BPS : Kemiskinan Pessel Peringkat Empat Tertinggi di Sumbar

Gambar persentase angka kemiskinan Pesisir Selatan dari 19 kabupaten/kota di Sumbar 
Gambar persentase angka kemiskinan Pesisir Selatan dari 19 kabupaten/kota di SumbarĀ  (KLIKPOSITIF/Kiki Julnasri)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Badan Pusat Statistik ( BPS ), mencatat selama dua tahun terakhir, peringkat kemiskinan Pesisir Selatan berada di tingkat ke-empat tertinggi dari 19 kabupaten/kota di Sumbar.

Kepala Kantor BPS Painan, Yudi Yos Elvin mengungkapkan, pemicu utama tingginya angka kemiskinan di daerah itu dikarenakan anjloknya harga sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.

baca juga: Kisah Perantau Minang Tak Bisa Pulang dari Malaysia

"Karena memang sebagian besar, masyarakat Pesisir Selatan bergerak di sektor pertanian dan perkebunan," ungkapnya kepada KLIKPOSITIF .

Berdasarkan data BPS Pesisir Selatan , angka kemiskinan pada tahun 2018 tercatat mencapai 7,59, dengan jumlah penduduk miskin 34.924 jiwa dan sedikit turun dibandikang tahun 2017 mencapai 7,79 persen.

baca juga: Satu Pasien COVID-19 Asal Pessel Dinyatakan Sembuh

Sedangkan peringkat pertama adalah Kepulauan Mentawai. Kemudian disusul Kabupaten Solok dan diikuti Kabupaten Padang Pariaman.

Sebagian besar penduduk miskin itu, lanjutnya, adalah mereka yang berprofesi sebagai buruh tani, buruh perkebunan dan nelayan kecil.

baca juga: Satgas BUMN Salurkan Bantuan Penanganan COVID di Pessel

Mereka tersebar di kawasan pedesaan. "Jadi hasil produksi yang mereka terima lebih rendah dari biaya hidup yang dikeluarkan," terangnya.

Untuk itu, hendaknya pemerintah daerah membuka lapangan kerja sektor formal. Sebab, sebagian besar ketenagakerjaan di daerah ini masih bergerak di sektor non formal.

baca juga: Jelang Lebaran, Ribuan Anak Yatim dan Piatu di Pessel Dapat Santunan dari Baznas

Selain itu, ulasnya berupaya meningkatkan harga jual komoditi unggulan daerah. Sebagai contoh, mendorong percepatan tumbuhnya sektor primer.

Jika tidak, dikhwatiran angka kemiskinan di kabupaten paling ujung pantai barat Sumatera itu makin tinggi. "Karena ketidakpastian perekonomian global," tutupnya.

[Kiki Julnasri]

Penulis: Iwan R