Guru Besar UGM Soroti Populasi Satwa Liar, Pasar Gelap Marak dan Konservasi

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Satyawan Pudyatmoko dalam pidato ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai guru besar di UGM, Selasa (25/02/2020)
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Satyawan Pudyatmoko dalam pidato ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai guru besar di UGM, Selasa (25/02/2020) (Suara.com)

KLIKPOSITIF - Perdagangan satwa liar di Indonesia menjadi ancaman serius bagi upaya pelestarian keanegaragaman hayati.

Maraknya perdagangan satwa liar di Indonesia bahkan diklaim menurunkan populasi satwa liar hingga lebih dari 40 persen.

baca juga: Pemkab Agam Kembali Perpanjang Masa Belajar di Rumah Hingga 20 Juni

Konservasi satwa liar di Indonesia menghadapi tantangan yang berat. Upaya negara untuk melakukan konservasi terbilang masih sangat rendah, tidak hanya di tingkat masyarakat namun juga para pengambil kebijakan.

"Pasar gelap satwa liar adalah bisnis yang sangat menguntungkan setelah obat-obat terlarang, persenjataan dan barang-barang palsu di Indonesia," ungkap Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Satyawan Pudyatmoko dalam pidato ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai guru besar di UGM, Selasa (25/02/2020).

baca juga: Arsul Sani: Polri Harus Hati-Hati dalam Upaya Paksa Penindakan Non Jatras

Padahal, menurut Satyawan, keanekaragaman hayati berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan manusia. Lebih dari separuh populasi manusia di dunia tergantung pada keanekaragaman hayati.

Satyawan juga memaparkan, nilai laju kepunahan keanekaragaman hayati saat ini berkisar dari 100 hingga 1000 kepunahan per sejuta spesies dalam setahun. Sekitar 10-30 persen spesies mamalia, burung dan amfibi juga ikut terancam punah.

baca juga: Gede Widiade Ungkap Wacana Pembentukan Operator Baru Liga 2

Lebih lanjut, Satyawan menjelaskan pentingnya keberadaan satwa liar sebagai salah satu faktor keberlangsungan populasi manusia. Satwa liar juga ikut berkontribusi besar pada perkembangan ilmu kesehatan dan memberikan kemaslahatan bagi manusia.

"Etika konservasi harus menjadi pemandu dalam pengambil keputusan karena tidak mudah mendamaikan konflik-konflik kepentingan dalam perebutan ruang hidup antara satwa liar dan manusia dalam realitas sosio-ekonomi Indonesia," ujar Satyawan. (*)

baca juga: Legislator Kritik Syarat Pengajuan Calon Kepala Daerah pada Draft RUU Pemilu

Sumber: Suara.com

Editor: Eko Fajri