Dituding Diskriminasi Qari Daerah, LPTQ Sumbar: Jangan Telan Informasi itu Mentah-mentah

Sejumlah peserta seleksi protes ke pengurus LPTQ Sumbar
Sejumlah peserta seleksi protes ke pengurus LPTQ Sumbar (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Setelah video diskriminasi pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) terhadap belasan calon kafilah Sumbar yang mengikuti seleksi menjadi kafilah pas Musabaqah Tilawatil Quran ( MTQ ) 2020, pengurus bersama Pemprov Sumbar langsung menggelar rapat.

Ketua LPTQ Sumbar Nasrul Abit mengatakan, masyarakat jangan cepat percaya dengan informasi semacam itu. Sebab tidak mungkin penyelenggara melakukan hal tersebut.

baca juga: Indonesia Mengaji, Masuk 8 Besar akan Dikirim ke Lomba MTQ Internasional

"Tidak benar itu, mereka terburu-buru menyampaikannya di media sosial, kita belum menetapkan peserta," sebut Nasrul Abit.

Disebutkannya, pihaknya tidak akan main-main dengan penetapan peserta tersebut. Karena memang ada sejumlah calon peserta, kemudian dinilai ternyata tidak sesuai target. Sementara ada peserta lainnya yang nilainya bagus, cuma sedang berada di luar Sumbar.

baca juga: Gubernur Sumbar Usulkan MTQ Nasional ke-28 Ditunda

"Mereka juga anak-anak kita, hanya saja sedang berada di luar dan mereka yang kita panggil dari luar itu masih memiliki hubungan darah dengan Sumbar," sebutnya.

Dijelaskannya, hingga kini LPTQ Sumbar belum memutuskan nama-nama qari yang akan mewakili Sumbar pada MTQ nasional 2020. Kali ini Sumbar sendiri yang menjadi tuan rumah.

baca juga: Launching MTQ Nasional XXVIII di Sumbar Resmi Ditunda

"Proses masih panjang, cuma mereka ini sudah merasa. Tidak mungkin kami membedakan, masa iya anak kita tidak diberi vitamin sementara yang dari luar diberi. Ndak mungkin lah, percayakan proses ini kepada kami, kalau mereka bagus pasti diloloskan tim penilai," terangnya.

Untuk diketahui, beredar video dan tulisan di sejumlah media sosial diberi judul, "Ada Apa dengan LPTQ Propinsi Sumbar?"

baca juga: Pandemi COVID-19, Event Nasional di Sumbar Terancam Diundur

Informasi itu berisikan
sejumlah calon qari menyatakan mundur dari dunia per- MTQ -an Sumbar jika masih ada peserta luar yang dibawa ke Sumbar untuk dijadikan kafilah Sumbar

"Kami juga sudah muak dengan drama-drama yang sudah dimainkan LPTQ Sumbar", dalam tulisan itu.

Disebutkannya ada 12 calon qari-qariah yang yang kecewa dengan sikap LPTQ. Kedua belas pemuda dan pemudi itu adalah para putra/putri daerah Sumbar yang berkiprah di dunia kaligrafi. Hari ini, mereka mengundurkan diri karena tidak tahan dengan berbagai kezaliman yang dilakukan oleh oknum LPTQ.

"Beberapa bulan terakhir, kami memang mengikuti seleksi nasional untuk MTQ Nasional di Sumatra Barat. Namun, setiap kali seleksi demi seleksi dilalui, selalu ada kejanggalan-kejanggalan yang membuat kami gelisah. Salah satunya adalah dimasukkannya orang luar Sumbar untuk dijadikan kafilah Sumbar. Itu artinya, Kafilah Sumbar nantinya akan didominasi oleh orang luar Sumbar.

Pengurus menyiasatinya dengan memindahkan data (KK atau KTP) mereka ke Sumbar, sehingga putra/putri daerah Sumbar tidak bisa ikut mewakili daerahnya di ajang MTQ Nasional nanti.

Menyedihkan, bukan Putra/Putri daerah Sumbar harus ikhlas memberikan kursinya pada orang luar demi prestasi yang semu itu? Demi prestasi yang belum jelas.

Sumbar dijadikan tuan rumah, tapi putra/putri daerahnya hanya bisa menonton putra/putri daerah lain berlaga di rumah sendiri, pun mewakili rumah mereka sendiri. Semuanya demi cecunguk-cecunguk yang menjadikan MTQ sebagai lahan bisnis mereka.

Beberapa ketidakadilan yang dilakukan oleh LPTQ Sumbar diantaranya, pertama, anak luar diberikan vitamin, putra daerah di diskriminasi. Dimuliakan dg honor yang besar, bahkan pelatih Sumbar bersedia beriuran untuk melayani peserta asing, sementara peserta asli daerah yg tinggal di luar daerah tanpa uang saku. Tambah banyak pelatihan, tambah miskin. Dan masih banyak diskriminasi lain: tiket pesawat Yufil (peserta mushaf PA) dipersulit. Tiket Putri Sairah Laifa gak ada disebabkan habis kuota, kata oknum LPTQ

Kedua, peserta luar didampingi oleh pelatih yang fokus pd peningkatan kemampuan mereka, sementara peserta asli daerah tidak didampingi.

Ketiga, peserta luar yang diajak itu, tidak lah lebih baik dari peserta Sumbar, kecuali penilaian dari oknum.

Pelatih Pusat (juga hakim Nasional) yang punya kompetensi menganggap putra daerah berpotensi dan berkembang. Keluhan itu ditulis dengan terntanda calon kafilah Sumbar. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir