.

Dalam kalimat itu terdapat dua klausa: Andi dituduh mencuri mobil dan Andi dikejar polisi. Satu subjek (Andi) dilesapkan setelah kedua klausa itu dijadikan satu kalimat. Contoh lain kesalahan sintaksis: Pencuri berhasil ditangkap polisi. Kalimat itu berarti bahwa si pencuri berkeinginan untuk berhasil ditangkap polisi karena kata berhasil mengandung makna keinginan/niat/rencana/maksud/harapan.

Jika faktanya tidak begitu, pencuri tidak berkehendak ditangkap polisi (pada umumnya memang pencuri tidak ingin ditangkap polisi), kata berhasil dalam kalimat tersebut seharusnya dihapus. Dalam kalimat seperti itu tampaknya kata berhasil hanya cocok disandingkan dengan kata kerja aktif (menangkap), bukan kata kerja pasif (ditangkap). Dengan demikian, kalimatnya menjadi begini: Polisi berhasil menangkap Andi.Kalau diurai, kalimat itu terdiri atas dua klausa: Polisi berhasil dan polisi menangkap Andi.

Sementara itu, kalimat Pencuri berhasil ditangkap polisimenjadi klausa ini kalau dibedah: Pencuri berhasil danpencuri ditangkap polisi. Padahal, yang berhasil ialah polisi, bukan pencuri. Adapun kesalahan diksi, misalnya, menyamakan patah semangat dengan patah arang, seperti dalam kalimat ini: Tim Semen Padang tidak patah arang meskipun satu pemainnya diberi kartu merah. Patah arang artinya sudah putus sama sekali; tidak dapat didamaikan lagi (tentang persahabatan, percintaan, dan sebagainya).

Tentu saja maksud wartawan yang menulis kalimat itu ialah patah semangat, bukan patah arang. Ungkapan patah arang biasanya dipakai dalam konteks hubungan, misalnya si A dan si B patah arang. Dalam bahasa Jawa disebut mutung, yakni patah hati sehingga tidak mau melanjutkan hubungan dan sebagainya. Itulah gunanya wartawan membuka kamus, salah satunya untuk memeriksa arti kata agar tidak salah tulis. Contoh lain kesalahan memilih kata atau frasa ialah menyamakan mati dengan meregang nyawa. Dalam berita kecelakaan sering kali keduanya dipertukarkan. Sebagai contoh, pada judul berita ditulistewas, sedangkan dalam isi berita disebut meregang nyawa. Akibatnya, pembaca menjadi bingung karena meregang nyawa artinya bukan 'mati', melainkan 'sekarat'.

Kesalahan-kesalahan yang demikian berakibat pada berubahnya fakta. Padahal, fakta merupakan hal yang suci dalam jurnalisme. Berubahnya fakta karena salah memilih kata membingungkan pembaca. Apabila sering bingung membaca berita di sebuah media, pembaca bahkan bisa tidak mempercayai berita yang diterbitkan media itu. Kalau pembaca sudah tidak percaya, sementara bisnis media bergantung pada kepercayaan konsumen sebagaimana bisnis lainnya, tidak tertutup kemungkinan media itu ditinggalkan pembaca sehingga tidak dipercaya oleh pemasang iklan, kemudian berujung pailit.

Yang berikut ini bukanlah kesalahan berbahasa, tetapi juga tidak boleh dilakukan dalam menulis berita, yakni mubazir menggunakan kata. Ciri bahasa jurnalistik selain jelas dan menarik ialah singkat dan padat. Oleh karena itu, wartawan perlu menerapkan hemat kata—ekonomi kata menurut wartawan senior, Rosihan Anwar. Namun, banyak kata mubazir atau lewah dalam berita.

Dalam berita kriminal, misalnya, sering terdapat kalimat boros seperti ini: Polisi menangkap kedua maling itu di dua kecamatan yang berbeda. Kalimat itu cukup ditulis sampai kata kecamatan karena dua kecamatan pasti berbeda. Tidak ada dua kecamatan yang sama. Contoh lainnya: Hukum harus ditegakkan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.Tidak perlu ditulis yang berlaku karena undang-undang yang digunakan memang undang-undang yang berlaku, sedangkan undang-undang yang tidak berlaku tidak dipakai lagi.

Dalam berita kecelakaan sering saya temukan kalimat lewah begini: Korban dilarikan ke rumah sakit untuk diberi perawatan medis. Wartawan tidak perlu menginformasikan kepada pembaca bahwa korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit untuk diberi perawatan medis karena korban kecelakaan dibawa ke rumah sakit memang untuk diberi perawatan medis, bukan untuk disuruh membersihkan kamar mandi. Begitulah beberapa contoh kalimat yang mengandung kemubaziran. Kalau contoh kalimat boros katadalam berita disebut semua, daftarnya sangat panjang.

Media massa memang mesti memberikan perhatian yang besar terhadap bahasa karena salah memakai bahasa bisa berdampak buruk. Jangankan salah menggunakan kata, salah meletakkan koma saja bisa menimbulkan masalah, bahkan mungkin membuat orang marah, seperti dua kalimat ini: (1) Menurut kabar burung, gubernur sakit. (2) Menurut kabar, burung gubernur sakit. Salah meletakkan koma saja bisa berbahaya, apalagi salah bernalar sehingga menghasilkan kalimat rancu berikut ini—semoga tidak ada media yang menuliskannya: Truk itu nyaris masuk jurang jika tidak menabrak bukit. Kalimat seperti itu tidak perlu ditulis karena berisi pengandaian nyaris bernasib buruk (nyaris masuk jurang), bukan pengandaian bernasib buruk (masuk jurang), jika tidak ada kendala (menabrak bukit).

Kalimat itu berbeda maknanya dengan kalimat ini: Truk itu masuk jurang jika tidak menabrak bukit.Mudah-mudahan saya tidak menemukan lagi kalimat tidak masuk akal seperti ini dalam berita: Persija meraih kekalahan. Seperti halnya kata berhasil, kata meraih juga mengandung niat/keinginan/maksud/harapan/rencana.

Tidak ada kesebelasan yang ingin meraih kekalahan. Kata meraih dalam kalimat itu bisa diganti dengan kata yang tidak mengandung tujuan yang baik, seperti mengalami dan menderita:Persija mengalami kekalahan; Persija menderita kekalahan. Kalau mau lebih singkat bisa ditulisPersija kalah, tetapi kalimat ini tidak menarik untuk berita olahraga meski tidak ada larangan untuk menulisnya.

Mencari Penyebab Kesalahan

Benarkah berlomba menjadi yang tercepat menerbitkan berita menjadi penyebab munculnya kesalahan berbahasa di media massa, khususnya di media siber? Saya kira tuduhan seperti itu sebuah bentuk cuci tangan pengelola media terhadap sikap abai akan bahasa selama ini. Buktinya, kesalahan-kesalahan berbahasa juga sering ditemukan di media massa cetak. Keharusan untuk menulis berita dengan cepat memang menyumbang kesalahan berbahasa di media massa. Ketergesa-gesaan dan kecepatan harus diakui mengorbankan akurasi berbahasa dan berpotensi besar menimbulkan kesalahan. Namun, sumber utama masalahnya bukan itu. Saya pikir kebanyakan media massa selama ini tidak memperhatikan pemakaian bahasa di media secara serius.

Oleh karena itu, kesalahan berbahasa yang sama terjadi di banyak media dan berulang-ulang. Jadi, sebelum buru-buru mengambinghitamkan keharusan untuk menjadi yang paling dulu menerbitkan berita sebagai penyebab kesalahan berbahasa, pengelola media siber sebaiknya bertanya kepada diri sendiri: Pernahkah memberikan perhatian kepada bahasa? Pernahkah menganggap bahasa sebagai bagian penting dari jurnalisme? Pertanyaan itu juga bisa ditanyakan kepada pengelola media cetak.

Ada beberapa solusi untuk mengurangi kesalahan berbahasa di media. Pertama, mempekerjakan redaktur bahasa. Media-media besar, seperti Kompas, majalah Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Jawa Pos, dan Republika, memiliki beberapa redaktur bahasa. Kesalahan berbahasa di media-media itu ada, tetapi minim sekali. Media-media itu bahkan mendapatkan penghargaan sebagai media berbahasa terbaik dari Badan Bahasa. Ada juga media siber yang memiliki redaktur bahasa, tetapi jumlahnya hanya satu redaktur, seperti Detik.com dan Liputan6.com. Tentu saja satu redaktur bahasa tidak cukup untuk mengedit ratusan berita yang diproduksi wartawan dalam sehari. Redaktur bahasa tidak hanya bertugas mengedit berita yang sudah disunting redaktur tiap rubrik, tetapi juga memberikan pelatihan bahasa kepada awak redaksinya secara berkala. Media-media yang mencurahkan perhatian lebih kepada bahasa tidak hanya mengandalkan redaktur bahasa dan redaktur senior untuk memberikan pelatihan bahasa kepada wartawannya, tetapi juga mengundang orang luar redaksi, seperti yang dilakukanKompas.

Kedua, tidak mempekerjakan redaktur khusus bahasa, tetapi memberikan pelatihan bahasa secara berkala kepada wartawan, baik redaktur maupun reporter. Untuk memberikan pelatihan ini, media bisa memanfaatkan anggota dewan redaksi yang memiliki pengetahuan bahasa yang cukup luas. Media juga dapat mengundang orang dari luar redaksi untuk memberikan pelatihan. Setelah itu, media melakukan evaluasi kebahasaan secara berkala untuk melihat keberhasilan pelatihan yang diberikan.

Media juga bisa memberlakukan sistem yang ketat dalam pemeriksaan bahasa, yang dimulai dari tingkat reporter, redaktur, hingga redaktur pelaksana—dan pemimpin redaksi kalau perlu. Perlu diingat bahwa menulis berita berarti melayani pembaca. Media adalah rumah, wartawan adalah tuan rumahnya, sedangkan pembaca adalah tamu.

Jika bahasa yang disajikan tuan rumah begitu belepotan, tamu merasa tidak dilayani dengan baik dan merasa tidak nyaman. Pada akhirnya muncul pertanyaan: Mengapa pembaca harus bertahan berada di media yang memberikan pelayanan buruk, sementara ada ribuan pilihan media untuk ia baca?

Akhirulkalam, persoalan pokoknya bukan ada atau tidaknya redaktur bahasa di media, melainkan pada ada atau tidaknya keinginan media untuk memperhatikan penggunaan bahasa. Saya khawatir saran-saran ini hanya tinggal sebagai saran alias tidak dilakukan oleh teman-teman pengelola media. Kalau begitu, untuk apa kita membicarakan wajah bahasa di media? (*)


Holy Adib

Mahasiswa Pascasarjana Linguistik Universitas Andalas, Pengamat Bahasa Media