Pulang Kampung, Aqua Dwipayana Motivasi Ribuan Mahasiswa UPI Padang

Aqua Dwipayana saat menjadi pemateri pada Seminar Nasional di UPI Exhibition Hall Padang
Aqua Dwipayana saat menjadi pemateri pada Seminar Nasional di UPI Exhibition Hall Padang (Riki S)

PADANG, KLIKPOSITIF - Motivator Nasional sekaligus pakar komunikasi Aqua Dwipayana , menyampaikan bahwa orang dihargai bukan karena pangkat dan jabatan, tapi karena dua hal yang mendasar, yaitu bagaimana menghargai orang lain dan dirinya secara profesional dan proporsional, serta bagaimana menghargai semua orang secara universal dan tulus tanpa ada embel-embelnya. 

Hal itu disampaikan Aqua Dwipayana saat menjadi motivator pada Seminar Nasional yang dihadiri dosen dan ribuan mahasiswa-mahasiswi Universitas Putra Indonesia (UPI) di Exibition Hall, Kota Padang, Kamis, 3 Oktober 2019 pagi. Dalam seminar nasional yang dibuka Ketua Yayasan UPI Padang Herman Nawas itu, juga hadiri dosen dan ribuan mahasiswa UPI Padang.

Aqua lebih lanjut menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan serta pengalaman pribadinya selama ini, orang dihargai atau tidak oleh orang lain, bukan karena jabatan, pangkat, dan hal-hal duniawi lainnya. "Semua itu sifatnya semu dan tidak kekal. Orang bisa dihargai oleh orang lain, karena dengan siapapun, dia bisa berkomunikasi dengan baik," katanya.

Baca Juga

Komunikasi sebutnya, adalah kunci sukses bagi seseorang. Komunikasi itu bisa dipelajari secara otodidak, tapi yang penting komunikasi harus dengan menggunakan hati dan berhati-hati, serta jangan sampai menyakiti orang lain. "Kepada mahasiswa dan mahasiswi UPI Padang, bangunlah komunikasi sejak dari kampus ini," ujarnya.

Tanpa komunikasi yang baik, kata Aqua melanjutkan, belum tentu mahasiswa dengan IPK 4.00, meraih kesuksesan di dunia kerja maupun dunia usaha jika dia, tidak pandai-pandai membangun komunikasi dengan orang lain. "Saya waktu kuliah S1, hanya dengan modal IPK 2,65. Tapi berkat komunikasi yang baik, alhamdulillah saya bisa seperti sekarang ini," bebernya.

Mantan Humas Semen Cibinong itu lebih lanjut menyampaikan dalam berkomunikasi, ada lima komunikasi intensif yang harus dipahami dan di implementasikan saat berkomunikasi dengan lawan bicara. Pertama, hormat atau respec. Untuk itu, hargai semua orang.

Kedua, bagaimana merasakan apa yang dirasakan orang lain atau disebut dengan empati. Ketiga, harus menggunakan filosfi orang Minang, yaitu 'di mana bumi dipijak di situ langit di junjung. "Jadi, di mana pun kita berada, kita harus bisa menyesuaikan diri," ujarnya.

Di Sumatera Barat, ada filosofi alam takambang jadi guru. "Jadi begitu kita bangun tidur apapun yang kita rasakan, kita lihat dan kita dengar, adalah pelajaran bagi kita," sambung mantan wartawan Nasional beradarah Minang yang merupakan putra dari Syaifuddin dan  Asmi Samad, perantau Minang di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Kemudian yang keempat, lanjut Aqua, yaitu clarity. Maksud dari clarity adalah suatu cara berpikir di mana suatu kejelasan atau penjelasan sangat dibutuhkan untuk memahaminya. Lalu yang terakhir, rendah hati. "Apa yang kita raih sekarang karena Allah SWT. Untuk itu, teruslah kita bersyukur kepadaNya," tutur Aqua.

Konsultan komunikasi yang kini menjadi dosen di Sesko TNI itu juga menyampaikan pengalaman pribadinya kepada peserta seminar . Kata dia, 30 September kemarin, merupakan hari ke 14 tahun menjadi orang bebas merdeka dan baginya pribadi, atasannya cuma Tuhan.

Menjadi orang merdeka yang dimaksud Aqua bukan merdeka dari penjajahan, tapi menjadi titik balik bagi dirinya hingga kini menjadi orang yang mandiri dan jauh lebih baik. Pertama kali bekerja pada 27 Desember 1988, dirinya menjadi wartawan di harian Suara Indonesia Biro Malang, Jawa Timur.

Setelah di anak perusahaan harian Jawa Pos itu, dirinya berpindah-pindah kerja di berbagai media. Salah satunya Bisnis Indonesia. Kemudian, barulah bekerja sebagai Humas Semen Cibinong. Dan, pada 30 September 2005, kata Aqua, dirinya memutuskan untuk berhenti bekerja di Semen Cibinong.

"Selama bekerja, selalu ada teman yang kesannya berempati tapi menakut-nakuti. Kemudian setiap saya berhenti kerja, saya merenung atas apa yang disampaikan beberapa rekan kerja. Kata mereka, 'Aqua, kamu kalau tidak bekerja jadi wartawan tidak akan dihargai orang, begitu juga jika tidak jadi Humas Semen Cibinong, tidak akan ada orang yang menghargai kamu'.

"Kesannya, seseorang dihargai orang lain karena pekerjaannya, bukan yang lainnya, sehingga begitu berhenti bekerja otomatis penghargaan itu hilang sama sekali. Tentunya, apa yang mereka sampaikan semakin memperkuat keyakinan saya bahwa sandaran satu-satunya yang terbaik dalam hidup hanya Tuhan. Sekali lagi hanya Tuhan, bukan yang lain apalagi manusia," ujarnya.

"Saya tidak menyalahkan pendapat itu meski tidak juga membenarkannya. Itu terjadi karena selama ini banyak orang merasa besar karena bekerja di perusahaan besar. Begitu tidak kerja lagi, merasa dirinya kecil karena tidak ada yang bisa dibanggakan. Padahal setiap manusia yang sejak dalam kandungan Ibunya sudah jadi pemenang, bukan pecundang," sambung Aqua.

Sejak 1 Oktober 2005 sampai sekarang ini, Aqua mengaku terus meningkatkan kualitas dan kuantitas silaturahim. "Sejak berhenti dari Semen Cibinong, saudara-saudara saya terus bertambah. Mereka Itulah yang selama ini banyak memberikan rejeki buat saya. Bagi saya rejeki tidak semata-mata uang. Itu bagian kecil dari rejeki," katanya.

Paling utama adalah kesehatan yang prima, memiliki banyak teman dan saudara di berbagai kota di dunia, mendapatkan banyak amanah dari individu dan institusi, dan terakhir dalam bentuk materi. "Alhamdulillah, 14 tahun jadi orang bebas merdeka dengan atasan satu-satunya hanya Tuhan, saya sudah mendapatkan semua rejeki itu. Hal tersebut membuktikan Tuhan sangat baik pada saya sekeluarga," ujarnya.

Ia menambahkan, undangan sharing komunikasi dan motivasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri semakin meningkat. Bahkan, sebagian terpaksa ditolak, karena waktunya bersamaan. Begitu banyaknya undangan sharing komunikasi dan motivasi, bagi Aqua, waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 365 hari dalam setahun menjadi kurang.

"Terkadang dalam sehari bisa sharing hingga tig sesi. Bahkan pernah empat sesi di tempat yang berbeda-berbeda. Alhamdulillah, saya begitu mensyukuri nikmat hidup dan rezeki yang diberikan Allah, karena sekali lagi saya katakan bahwa Allah adalah atasan bagi saya, gak ada yang lain. Saat ini, saya begitu merdeka menjadi orang," ucap Aqua Dwipayana .

Kepada mahasiswa dan mahasiswi UPI Padang, Aqua menekankan bahwa harus yakin pada kemampuan diri. Kesadaran dan keyakinan itu perlu terus-menerus dimunculkan sebagai motivasi untuk menjadi diri-sendiri, apalagi dalam diri setiap manusia ada "raksasa" yang sedang tidur nyenyak dan harus segera dibangunkan. "Raksasa" itu adalah potensi diri," unggkap Aqua.

Terkait dengan Seminar Nasional yang dihadiri Aqu Dwipayana sebagai pemateri, Ketua Yayasan UPI Padang Herman Nawas mengaku senang atas sharing yang diberikan Aqua Dwipayana kepada mahasiswa dan mahasiswi UPI Padang. Ia berharap seminar nasional ini, dapat menjadi paluang dan semangat untuk mahasiswa, terutama untuk menjadi entrepreneur.

"Apa yang disampaikan Pak Aqua adalah pesan bagi kita semua, terutama mahasiswa UPI Padang. Untuk itu, bangun komunikasi dengan siapapun mulai dari kampus ini. Meskipun kita pandai kalau tidak bisa membangun komunikasi tidak akan sukses. Kunci kesusksesan adalah pandai membangun komunikasi. Para mahasiswa yang kelak menjadi entreprenuer, harus pandai-pandai membangun komunikasi dengan siapapun," katanya.(*)

Baca Juga

Penulis: Riki S

Video Terbaru

Sumbar Kesulitan Solar

YouTube channel KlikPositif.com